Puisi: Aku bukan Perompak (Karya Slamet Sukirnanto)

Puisi “Aku bukan Perompak” karya Slamet Sukirnanto mengingatkan bahwa menjaga alam, budaya, dan nurani adalah bentuk keberanian tersendiri, bahkan ...
Aku bukan Perompak

Aku bukan perompak
Yang gaduh menguak riau
Menusuk-nusuk bengkalis
Menghujam batam

Aku bukan perompak
Dahaga rawa-rawa
Dahaga gerumbul dendam
Merampas nyanyi satwa
Di waduk lebat hutan

Simpanlah syairmu
Simpanlah gurindam
Simpanlah pantun sendu
Simpanlah warisan tulisan
Kata bijak dalam sulur rotan
Lumut-lumut dan getah akar

Aku bukan perompak
Aku hanya sebilah sembilu
Yang tumpul dan kaku
Tergeletak dekat layar mengibas
Melaju menuju langit biru
Mencari pijak dan jejak bisu!

Pekanbaru, Maret 1998

Sumber: Gergaji (2001)

Analisis Puisi:

Puisi “Aku bukan Perompak” karya Slamet Sukirnanto merupakan pernyataan sikap yang tegas sekaligus reflektif. Melalui larik-larik yang kuat dan penuh citraan geografis serta ekologis, penyair menghadirkan suara seseorang yang menolak tuduhan, stigma, dan kekerasan yang merusak. Puisi ini terasa seperti pengakuan batin yang lahir dari kesadaran moral dan kultural.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penolakan terhadap perusakan, penindasan, dan eksploitasi, baik terhadap alam, budaya, maupun nilai-nilai kemanusiaan. Tema lain yang menyertai adalah pencarian identitas dan sikap etis dalam menghadapi kekuasaan atau keserakahan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menegaskan bahwa dirinya bukan “perompak”, bukan pelaku perusakan yang mengganggu wilayah, alam, dan kehidupan. Ia menolak disamakan dengan kekuatan yang rakus, gaduh, dan merampas—baik terhadap tanah, satwa, maupun warisan budaya.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap pihak-pihak yang merusak alam dan budaya atas nama kepentingan tertentu, sementara yang lemah sering kali disalahkan atau disisihkan. Penyair memposisikan diri sebagai sosok kecil, bahkan “tumpul dan kaku”, namun tetap memiliki kesadaran dan nurani.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa tegang, getir, dan reflektif. Nada penolakan yang berulang memberi kesan perlawanan batin, sementara pengakuan akan kelemahan diri menghadirkan nuansa lirih dan kejujuran.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini adalah ajakan untuk menjaga alam, budaya, dan nilai-nilai luhur, serta tidak ikut menjadi bagian dari kekerasan dan perusakan. Puisi ini juga menyampaikan pesan bahwa suara kecil sekalipun memiliki hak untuk menyatakan sikap dan menjaga nurani.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora, pada “perompak” sebagai simbol perusak dan penjarah nilai.
  • Repetisi, pengulangan frasa “Aku bukan perompak” untuk menegaskan sikap dan penolakan.
  • Simbolik, pada “sebilah sembilu / yang tumpul dan kaku” sebagai lambang kelemahan sekaligus kejujuran diri.
Puisi “Aku bukan Perompak” karya Slamet Sukirnanto adalah puisi pernyataan sikap yang kuat namun tetap puitis. Dengan bahasa yang lugas dan simbolik, penyair menyuarakan kritik sosial dan ekologis tanpa harus berteriak. Puisi ini mengingatkan bahwa menjaga alam, budaya, dan nurani adalah bentuk keberanian tersendiri, bahkan ketika dilakukan dari posisi yang lemah dan sunyi.

Puisi Slamet Sukirnanto
Puisi: Aku bukan Perompak
Karya: Slamet Sukirnanto

Biodata Slamet Sukirnanto:
  • Slamet Sukirnanto lahir pada tanggal 3 Maret 1941 di Solo.
  • Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
  • Slamet Sukirnanto adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.