Bir Ali
Sejak pakaian ihram dikenakan
dan niat diucapkan: talbiyah menggema
mengguncang ruang dalam. Air mataku
meleleh perlahan. "Tuhanku, ini aku
si bengal. Datang memenuhi panggilan-Mu,
jangan lempar aku ke dalam kegelapan,"
begitu aku berdoa. Lalu bus pun melaju
menuju Mekah. Talbiyah tiada henti diucap
para peziarah. Sungguh pakaian yang kami
kenakan putih semata. Pakaian yang mengingat
kami pada si mati. Ya, kamilah si mati itu
yang datang memenuhi panggilan-Mu;
yang semua itu dilakukan demi diri-Mu semata
demi ampunan-Mu Yang Maha Berdiri Sendiri
2017
Sumber: Ranting patah (2018)
Analisis Puisi:
Puisi "Bir Ali" menghadirkan pengalaman religius yang intim dan jujur. Dengan latar perjalanan ibadah haji atau umrah, penyair menempatkan diri sebagai manusia biasa yang rapuh, penuh dosa, namun datang dengan kesungguhan hati memenuhi panggilan Tuhan. Bahasa yang digunakan sederhana, lugas, tetapi sarat getaran batin.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pertobatan dan kepasrahan spiritual di hadapan Tuhan. Tema lain yang mengiringinya ialah kesadaran akan kefanaan manusia, kerendahan hati, serta pencarian ampunan ilahi.
Puisi ini bercerita tentang momen awal ibadah—saat pakaian ihram dikenakan dan niat diucapkan di Bir Ali, miqat bagi para peziarah sebelum memasuki Mekah. Penyair mengalami guncangan batin: air mata meleleh, doa terucap, dan kesadaran akan dosa-dosa masa lalu muncul bersamaan dengan talbiyah yang terus menggema sepanjang perjalanan menuju Mekah.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah pengakuan akan kebengalan manusia sekaligus harapan akan rahmat Tuhan. Pakaian ihram tidak sekadar busana ritual, melainkan simbol kematian ego, status, dan kesombongan duniawi. Penyair menyadari dirinya sebagai “si mati” yang hidup kembali hanya untuk berserah kepada Tuhan.
Suasana dalam puisi
Suasana yang terasa dalam puisi ini adalah khusyuk, haru, dan penuh ketundukan. Getaran emosional muncul melalui talbiyah yang menggema, air mata yang perlahan jatuh, serta doa yang dipanjatkan dengan ketakutan sekaligus harapan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah pentingnya datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati dan kejujuran batin. Puisi ini mengingatkan bahwa ibadah bukan sekadar perjalanan fisik atau ritual, melainkan proses mematikan keakuan dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Yang Maha Esa.
Puisi "Bir Ali" karya Soni Farid Maulana adalah sajak spiritual yang kuat dan jujur. Ia tidak menampilkan kesalehan yang menggurui, melainkan kepasrahan manusia yang sadar akan dosanya dan datang dengan penuh harap pada ampunan Tuhan. Dengan bahasa yang bersih dan imaji yang konkret, puisi ini berhasil menjadikan perjalanan ritual sebagai perjalanan batin—menuju pengosongan diri dan penyerahan total kepada Yang Maha Berdiri Sendiri.
Puisi: Bir Ali
Karya: Soni Farid Maulana
Biodata Soni Farid Maulana:
- Soni Farid Maulana lahir pada tanggal 19 Februari 1962 di Tasikmalaya, Jawa Barat.
- Soni Farid Maulana meninggal dunia pada tanggal 27 November 2022 (pada usia 60 tahun) di Ciamis, Jawa Barat.
