Puisi: Bulan Tertikam Kali Lusi (Karya Suripan Sadi Hutomo)

Puisi "Bulan Tertikam Kali Lusi" karya Suripan Sadi Hutomo mengajak pembaca menelusuri lapisan-lapisan makna tentang manusia, alam, dan ...
Bulan Tertikam Kali Lusi

Bulan tertikam kali lusi
Darah bagaikan jeram niagara
Mencurah diantara kaki benua
Manusia di manapun adalah gua
Gelap pekat

Bulan membelit pokok jati
Suara jengkerik di desa Banjarsari
Suaranya oh bagaikan simponi
Di lobi hotel sang maharani
Aku catat ini

New York, 1982

Analisis Puisi:

Puisi “Bulan Tertikam Kali Lusi” karya Suripan Sadi Hutomo merupakan puisi pendek namun padat makna, dengan citraan kuat dan simbol-simbol yang tajam. Puisi ini menghadirkan benturan antara alam, manusia, dan ruang sosial dengan cara yang sugestif dan tidak literal. Pilihan diksi yang gelap dan metaforis membuat puisi ini terbuka terhadap beragam penafsiran.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keterasingan manusia dan kekerasan eksistensial dalam kehidupan modern. Tema tersebut hadir melalui gambaran alam yang terluka, kontras ruang desa dan kota, serta pernyataan tentang manusia sebagai “gua” yang gelap.

Puisi ini bercerita tentang pengamatan penyair terhadap suasana malam yang simbolik: bulan yang “tertikam” di Kali Lusi, darah yang dianalogikan dengan jeram besar, hingga pergeseran suasana dari alam dan desa menuju ruang kota modern seperti “lobi hotel sang maharani”. Semua pengamatan itu dicatat sebagai fragmen pengalaman batin penyair.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini dapat dibaca sebagai kritik dan renungan tentang manusia yang kehilangan terang batinnya. Bulan yang biasanya menjadi simbol cahaya justru digambarkan tertikam dan berdarah, menandakan kerusakan, luka, atau tragedi yang merembes ke ruang-ruang kehidupan manusia. Pernyataan “manusia di manapun adalah gua” menyiratkan bahwa di balik kemajuan dan kemewahan, manusia tetap menyimpan kegelapan, kesepian, dan naluri purba.

Suasana dalam puisi

Puisi ini membangun suasana yang muram, sunyi, dan mencekam. Kegelapan malam, darah, dan metafora gua menghadirkan nuansa kelam, sementara suara jengkerik memberi kesan sepi yang kontras dengan hiruk-pikuk ruang modern.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini dapat dipahami sebagai ajakan untuk merenungi kondisi manusia dan peradaban. Kemajuan, kemewahan, dan peradaban modern tidak serta-merta menghapus sisi gelap kemanusiaan. Manusia perlu menyadari dan menghadapi kegelapan batinnya agar tidak semakin terasing dari alam dan sesamanya.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji, di antaranya:
  • Imaji visual pada “bulan tertikam”, “darah bagaikan jeram niagara”, dan “gelap pekat”,
  • Imaji auditif pada “suara jengkerik di desa Banjarsari” yang dianalogikan sebagai simfoni,
Puisi "Bulan Tertikam Kali Lusi" karya Suripan Sadi Hutomo menunjukkan kekuatan puisi liris-simbolik dalam menyampaikan kritik dan perenungan. Dengan bahasa yang padat dan citraan yang gelap, puisi ini mengajak pembaca menelusuri lapisan-lapisan makna tentang manusia, alam, dan keterasingan di tengah peradaban modern.

Puisi Bulan Tertikam Kali Lusi
Puisi: Bulan Tertikam Kali Lusi
Karya: Suripan Sadi Hutomo

Biodata Suripan Sadi Hutomo:
  1. Suripan Sadi Hutomo lahir pada tanggal 5 Februari 1940 di Ngawen, Blora.
  2. Suripan Sadi Hutomo meninggal dunia pada tanggal 23 Februari 2001 di Surabaya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.