Puisi: Airmata Membara (Karya Juniarso Ridwan)

Puisi “Airmata Membara” karya Juniarso Ridwan bercerita tentang kerusakan hutan dan sungai di wilayah Kalimantan (Kapuas Hulu, Kahayan, Lamandau) ...

Airmata Membara

dibelit pegunungan iban dan meratus,
pohon-pohon mencari matahari tembaga,
daun-daun menghampar sebagai rabuk,
sedangkan sungai melingkar liar.

                kemarau mengantar parau
                kuala menghisap uap payau

bukit-bukit di kapuas hulu mendesah,
suara-suara unggas seperti peluru panas,
erangan chainsaw dan bulldozer bersahutan,
kayu-kayu loging menggelepar,
awan jelaga menggigil di langit berkabut,
lubang-lubang kubur menganga,
mayat-mayat tak benama melayang di rawa-rawa:
di ujung-ujung kampung, orang-orang menggali perih:
sambil menadah guyuran airmata membara.

                udara bertabur amarah
                lautan berselimut barah

kulit tanah mengelupas dengan luka menganga,
pohon-pohon bakau menggelepar nanar,
ikan-ikan menimbun bangkai televisi di perutnya,
kahayan dan lamandau menderita demam mengigau:

sambil menadah guyuran airmata membara.

2004

Sumber: Airmata Membara (Kelir, 2014)

Analisis Puisi:

Puisi “Airmata Membara” karya Juniarso Ridwan menghadirkan lanskap Kalimantan yang dilanda kerusakan lingkungan dan penderitaan manusia. Melalui citraan hutan, sungai, dan aktivitas eksploitasi seperti logging dan alat berat, penyair menggambarkan tragedi ekologis yang berkelindan dengan kesedihan masyarakat lokal. Puisi ini merupakan elegi terhadap alam yang terluka dan manusia yang menderita.

Tema

Tema puisi ini adalah kerusakan lingkungan dan penderitaan manusia akibat eksploitasi alam. Tema ini tampak dari gambaran hutan yang rusak, sungai tercemar, serta masyarakat yang diliputi kesedihan dan kematian.

Puisi ini bercerita tentang kerusakan hutan dan sungai di wilayah Kalimantan (Kapuas Hulu, Kahayan, Lamandau) akibat penebangan dan industrialisasi, yang menyebabkan penderitaan alam dan manusia.

Bukit, sungai, dan hutan digambarkan seolah hidup dan terluka, sementara manusia di kampung menggali kubur dan menangis. Semua berpuncak pada metafora “airmata membara”.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa eksploitasi alam tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menghancurkan kehidupan dan martabat manusia.

Beberapa simbol penting:
  • Chainsaw dan bulldozer → kapitalisme ekstraktif.
  • Kayu logging menggelepar → alam yang disiksa.
  • Lubang kubur dan mayat → korban manusia.
  • Jelaga dan kabut → polusi dan kehancuran.
  • Airmata membara → kesedihan yang berubah menjadi kemarahan.
Puisi menyiratkan bahwa kerusakan alam adalah tragedi kemanusiaan sekaligus moral.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi terasa tragis, muram, dan penuh amarah. Kata-kata seperti luka, kubur, bangkai, demam, jelaga, dan barah menciptakan atmosfer bencana ekologis yang mencekam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat ditangkap adalah bahwa manusia harus menghentikan perusakan alam karena dampaknya menghancurkan kehidupan bersama. Puisi mengingatkan bahwa penderitaan alam akan kembali menjadi penderitaan manusia, sehingga diperlukan kesadaran ekologis dan tanggung jawab moral.

Puisi “Airmata Membara” karya Juniarso Ridwan merupakan gambaran puitik tentang kerusakan lingkungan Kalimantan dan penderitaan manusia yang ditimbulkannya. Melalui metafora “airmata membara”, penyair menegaskan bahwa tangisan alam dan manusia telah berubah menjadi api kemarahan terhadap kehancuran yang terjadi.

Juniarso Ridwan
Puisi: Airmata Membara
Karya: Juniarso Ridwan

Biodata Juniarso Ridwan:
  • Juniarso Ridwan lahir di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 10 Juni 1955.
© Sepenuhnya. All rights reserved.