Buku-Buku Waktu
Perihal rindu
Yang terjebak pada buku-buku waktu
Yang tersimpan pada pekat jelaga malam
Aku ikhlaskan
Aku larungkan pada samudra doa kala terjaga
Buih ombak di lautan
Membuncah dalam ingatan
Bagaimana awal mula cinta diciptakan
Dari segenggam lamunan
Pertemuan tanpa sengaja pada ujung Desember yang kelabu
Engkau menjelma ratu
Bidadari bermata sayu
Diam-diam berharap temu
Menuntaskan rindu
Waktu bisa begitu kejam
Tanpa ampun
Menyiksaku
Memaksaku
Mencarimu pada selasar musim
Lorong-lorong tak berujung
Kehilangan
Perihal paling mengerikan
2022
Analisis Puisi:
Puisi “Buku-Buku Waktu” karya Rudiana adalah karya yang sarat emosi dan refleksi tentang rindu, waktu, dan kehilangan. Dengan bahasa yang puitis dan imaji yang kuat, puisi ini menampilkan perjalanan batin seseorang yang terjebak dalam memori, lamunan, dan harapan yang tak terselesaikan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerinduan yang tak tersampaikan dan perjalanan waktu yang menimbulkan kesedihan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kehilangan, harapan yang tertunda, dan kekejaman waktu terhadap manusia yang merindukan seseorang.
Puisi ini bercerita tentang pengalaman batin seseorang yang rindu dan kehilangan cinta masa lalu. Rindu itu digambarkan tersimpan “pada buku-buku waktu” dan “pekat jelaga malam,” seolah kenangan menjadi arsip yang membekas di dalam diri. Buih ombak di lautan muncul sebagai pengingat awal mula cinta, pertemuan yang tak sengaja, dan harapan diam-diam untuk bertemu kembali dengan sang kekasih.
Namun, waktu digambarkan kejam—memisahkan, menyiksa, dan memaksa pencarian cinta dalam “selasar musim” dan “lorong-lorong tak berujung.” Akhir puisi menekankan bahwa kehilangan adalah bagian paling menyakitkan dari pengalaman rindu dan cinta yang tak terpenuhi.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa waktu tidak selalu berpihak pada manusia, terutama dalam hal hubungan dan cinta. Rindu yang terjebak pada memori dan lamunan menjadi simbol ketidakmampuan manusia untuk kembali ke masa lalu. Puisi ini juga mengingatkan bahwa kehilangan bukan hanya tentang orang yang pergi, tetapi juga tentang kesempatan yang hilang, pertemuan yang tertunda, dan harapan yang tak kunjung terwujud.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini cenderung melankolis, sendu, dan penuh kerinduan. Imaji malam, lautan, ombak, dan lorong-lorong tak berujung menciptakan atmosfer introspektif, di mana pembaca diajak merasakan kesepian, ketidakpastian, dan kesedihan yang dialami oleh penyair.
Puisi “Buku-Buku Waktu” karya Rudiana adalah puisi yang menekankan kerinduan, kehilangan, dan perjalanan waktu yang tak selalu adil bagi manusia. Dengan bahasa yang puitis, imaji yang kaya, dan simbol yang konsisten, puisi ini mengajak pembaca merenungkan betapa waktu dan kenangan membentuk pengalaman emosional manusia, terutama dalam menghadapi cinta, pertemuan, dan kehilangan.
Karya: Rudiana
Biodata Rudiana:
Rudiana lahir pada tanggal 19 Juli 1977 di Ciamis.
