Puisi: Bunga yang Harum (Gubahan Abdul Hadi WM)

Puisi “Bunga yang Harum” gubahan Abdul Hadi WM mengingatkan bahwa potensi dan keindahan hidup harus dirawat dengan kejujuran, belajar, dan sikap ...

Bunga yang Harum

Si bunga yang harum
indah dan mempesona
tak lagi semerbak
ia dirampas dan dipetik dari pohonnya
lenyap warnanya yang mendatangkan bahagia
sirna semua keindahannya
layu esok dan dilupakan orang
dibuang ke tepi jalan

Kita pun akan terbuang
seperti bunga layu
dan dilupakan orang
bila culas, banyak berbohong
tak belajar dengan rajin
dan lupa menjaga diri

Kita akan layu terbuang
ke tepi jalan
dipanggang panas matahari siang.

Sumber: Mereka Menunggu Ibunya (1983)

Analisis Puisi:

Puisi “Bunga yang Harum” merupakan gubahan Abdul Hadi WM yang menggunakan simbol bunga untuk menyampaikan pesan moral tentang kehidupan manusia. Melalui gambaran bunga yang dipetik lalu layu dan dibuang, puisi ini mengajak pembaca merenungkan pentingnya menjaga diri, kejujuran, dan usaha agar hidup tidak berakhir sia-sia. Bahasa yang sederhana menjadikan puisi ini terasa seperti nasihat puitik yang mudah dipahami.

Tema

Tema puisi ini adalah nilai moral dan kefanaan hidup manusia. Puisi menekankan bahwa keindahan atau potensi manusia dapat hilang jika tidak dijaga oleh perilaku baik dan usaha yang sungguh-sungguh.

Puisi ini bercerita tentang sebuah bunga yang indah dan harum, tetapi setelah dipetik ia kehilangan keindahan, layu, lalu dibuang; keadaan itu dianalogikan dengan nasib manusia yang tidak menjaga diri dan hidupnya.

Bagian awal menggambarkan nasib bunga, sedangkan bagian berikutnya mengaitkannya langsung dengan manusia (“kita”). Dengan demikian, bunga menjadi cermin kehidupan manusia.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa manusia yang tidak menjaga moral, kejujuran, dan usaha akan kehilangan nilai dirinya dan dilupakan masyarakat.

Beberapa simbol penting:
  • Bunga harum → potensi, keindahan, dan martabat manusia.
  • Dipetik → kehilangan lingkungan atau nilai asal.
  • Layu → kemerosotan moral atau kualitas diri.
  • Dibuang ke tepi jalan → dilupakan atau tersisih sosial.
  • Panas matahari → kerasnya kehidupan.
Puisi menyiratkan bahwa nilai manusia bergantung pada sikap hidupnya sendiri.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi terasa didaktis dan reflektif. Ada nada peringatan sekaligus nasihat yang tenang, terutama ketika puisi beralih dari bunga ke “kita”, sehingga pembaca merasa diajak merenung.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan utama puisi ini adalah bahwa manusia harus jujur, rajin belajar, dan menjaga diri agar hidupnya tetap bernilai dan tidak terbuang. Puisi menegaskan bahwa keindahan atau potensi tidak cukup; perlu usaha dan moral agar tidak berakhir seperti bunga layu yang dibuang.

Puisi “Bunga yang Harum” gubahan Abdul Hadi WM menggunakan simbol bunga untuk menyampaikan pesan moral tentang nilai hidup manusia. Melalui perbandingan bunga dan manusia, puisi ini mengingatkan bahwa potensi dan keindahan hidup harus dirawat dengan kejujuran, belajar, dan sikap baik agar tidak berakhir sia-sia.

Puisi: Bunga yang Harum
Puisi: Bunga yang Harum
Gubahan: Abdul Hadi WM

Biodata Abdul Hadi WM:
  • Abdul Hadi WM (Abdul Hadi Widji Muthari) lahir di kota Sumenep, Madura, pada tanggal 24 Juni 1946.
  • Abdul Hadi WM adalah salah satu tokoh Sastrawan Angkatan '66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.