Bayang-Bayang
Di telaga itu bayang-bayang berenang dan menyelam
Menyelami kedalaman doa dan menangkap seekor ikan
Karena waktunya hampir malam
Ia cepat pergi sambil membawa hasil curian
"Ia bayang-bayangmu," katamu
Tuduhan membuat aku tak senang
bayang-bayangmu," tuduhku membalas tuduhan
Telaga tenggelam ke hati malam
Kami pun berdebat
Kami pun bertengkar, dan kemudian
Terpaksa jadi perkara
Pengadilan berjalan tanpa jaksa dan hakim
Tapi palu besar itu tegas berkata:
"Masing-masing kamu tak akan keberatan
Penyelam tadi disebut bayang-bayangmu
Seandainya ia tidak mencuri seekor ikan"
Kami berdua berpelukan
Seperti sadar, mahalnya kemanusiaan
Sumber: Segugus Percakapan Cinta di Bawah Matahari (2017)
Analisis Puisi:
Puisi “Bayang-Bayang” karya D. Zawawi Imron menghadirkan perenungan mendalam tentang manusia, kesalahan, dan kemanusiaan. Dengan bahasa yang simbolik dan narasi yang menyerupai peristiwa sehari-hari, puisi ini mengajak pembaca menyelami konflik kecil yang berujung pada kesadaran moral yang besar.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kemanusiaan dan pertanggungjawaban moral. Puisi ini menyoroti bagaimana manusia cenderung melempar kesalahan kepada pihak lain, bahkan kepada “bayang-bayang” yang sejatinya merupakan bagian dari diri sendiri. Selain itu, tema keadilan dan nurani juga terasa kuat, terutama ketika konflik diselesaikan bukan melalui kekuasaan formal, melainkan kesadaran batin.
Puisi ini bercerita tentang sebuah peristiwa di telaga, ketika bayang-bayang digambarkan berenang dan menyelam, lalu mencuri seekor ikan. Peristiwa tersebut memicu tuduhan antara “aku” dan “kau”, masing-masing mengklaim bahwa bayang-bayang itu milik pihak lain. Tuduhan berkembang menjadi pertengkaran dan perkara, seolah-olah dibawa ke pengadilan.
Namun pengadilan yang digambarkan sangat tidak lazim—tanpa jaksa dan hakim. Hanya ada palu besar yang memberi keputusan moral, bukan keputusan hukum formal. Akhirnya, kedua tokoh menyadari nilai kemanusiaan dan memilih berdamai.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini terletak pada simbol “bayang-bayang” sebagai representasi sisi gelap atau kesalahan manusia. Bayang-bayang tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu mengikuti tubuh pemiliknya. Dengan demikian, puisi ini menyiratkan bahwa kesalahan yang terjadi sejatinya berasal dari diri sendiri, bukan sepenuhnya dari orang lain.
Pencurian ikan dapat dimaknai sebagai kesalahan kecil, dosa, atau pelanggaran moral yang sering kali diperbesar oleh ego dan saling tuding. Konflik muncul bukan karena kesalahan itu sendiri, melainkan karena ketidakmauan untuk mengakui dan bertanggung jawab.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi bergerak dari kontemplatif ke tegang, lalu berakhir damai. Bagian awal terasa reflektif dengan gambaran telaga dan bayang-bayang. Ketegangan muncul saat tuduhan dan pertengkaran terjadi, menciptakan nuansa konflik batin dan sosial. Di bagian akhir, suasana berubah menjadi haru dan menenangkan ketika kedua tokoh berpelukan, menandai kesadaran bersama tentang nilai kemanusiaan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyampaikan amanat / pesan bahwa kemanusiaan lebih mahal daripada ego dan pembenaran diri. Mengakui kesalahan, sekecil apa pun, jauh lebih bermartabat daripada saling menyalahkan. D. Zawawi Imron seolah mengingatkan bahwa keadilan sejati lahir dari nurani, bukan semata-mata dari sistem hukum atau kemenangan argumen.
Selain itu, puisi ini juga menegaskan pentingnya empati dan kesadaran bahwa setiap manusia memiliki sisi terang dan sisi gelap.
Puisi “Bayang-Bayang” karya D. Zawawi Imron adalah puisi yang mengajak pembaca bercermin pada diri sendiri. Lewat konflik kecil dan simbol yang kuat, puisi ini menegaskan bahwa akar pertikaian sering kali berasal dari ketidakjujuran terhadap diri sendiri. Pada akhirnya, kesadaran akan kemanusiaan—yang digambarkan lewat pelukan—menjadi jalan keluar paling luhur dari setiap pertikaian.

Puisi: Bayang-Bayang
Karya: D. Zawawi Imron
Biodata D. Zawawi Imron:
- D. Zawawi Imron lahir pada tanggal 1 Januari 1945 di desa Batang-batang, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.