Analisis Puisi:
Puisi “Bisik Cemara” karya Gunoto Saparie menghadirkan lanskap alam yang lirih dan muram untuk menyalurkan pengalaman batin tentang kehilangan dan kepedihan cinta. Cemara, gerimis, angin, malam, hingga sepotong bulan menjadi elemen-elemen alam yang tidak hanya berfungsi sebagai latar, tetapi juga sebagai medium pengucapan perasaan. Puisi ini bergerak pelan, seperti bisikan, namun menyimpan emosi yang dalam dan berlapis.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesedihan akibat kehilangan dan pudarnya cinta. Kesedihan tersebut tidak diungkapkan secara meledak-ledak, melainkan melalui suasana alam yang sunyi dan dingin, seolah duka itu menyatu dengan semesta.
Puisi ini bercerita tentang bisikan cemara yang hadir di tengah gerimis dan tangis, mengiringi peristiwa menghilangnya sosok “kau”. Kehilangan itu terjadi di ruang terbuka—ladang jagung—dan berlanjut ke malam yang sunyi serta “atis” (dingin). Pada bagian akhir, kesedihan menjelma menjadi puisi-puisi samar dan elegi tentang hati yang patah serta cinta yang kian pudar.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini mengarah pada pengalaman batin seseorang yang ditinggalkan tanpa penjelasan. Alam menjadi saksi bisu sekaligus penyalur emosi: cemara membisikkan duka, gerimis dan angin mempertegas rasa dingin dan kosong, sementara bulan yang “pias” menandakan harapan yang meredup. Puisi ini menyiratkan bahwa kehilangan tidak hanya berdampak pada hubungan antarmanusia, tetapi juga mengubah cara seseorang memandang dunia di sekitarnya.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa muram, sendu, dan sunyi. Gerimis, malam, dan dingin membentuk atmosfer kesepian yang kental. Kesedihan tidak hadir sebagai ratapan keras, melainkan sebagai lirih yang terus berulang, seperti bisik yang tak pernah benar-benar selesai.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah kesadaran bahwa kehilangan dan patah hati merupakan bagian dari pengalaman manusia yang paling sunyi. Puisi ini seolah mengajak pembaca untuk menerima duka, merawatnya dengan keheningan, dan membiarkannya mengalir sebagai bagian dari proses memahami cinta dan perpisahan.
Puisi “Bisik Cemara” adalah puisi yang memadukan alam dan perasaan secara harmonis. Gunoto Saparie berhasil menghadirkan duka dan kehilangan sebagai pengalaman yang tidak hanya personal, tetapi juga kosmis—seolah alam turut berbicara, berbisik, dan meratapi cinta yang telah hilang.
Karya: Gunoto Saparie
Biodata Gunoto Saparie:
Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.
Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).
Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).
Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.
Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.
Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).
Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.
Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
