Puisi: Al-Hallaj (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Al-Hallaj” karya Gunoto Saparie bercerita tentang kesadaran manusia akan asal-usul ilahi dan tekad untuk menyatu kembali dengan Tuhan.
Al-Hallaj

Karena berasal dari Allah
aku pun akan kembali kepadanya
karena bersumber dari Allah
aku pun akan menyatu dengannya

Aku tak sangsi, aku bersumpah
meski harus bersimbah darah
Allah, Allah, Allah, Allah, Allah
tiada lain, o, kecuali Allah…

Analisis Puisi:

Puisi “Al-Hallaj” karya Gunoto Saparie merupakan karya yang sarat spiritualitas, menampilkan pengalaman mistik seorang manusia yang menyadari asal-usulnya dari Tuhan dan bertekad untuk kembali bersatu dengan-Nya. Puisi ini terinspirasi dari tokoh sufi terkenal, Al-Hallaj, yang dikenal dengan pengabdian dan pengorbanannya dalam mengekspresikan cinta kepada Tuhan, bahkan hingga rela menghadapi kematian.

Tema

Tema puisi ini adalah spiritualitas dan penyatuan dengan Tuhan. Puisi menekankan perjalanan batin manusia untuk menyadari asal-usulnya dan kembali kepada Pencipta sebagai tujuan tertinggi.

Puisi ini bercerita tentang kesadaran manusia akan asal-usul ilahi dan tekad untuk menyatu kembali dengan Tuhan. Penulis menekankan keteguhan iman dan kesediaan menghadapi pengorbanan yang ekstrem, sebagaimana dicontohkan oleh Al-Hallaj, dalam meraih kesatuan dengan Allah. Repetisi kata “Allah” menegaskan fokus dan intensitas spiritual puisi ini.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa hidup manusia adalah perjalanan spiritual yang bersumber dari Tuhan dan tujuan akhirnya adalah kembali kepada-Nya. Keberanian menghadapi kesulitan atau pengorbanan menjadi bagian dari proses mencapai kesadaran mistik dan penyatuan dengan Yang Maha Esa.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa khidmat, intens, dan penuh pengabdian. Pengulangan kata “Allah” menciptakan efek ritmis yang membangkitkan rasa kesungguhan, keteguhan hati, dan keheningan spiritual yang mendalam.

Imaji

Puisi ini menggunakan imaji sederhana namun kuat, seperti:
  • “meski harus bersimbah darah” membangkitkan citraan pengorbanan fisik yang nyata, sekaligus simbol pengorbanan spiritual.
  • “aku pun akan menyatu dengannya” memberikan imaji kesatuan batin dan penyatuan mistik dengan Tuhan.
Puisi “Al-Hallaj” adalah puisi yang memotret perjalanan spiritual manusia menuju kesadaran dan penyatuan dengan Tuhan. Gunoto Saparie menampilkan pengabdian, keberanian, dan pengorbanan sebagai inti dari pengalaman mistik, menghadirkan puisi yang singkat namun sarat makna dan kekuatan batin.

"Foto Gunoto Saparie"
Puisi: Al-Hallaj
Karya: Gunoto Saparie

Gunoto Saparie. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  dan Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018).


Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia - Provinsi Jawa Tengah, 2018).

Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), dan Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta.  Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.