Puisi: Aku pun Termangu (Karya Fridolin Ukur)

Puisi "Aku pun Termangu" karya Fridolin Ukur bercerita tentang seseorang yang mengenang hari-hari yang berlalu dalam kenyamanan hidup: tidur ...
Aku pun Termangu

Menyimak ingatan hari-hari berlalu
adalah kesyanduan lembut ramah
menghembuskan bebauan dupa wangi
dari yang abadi yang masih bersemi

        aku pun termangu
        karena tahu:
        aku tak berhak bicara
        tentang harapan, semangat dan masa depan
        mereka yang terlunta dan tersiksa,
        ketika tidurku hangat di musim hujan
        terlindung aman di rumah bebas banjir,
        ketika bangun, kopi panas sudah menanti
        dan istri yang setia melayani!

Haruskah aku menderita
untuk bisa bicara untuk yang tertindas?

Haruskah aku berduka
untuk menghibur yang terluka?

Haruskah aku terpukul retak
untuk bisa memulihkan hidup tepatah?

Sebuah pemberian telah diberikan kepadaku:
kecil, tapi paripurna
sederhana, tapi sempurna
cinta yang dibasuh dengan darah;
karena cinta, aku boleh bicara,
karena cinta, aku berhak bicara,
karena cinta, aku harus bicara!
karena penyerahan pada cinta
membuat darah ini masih menderu

        Kini, dengan raga yang tambah renta
        kurangkai cinta dalam puisi yang tak pernah sempurna
        dengan jejari yang mulai gemetar di makan usia

Kini waktunya bertanya:
aku bisa berbuat apa bagi kebahagiaan sesama!

Jakarta, 24 Februari 1996
Peluncuran buku "Kurban yang Berbau Harum"

Sumber: Wajah Cinta (2000)

Analisis Puisi:

Puisi "Aku pun Termangu" karya Fridolin Ukur merupakan puisi perenungan yang kuat secara etis dan spiritual. Puisi ini menghadirkan suara batin seseorang yang gelisah oleh jarak antara kenyamanan hidup pribadi dan penderitaan orang lain. Dengan bahasa yang jujur dan penuh kesadaran moral, puisi ini bergerak dari sikap diam dan ragu menuju kesadaran untuk bersuara atas dasar cinta.

Tema

Tema utama puisi ini adalah tanggung jawab moral dan kemanusiaan dalam berbicara bagi sesama yang tertindas. Puisi ini juga memuat tema refleksi diri, solidaritas, dan panggilan etis untuk bertindak demi kebahagiaan bersama.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengenang hari-hari yang berlalu dalam kenyamanan hidup: tidur hangat, rumah aman, kopi panas, dan istri yang setia. Kesadaran akan privilese ini membuatnya termangu dan merasa tidak layak berbicara tentang harapan dan masa depan bagi mereka yang terlunta dan tersiksa. Melalui serangkaian pertanyaan retoris, penyair mempertanyakan apakah penderitaan pribadi menjadi syarat untuk membela yang tertindas, hingga akhirnya menemukan jawabannya dalam cinta yang “dibasuh dengan darah”.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap sikap diam dan apatis kaum yang hidup nyaman. Puisi ini menegaskan bahwa empati dan keberpihakan tidak harus menunggu pengalaman penderitaan yang sama. Cinta—sebagai nilai universal dan spiritual—memberi legitimasi moral bagi seseorang untuk bersuara dan bertindak bagi sesama.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa kontemplatif, gelisah, dan penuh pergulatan batin. Dari nada lirih dan termangu, suasana bergerak menuju keteguhan dan keberanian moral saat penyair menyadari panggilannya untuk berbicara dan berbuat.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah ajakan untuk tidak berdiam diri di tengah ketidakadilan. Puisi ini menyampaikan bahwa cinta menuntut tanggung jawab: untuk bersuara, untuk peduli, dan untuk bertanya secara jujur apa yang bisa dilakukan demi kebahagiaan sesama.

Puisi "Aku pun Termangu" karya Fridolin Ukur adalah puisi kesadaran dan panggilan nurani. Ia tidak berhenti pada rasa bersalah, tetapi bergerak menuju tindakan—menjadikan cinta sebagai alasan, keberanian sebagai sikap, dan kemanusiaan sebagai tujuan.

Fridolin Ukur
Puisi: Aku pun Termangu
Karya: Fridolin Ukur

Biodata Fridolin Ukur:
  • Fridolin Ukur lahir di Tamiang Layang, Kalimantan Tengah, pada tanggal 5 April 1930.
  • Fridolin Ukur meninggal di Jakarta, pada tanggal 26 Juni 2003 (pada umur 73 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.