Puisi: Bangun, Bangun (Karya Kuntowijoyo)

Puisi "Bangun, Bangun" karya Kuntowijoyo menegaskan pentingnya kewaspadaan spiritual dan kedekatan emosional manusia dengan Tuhan, meski kehidupan ...
Bangun, Bangun

Barangkali Engkau ingin berkata
kali ini pada gugus awan:
Bangun.
Hujan akan datang juga
hutan pina itu menggeliat
menengadah pada-Mu.

barangkali sudah selesai kitab-Mu dibacakan
pendengar berkemas pulang
gelap menyapu ujung padang
mereka kembali ke rumah
menutup pintu-pintu. Tiba-tiba
Engkau campakkan isyarat:
Bangun

Apakah maksud-Mu
(Pohon randu menggugurkan daun
berlayangan di udara
kudengar risiknya)
Apalagi.
Engkau masih memanggilku juga
serasa begitu. Serasa begitu
Engkau selalu menggodaku.

Aku cinta kepada-Mu.

Sumber: Isyarat (1976)

Analisis Puisi:

Puisi "Bangun, Bangun" karya Kuntowijoyo menghadirkan nuansa spiritual dan reflektif yang mendalam, memadukan dialog batin dengan kehadiran alam sebagai simbol dan cermin dari perasaan manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah panggilan spiritual dan pengabdian manusia kepada Tuhan. Puisi ini menggambarkan pengalaman batin seorang penyair yang merespons isyarat ilahi, sekaligus menekankan pentingnya kesadaran diri dan ketundukan dalam menghadapi kekuatan yang lebih tinggi.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan. Penyair menggunakan kata “Bangun” sebagai simbol panggilan yang tak terduga, yang muncul meski kegiatan sehari-hari atau ritual keagamaan telah selesai. Ada interaksi antara dunia manusia—dengan aktivitas dan rutinitasnya—dan dunia ilahi, yang tetap mengingatkan dan menggoda penyair untuk tetap waspada dan terhubung secara spiritual.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kesadaran akan panggilan ilahi yang terus menerus hadir dalam hidup manusia, bahkan di saat yang tampaknya biasa atau rutin. Penyair menunjukkan bahwa pengalaman spiritual bukan hanya terjadi dalam ritual formal, tetapi juga dalam momen-momen keseharian yang sederhana, misalnya saat menyaksikan alam bergerak atau mendengar panggilan Tuhan.

Puisi ini juga menyinggung tentang perasaan rindu dan cinta seorang hamba kepada Tuhan, menekankan kedekatan emosional yang sifatnya personal dan intim.

Puisi "Bangun, Bangun" menegaskan pentingnya kewaspadaan spiritual dan kedekatan emosional manusia dengan Tuhan, meski kehidupan sehari-hari terus berjalan. Dengan penggunaan imaji alam yang hidup dan majas yang halus, Kuntowijoyo berhasil menekankan bahwa pengalaman religius dapat muncul di setiap momen, dan panggilan Tuhan selalu ada untuk membangunkan kesadaran dan cinta manusia.

Puisi: Bangun, Bangun
Puisi: Bangun, Bangun
Karya: Kuntowijoyo

Biodata Kuntowijoyo:
  • Prof. Dr. Kuntowijoyo, M.A.
  • Kuntowijoyo lahir pada tanggal 18 September 1943 di Sanden, Bantul, Yogyakarta.
  • Kuntowijoyo meninggal dunia pada tanggal 22 Februari 2005 (pada usia 61 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.