Aku Bergantung pada Kabut
Aku bergantung pada kabut
Priangan lelap
kupangku dalam mimpiku
Sepi kaukah yang berderit
ketika kedua bukit itu
kudaki, perawan Sundaku?
Ketuk tilu Ketuk tilu Ketuk tilu
Kuketuk dunia
dalam regukan terakhir
di lobang pusarmu
Aku bergantung pada kabut
Priangan berdandan di telaga
Harum rambutnya duh
Ringkik kudaku duh
Ketuk tilu Ketuk tilu Ketuk tilu
Kuketuk dunia
Kuketuk!!!
Cipayung-Bogor, 1981
Sumber: Horison (Januari-Februari, 1982)
Catatan:
Ketuk tilu = Tari Rakyat Jawa Barat.
Analisis Puisi:
Puisi “Aku Bergantung pada Kabut” merupakan puisi yang kaya simbol, ritmis, dan kental nuansa kultural. B. Y. Tand memadukan lanskap Priangan, tubuh perempuan Sunda, serta unsur kesenian rakyat seperti ketuk tilu untuk membangun pengalaman puitik yang bersifat sensual, mistis, dan reflektif. Puisi ini tidak bergerak secara naratif lurus, melainkan berputar dalam pengulangan, seruan, dan gambaran alam yang berlapis makna.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ketergantungan manusia pada alam, budaya, dan hasrat eksistensial. Kabut, Priangan, dan ketuk tilu menjadi simbol keterikatan antara subjek lirik dengan tanah asal, tradisi, serta pengalaman batin yang intim. Tema lain yang menguat adalah kerinduan, pencarian jati diri, dan persatuan tubuh–alam–budaya.
Puisi ini juga menyentuh tema eros dan spiritualitas secara bersamaan, tanpa memisahkan keduanya secara tegas.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menggantungkan dirinya pada kabut di tanah Priangan. Ia memeluk wilayah itu dalam mimpi, mendaki bukit-bukit yang dipersonifikasikan sebagai “perawan Sunda”, dan memanggil dunia melalui irama ketuk tilu.
Pengulangan mantra “Ketuk tilu Ketuk tilu Ketuk tilu” menunjukkan gerak ritual, seolah penyair sedang melakukan pemanggilan, penegasan keberadaan, atau perlawanan terhadap kesenyapan dan keterasingan. Cerita dalam puisi ini bukan peristiwa konkret, melainkan pengalaman batin yang bersifat simbolik dan ritualistik.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini dapat dibaca sebagai ungkapan ketergantungan manusia pada sesuatu yang tidak sepenuhnya pasti—kabut. Kabut melambangkan ketidakjelasan, harapan rapuh, sekaligus ruang perlindungan. Dengan “bergantung pada kabut”, penyair seolah memilih bertahan pada sesuatu yang samar, bukan kepastian yang keras.
Priangan dan perempuan Sunda dapat dimaknai sebagai simbol tanah asal, identitas budaya, dan sumber kehidupan. Sementara frasa-frasa yang bersifat erotik-metaforis—seperti “lobang pusarmu”—menyiratkan kedekatan yang ekstrem antara manusia dan tanahnya, antara subjek dan asal-usulnya.
Seruan “Kuketuk dunia” menyiratkan keinginan untuk diakui, untuk mengguncang kesadaran, atau menolak diam.
Suasana dalam puisi
Puisi ini membangun suasana dalam puisi yang magis, intens, dan trance-like. Ada suasana sepi dan lelap di awal, lalu beralih menjadi bergelora, penuh seruan, dan ritmis. Pengulangan kata dan tanda seru di bagian akhir menciptakan kesan ekstase—seperti tarian atau ritual yang mencapai puncaknya.
Suasana tersebut menyerupai suasana pertunjukan rakyat atau upacara tradisional yang menggabungkan musik, gerak, dan perasaan kolektif.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyiratkan amanat / pesan bahwa manusia tidak pernah benar-benar terlepas dari akar budaya dan alamnya. Ketergantungan itu bukan kelemahan, melainkan cara bertahan dan menemukan makna. Melalui kabut, tarian, dan tanah, manusia mengenali dirinya sendiri.
Selain itu, puisi ini juga menyampaikan pesan tentang keberanian mengekspresikan diri—mengetuk dunia, meski dengan suara yang mungkin liar dan tidak rapi.
Puisi “Aku Bergantung pada Kabut” karya B. Y. Tand adalah puisi yang tidak hanya dibaca, tetapi dirasakan. Ia bergerak di antara alam, tubuh, dan budaya, menjadikan kabut sebagai tempat bergantung sekaligus ruang tafsir. Dengan kekuatan imaji, ritme, dan simbol kultural seperti ketuk tilu, puisi ini menghadirkan pengalaman puitik yang liar, intim, dan sarat identitas.
