Puisi: Bola (Karya Abrar Yusra)

Puisi “Bola” karya Abrar Yusra bercerita tentang seseorang yang mengidentifikasi dirinya sebagai “bola kosong”, meluncur dan meloncat di dalam bola ..

Bola


Akulah bola kosong
bola menggelinding meloncot-loncat
dalam bola kaca bening
bening lengkung biru
Tapi bola apa
menggelinding dan meloncat-loncat dalam bola

dan bola apa
di luar bola?
Bola pecah beranak bola
menggelinding meloncat-loncat
dalam bola
Ya, bola, eh:
Bola?

31/1/1985

Sumber: Horison (Juli, 1985)

Analisis Puisi:

Puisi “Bola” karya Abrar Yusra menampilkan refleksi eksistensial melalui simbol bola yang sederhana namun penuh lapisan makna. Penyair menggunakan bola sebagai metafora untuk diri, ruang, dan perputaran pengalaman, menciptakan puisi yang abstrak namun mengundang pembaca untuk merenungkan kehidupan, identitas, dan keberadaan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah eksistensi, identitas, dan kekosongan dalam pengalaman manusia. Bola menjadi simbol dari diri yang bergerak dan mengalami perputaran tanpa henti, sekaligus mempertanyakan makna keberadaannya.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengidentifikasi dirinya sebagai “bola kosong”, meluncur dan meloncat di dalam bola kaca bening. Ia mempertanyakan keberadaan dirinya sendiri—apakah identitas dan ruang yang ditempati benar-benar ada atau hanya ilusi. Bola di luar bola dan bola yang “pecah beranak bola” menggambarkan perulangan, fragmentasi, dan kesulitan menemukan makna tunggal dalam eksistensi. Puisi ini menghadirkan pengalaman manusia yang bergerak tanpa henti, tetapi tetap berada dalam lingkaran yang terbatas.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kehidupan manusia penuh dengan perputaran dan pertanyaan tentang diri. Bola yang kosong dan bergerak-loncat melambangkan ketidakpastian, keragu-raguan, dan pencarian identitas. Fragmentasi bola yang “pecah beranak bola” menyinggung kompleksitas eksistensi manusia dan kemungkinan bahwa makna hidup selalu terpecah-pecah, tidak utuh.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa abstrak, membingungkan, dan sedikit kacau. Perguliran bola, loncatan-loncatan, dan pertanyaan yang diulang menimbulkan nuansa kegelisahan sekaligus permainan reflektif yang mendalam. Pembaca diajak untuk merasakan ketidakpastian dan kesia-siaan pencarian identitas yang terus berulang.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah ajakan untuk merenungkan eksistensi diri, ruang yang kita tempati, dan bagaimana kita memaknai pengalaman yang terus bergerak. Kehidupan manusia seperti bola yang meluncur dan meloncat—kadang terkurung, kadang pecah, kadang membentuk lingkaran baru—mendorong kesadaran bahwa makna hidup bukanlah hal yang statis atau tunggal.

Puisi “Bola” adalah puisi abstrak yang menghadirkan refleksi mendalam tentang eksistensi, identitas, dan perputaran pengalaman manusia. Abrar Yusra berhasil menyederhanakan konsep eksistensi menjadi simbol bola yang sederhana, tetapi sarat makna, memaksa pembaca untuk merenungkan kehidupan, diri, dan ruang yang ditempati secara kreatif dan filosofis.

Abrar Yusra
Puisi: Bola
Karya: Abrar Yusra

Biodata Abrar Yusra:
  • Abrar Yusra lahir pada tanggal 28 Maret 1943 di Lawang Matur, Agam, Sumatra Barat.
  • Abrar Yusra meninggal dunia pada tanggal 28 Agustus 2015 di Bogor, Jawa Barat (pada umur 72 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.