Puisi: Ampak-Ampak (Karya Piek Ardijanto Soeprijadi)

Puisi “Ampak-Ampak” karya Piek Ardijanto Soeprijadi menonjolkan kepekaan terhadap alam dan ritme kehidupan yang tersirat di dalamnya.
Ampak-Ampak

ampak-ampak putih kelabu
dari puncak lawu
lewat cemara mendesir
turun ke telaga pasir

ampak-ampak singgah di cemarasewu
merayapi sepi dan lengang
pencar menelan waktu
menebar menerkam ruang

ampak-ampak mengejar kupu gajah
hinggap di kembang menyadap madu
tengadah ternganga alga dumilah
berlompatan burung keramat si jalak penyu

ampak-ampak menjelma air mengaca
memantul caya menyalut pakis
sampai senja
takkan habis

ampak-ampak mendekap
meneruskan ke dalam hati
desah selalu meruap
tiap waktu dalam sepi

ampak-ampak lewat cemara mendesir
selalu turun ke telaga pasir
bawa berita sepanjang hari
di cemarasewu waktu bergulat dengan sepi.

Sumber: Horison (November-Desember, 1978)

Analisis Puisi:

Puisi “Ampak-Ampak” karya Piek Ardijanto Soeprijadi menonjolkan kepekaan terhadap alam dan ritme kehidupan yang tersirat di dalamnya. Melalui citraan alam yang rinci dan puitis, pembaca diajak merasakan keterhubungan antara lanskap, waktu, dan pengalaman batin manusia.

Tema

Tema puisi ini adalah hubungan manusia dengan alam dan waktu, serta perenungan dalam kesunyian dan sepi. Puisi ini menekankan bagaimana alam yang bergerak dan bernapas dapat mencerminkan kehidupan batin, rasa rindu, dan kesadaran akan waktu yang terus bergulir.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan “ampak-ampak” — yang dapat dimaknai sebagai bayangan, cahaya, atau gelombang energi — dari puncak Gunung Lawu menuruni cemara menuju telaga pasir. Sepanjang perjalanan, ampak-ampak berinteraksi dengan alam: mengejar kupu gajah, hinggap di kembang, memantul di air, dan membawa desah yang selalu meruap. Aktivitas ini menggambarkan ritme alam yang terus bergerak dan masuk ke dalam pengalaman manusia, menebarkan perasaan sepi sekaligus keindahan.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa alam tidak hanya menjadi latar, tetapi juga bagian dari pengalaman batin manusia. Ampak-ampak yang melintas, memantul, dan berinteraksi dengan flora dan fauna seolah membawa pesan tentang perjalanan waktu, kesunyian, dan refleksi hidup. Puisi ini menekankan kesadaran akan keterhubungan antara manusia dan alam serta keselarasan yang dapat ditemui dalam perenungan dan keheningan.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa hening, meditatif, dan syahdu. Deskripsi tentang ampak-ampak yang menembus cemara, telaga, dan kembang menghadirkan nuansa tenang namun juga misterius. Ada keseimbangan antara gerak dan diam, antara cahaya dan bayangan, yang membangun pengalaman batin yang mendalam.

Imaji

Puisi ini kaya imaji visual dan sensorik:
  • “ampak-ampak putih kelabu dari puncak Lawu lewat cemara mendesir” menggambarkan gerak cahaya atau bayangan yang melintas di hutan cemara.
  • “ampak-ampak mengejar kupu gajah, hinggap di kembang menyadap madu” menghadirkan bayangan gerak yang lincah, alami, dan penuh warna.
  • “ampak-ampak menjelma air mengaca, memantul caya menyalut pakis” menimbulkan kesan reflektif, tenang, dan meditatif.

Majas

Puisi ini menggunakan majas personifikasi dan metafora, di mana “ampak-ampak” diberi kehidupan dan gerak seperti makhluk yang aktif dan sadar. Alam diperlakukan seolah memiliki kesadaran dan suara batin, sehingga pengalaman pembaca menjadi lebih imersif.

Puisi “Ampak-Ampak” menampilkan hubungan intim antara alam dan batin manusia, melalui deskripsi rinci yang mengalir seperti musik. Piek Ardijanto Soeprijadi berhasil menghadirkan pengalaman reflektif di mana gerak alam, cahaya, dan bayangan menjadi jendela untuk memahami waktu, kesunyian, dan keindahan hidup.

Piek Ardijanto Soeprijadi
Puisi: Ampak-Ampak
Karya: Piek Ardijanto Soeprijadi

Biodata Piek Ardijanto Soeprijadi:
  • Piek Ardijanto Soeprijadi (EyD Piek Ardiyanto Supriyadi) lahir pada tanggal 12 Agustus 1929 di Magetan, Jawa Timur.
  • Piek Ardijanto Soeprijadi meninggal dunia pada tanggal 22 Mei 2001 (pada umur 71 tahun) di Tegal, Jawa Tengah.
  • Piek Ardijanto Soeprijadi adalah salah satu sastrawan angkatan 1966.
© Sepenuhnya. All rights reserved.