Analisis Puisi:
Puisi “Ampak-Ampak” karya Piek Ardijanto Soeprijadi menonjolkan kepekaan terhadap alam dan ritme kehidupan yang tersirat di dalamnya. Melalui citraan alam yang rinci dan puitis, pembaca diajak merasakan keterhubungan antara lanskap, waktu, dan pengalaman batin manusia.
Tema
Tema puisi ini adalah hubungan manusia dengan alam dan waktu, serta perenungan dalam kesunyian dan sepi. Puisi ini menekankan bagaimana alam yang bergerak dan bernapas dapat mencerminkan kehidupan batin, rasa rindu, dan kesadaran akan waktu yang terus bergulir.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan “ampak-ampak” — yang dapat dimaknai sebagai bayangan, cahaya, atau gelombang energi — dari puncak Gunung Lawu menuruni cemara menuju telaga pasir. Sepanjang perjalanan, ampak-ampak berinteraksi dengan alam: mengejar kupu gajah, hinggap di kembang, memantul di air, dan membawa desah yang selalu meruap. Aktivitas ini menggambarkan ritme alam yang terus bergerak dan masuk ke dalam pengalaman manusia, menebarkan perasaan sepi sekaligus keindahan.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa alam tidak hanya menjadi latar, tetapi juga bagian dari pengalaman batin manusia. Ampak-ampak yang melintas, memantul, dan berinteraksi dengan flora dan fauna seolah membawa pesan tentang perjalanan waktu, kesunyian, dan refleksi hidup. Puisi ini menekankan kesadaran akan keterhubungan antara manusia dan alam serta keselarasan yang dapat ditemui dalam perenungan dan keheningan.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa hening, meditatif, dan syahdu. Deskripsi tentang ampak-ampak yang menembus cemara, telaga, dan kembang menghadirkan nuansa tenang namun juga misterius. Ada keseimbangan antara gerak dan diam, antara cahaya dan bayangan, yang membangun pengalaman batin yang mendalam.
Imaji
Puisi ini kaya imaji visual dan sensorik:
- “ampak-ampak putih kelabu dari puncak Lawu lewat cemara mendesir” menggambarkan gerak cahaya atau bayangan yang melintas di hutan cemara.
- “ampak-ampak mengejar kupu gajah, hinggap di kembang menyadap madu” menghadirkan bayangan gerak yang lincah, alami, dan penuh warna.
- “ampak-ampak menjelma air mengaca, memantul caya menyalut pakis” menimbulkan kesan reflektif, tenang, dan meditatif.
Majas
Puisi ini menggunakan majas personifikasi dan metafora, di mana “ampak-ampak” diberi kehidupan dan gerak seperti makhluk yang aktif dan sadar. Alam diperlakukan seolah memiliki kesadaran dan suara batin, sehingga pengalaman pembaca menjadi lebih imersif.
Puisi “Ampak-Ampak” menampilkan hubungan intim antara alam dan batin manusia, melalui deskripsi rinci yang mengalir seperti musik. Piek Ardijanto Soeprijadi berhasil menghadirkan pengalaman reflektif di mana gerak alam, cahaya, dan bayangan menjadi jendela untuk memahami waktu, kesunyian, dan keindahan hidup.
Karya: Piek Ardijanto Soeprijadi
Biodata Piek Ardijanto Soeprijadi:
- Piek Ardijanto Soeprijadi (EyD Piek Ardiyanto Supriyadi) lahir pada tanggal 12 Agustus 1929 di Magetan, Jawa Timur.
- Piek Ardijanto Soeprijadi meninggal dunia pada tanggal 22 Mei 2001 (pada umur 71 tahun) di Tegal, Jawa Tengah.
- Piek Ardijanto Soeprijadi adalah salah satu sastrawan angkatan 1966.