Adalah Malam yang Tiba, Teramat Perlahan
Sepi daun. Kelam
tetes-tetes waktu meluncur dan jatuh
di bumi lain, arah dalam
dua warna berbimbingan
tiada lagi kata penghabisan. Pada jam
pada-Mu tersimpan kalimat-kalimat untuk dibebaskan
lidah langit.
Adalah perjanjian kekal yang tiba-tiba.
tiba: Sepi doa jadinya kita berkenalan
di ujung Saat dan masuk
semuanya sama.
Sesekali bersama
sesekali jauh di bawah khatulistiwa. Sekali menyapa
hari pun terampas, kita tinggal meraba-raba:
Sepi tiada
Sumber: Horison (Januari, 1970)
Analisis Puisi:
Puisi “Adalah Malam yang Tiba, Teramat Perlahan” karya Iman Budhi Santosa menghadirkan perenungan yang tenang sekaligus dalam tentang waktu, kesunyian, dan relasi manusia dengan Yang Transenden. Dengan bahasa yang lirih dan fragmentaris, puisi ini mengajak pembaca memasuki ruang batin yang hening, tempat kata-kata seolah kehilangan ujungnya dan makna bergerak secara perlahan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesunyian eksistensial dan perjumpaan manusia dengan waktu serta ketuhanan. Malam menjadi simbol fase kontemplatif, ketika manusia berhadapan dengan keterbatasan dirinya dan rahasia yang tak terucapkan.
Puisi ini bercerita tentang datangnya malam secara perlahan, bersamaan dengan gugurnya waktu dan kata-kata. Dalam suasana sepi, penyair dan “kita” mengalami perjumpaan yang tak riuh—sebuah perkenalan dalam sepi doa, di mana jarak, waktu, dan tempat menjadi tidak lagi tegas.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini mengarah pada kesadaran bahwa hidup adalah rangkaian perjanjian sunyi antara manusia dan Sang Pencipta. Tidak semua hal harus dituntaskan dengan kata; ada kalimat-kalimat yang “tersimpan pada-Mu” dan menunggu untuk dibebaskan pada waktu yang tepat. Kesunyian justru menjadi medium pertemuan yang paling jujur.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa hening, muram, dan meditatif. Kesan perlahan, kelam, dan sepi mendominasi keseluruhan puisi, menciptakan ruang refleksi yang dalam dan nyaris tanpa suara.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Puisi ini menyampaikan pesan bahwa manusia perlu berdamai dengan kesunyian dan ketidaktuntasan. Dalam sepi, manusia belajar meraba makna, menerima jarak, dan memahami bahwa tidak semua perjumpaan harus berlangsung dalam kejelasan penuh.
Puisi “Adalah Malam yang Tiba, Teramat Perlahan” karya Iman Budhi Santosa merupakan puisi kontemplatif yang mengajak pembaca menyelami kesunyian sebagai ruang makna. Melalui bahasa yang lirih dan simbolik, puisi ini menegaskan bahwa dalam sepi, manusia justru paling dekat dengan hakikat dirinya dan dengan Yang Maha Ada.
Biodata Iman Budhi Santosa:
- Iman Budhi Santosa pada tanggal 28 Maret 1948 di Kauman, Magetan, Jawa Timur, Indonesia.
- Iman Budhi Santosa meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2020 (pada usia 72 tahun) di Dipowinatan, Yogyakarta, Indonesia.
