Puisi: Angkuh (Karya Mahdi Idris)

Puisi "Angkuh" karya Mahdi Idris adalah kritik tajam terhadap kesombongan manusia yang merasa paling benar, paling kuat, dan paling dicintai Tuhan.
Angkuh

Kau masih diam,
menatap anak-anakmu diguyur hujan
sesekali langit bergemuruh mentertawai awan
lalu engkau menunjuk ke langit
menampakkan dadamu yang bidang
menghantam badai perkasa
lalu asa membawa sepetak dadamu yang baru
terbuat dari ribuan teka-teki; abadi.

Mereka anakmu
yang menaklukkan rimba dan lautan
berduyun-duyun bawa potongan mimpi
dalam keranjang masa depan.

Ya, ada yang terluka
kelaparan dalam tumpukan lumbung padi
silih berganti waktu datang
mereka adalah anak buangan

Engkau tak mengerti,
nasib siapakah yang beruntung
hingga kau marahi Tuhan
diam-diam kau mencemburui rimba;
mengapa cinta tuhan masih di sana,
sedang laut, gemunung, seringkali meringis
perihnya terbawa ke mana-mana.

Engkau juga takkan pernah mengerti
Tuhan nan maha pemberi

Ada yang bilang kau takut mati,
jasadmu tak rela kau tebus
dengan seribuan orang suci
kau tetap abadi, kata mereka.

Benarkah kau selalu benar?
atau kebenaran tak beda padamu,
dan itu selalu benar
tak ada kesalahan bagi manusia sepertimu.

Matangkuli, 2011

Analisis Puisi:

Puisi "Angkuh" menghadirkan sosok “kau” yang besar, kuat, dan seolah tak tergoyahkan. Namun di balik citra kemegahan itu, tersimpan kegelisahan, ketidakadilan, dan relasi problematik antara kekuasaan, manusia, dan Tuhan. Puisi ini bergerak di wilayah simbolik, memadukan gambaran alam, manusia, dan spiritualitas untuk menyoal sikap angkuh yang kerap menyelimuti pihak yang merasa paling benar dan paling berhak.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keangkuhan kekuasaan dan ilusi kebenaran mutlak. Puisi ini juga memuat tema ketidakadilan sosial, relasi manusia dengan Tuhan, serta pengabaian terhadap penderitaan sesama.

Puisi ini bercerita tentang sosok “kau” yang digambarkan sebagai figur besar—pelindung sekaligus penguasa—yang memiliki banyak “anak”. Anak-anak ini adalah mereka yang bekerja, berjuang, dan membawa mimpi ke masa depan. Namun di antara mereka ada pula yang terluka, kelaparan, dan terbuang. Sosok “kau” tetap berdiri angkuh, menantang badai, menunjuk langit, bahkan memarahi Tuhan, tanpa benar-benar memahami nasib anak-anaknya sendiri.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan bahwa keangkuhan sering lahir dari posisi merasa abadi dan benar sendiri. Sosok “kau” menyamakan dirinya dengan kebenaran itu sendiri, sehingga tidak mampu melihat kesalahan atau penderitaan yang ditimbulkannya. Puisi ini juga menyiratkan kritik terhadap manusia (atau institusi) yang mengklaim cinta Tuhan, tetapi menutup mata terhadap ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi terasa tegang, muram, dan penuh ironi. Ada kemegahan yang berdiri di atas luka, serta kemarahan yang bercampur dengan kecemburuan dan ketakutan akan kefanaan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Puisi ini menyampaikan pesan agar manusia—terutama yang berkuasa—tidak terjebak dalam keangkuhan dan klaim kebenaran tunggal. Kekuasaan tanpa empati hanya akan melahirkan penderitaan. Selain itu, puisi ini mengingatkan bahwa kebenaran bukan milik satu pihak, dan keberanian mengakui keterbatasan adalah bagian dari kemanusiaan.

Puisi "Angkuh" karya Mahdi Idris adalah kritik tajam terhadap kesombongan manusia yang merasa paling benar, paling kuat, dan paling dicintai Tuhan. Melalui simbol alam dan relasi sosial yang timpang, puisi ini mengajak pembaca untuk meninjau ulang makna kekuasaan, kebenaran, dan tanggung jawab. Keangkuhan, sebagaimana ditunjukkan puisi ini, bukan hanya sikap batin, tetapi sumber luka yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Mahdi Idris
Puisi: Angkuh
Karya: Mahdi Idris
© Sepenuhnya. All rights reserved.