Analisis Puisi:
Puisi “Sajak Akhir Tahun” menampilkan potret kehidupan domestik dan sosial yang sederhana, namun sarat renungan. Melalui tiga bagian pendek, penyair menghadirkan momen-momen keseharian yang lazim terjadi di penghujung tahun: permainan masa kanak-kanak, harapan dalam keluarga, dan hiruk-pikuk lingkungan. Kesederhanaan inilah yang justru membuka ruang refleksi tentang usia, kedewasaan, dan waktu yang terus berjalan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup dan pertambahan usia dalam lingkup keluarga dan sosial. Akhir tahun dijadikan latar untuk merenungkan perubahan diri, harapan akan masa depan, serta pertanyaan tentang kedewasaan manusia.
Puisi ini bercerita tentang tiga fragmen kehidupan. Bagian pertama menggambarkan suasana sederhana: angin, jendela, dan anak-anak bermain sepeda, yang berujung pada kesadaran bahwa waktu terus menua. Bagian kedua berfokus pada relasi suami-istri dan harapan akan kelahiran anak, disertai kegelisahan karena usia yang dianggap terlalu muda. Bagian ketiga menampilkan hiruk-pikuk keluarga besar, dengan pertanyaan reflektif tentang kapan seseorang benar-benar dewasa.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa hidup berjalan melalui fase-fase kecil yang sering dianggap sepele, tetapi sesungguhnya penuh makna. Permainan, tidur, harapan akan kelahiran, hingga keramaian keluarga menjadi penanda bahwa waktu bergerak tanpa menunggu kesiapan manusia. Pertanyaan “kapan orang sudah dewasa” menyiratkan kegelisahan eksistensial: kedewasaan bukan semata soal usia, melainkan sikap dan tanggung jawab.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi cenderung tenang dan reflektif, dengan sentuhan hangat kehidupan keluarga. Meski ada hiruk-pikuk, nuansanya tidak sepenuhnya pilu, melainkan mengalir seperti keseharian yang diterima apa adanya.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini mengajak pembaca untuk menerima perjalanan hidup dengan kesadaran. Usia yang bertambah, harapan baru, dan dinamika keluarga adalah bagian dari proses menjadi dewasa. Puisi ini juga mengingatkan bahwa kedewasaan tidak selalu hadir bersamaan dengan waktu, melainkan perlu dipahami dan dijalani.
Puisi “Sajak Akhir Tahun” adalah puisi reflektif yang bersahaja. Dodong Djiwapradja tidak menghadirkan ledakan emosi, melainkan mengajak pembaca berhenti sejenak di akhir tahun untuk menengok kehidupan sehari-hari, menyadari usia yang bertambah, dan merenungkan arti kedewasaan dalam lingkup paling dekat: keluarga dan diri sendiri.