Cangak
ngak ngak ngak bunyimu di ujung senja
membawa suara ngeri datangmu dari tenggara
burung pertanda datangnya kematian
rumah siapa kan hinggapi bubungan
ngak ngak ngak bunyimu melintas rumah
kalau ada orang sakit sekeluarga jadi gelisah
terasa amat panjang malam buta
bila bunyi cangak menggores kesunyian senja
Sumber: Horison (November, 1971)
Analisis Puisi:
Puisi “Cangak” karya Piek Ardijanto Soeprijadi merupakan sajak yang bertolak dari kepercayaan tradisional masyarakat terhadap tanda-tanda alam. Dengan memusatkan perhatian pada bunyi burung cangak (bangau/heron), penyair membangun suasana ngeri dan kegelisahan kolektif yang hidup dalam budaya lisan.
Meski tampak sederhana, puisi ini menyimpan lapisan makna tentang mitos, rasa takut, dan hubungan manusia dengan pertanda alam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kepercayaan terhadap pertanda kematian dan ketakutan kolektif dalam masyarakat. Penyair mengangkat bagaimana suara seekor burung dapat memunculkan kecemasan, terutama ketika dikaitkan dengan nasib seseorang yang sedang sakit.
Puisi ini juga menyentuh tema tentang sugesti sosial dan kekuatan mitos dalam membentuk perasaan manusia.
Puisi ini bercerita tentang bunyi burung cangak di ujung senja: “ngak ngak ngak”. Suara itu datang dari tenggara dan dianggap sebagai pertanda kematian. Ketika burung tersebut melintas di atas rumah, keluarga yang memiliki anggota sakit menjadi gelisah.
Bunyi cangak seolah “menggores kesunyian senja” dan membuat malam terasa panjang. Dengan demikian, puisi ini memotret suasana batin sebuah keluarga yang dicekam kecemasan hanya karena suara burung.
Makna Tersirat
Puisi ini tidak hanya berkaitan dengan burung sebagai pertanda kematian, tetapi juga tentang bagaimana manusia sering kali dikuasai oleh ketakutan yang bersumber dari keyakinan turun-temurun.
Cangak dalam puisi ini dapat dimaknai sebagai simbol kabar buruk atau ketidakpastian hidup. Suaranya menjadi pemicu sugesti yang memperbesar rasa takut. Dengan kata lain, yang sebenarnya “menggores kesunyian” bukan hanya suara burung, tetapi kecemasan dalam hati manusia sendiri.
Puisi ini seolah menyiratkan bahwa kematian adalah bagian dari kehidupan, tetapi ketakutan terhadapnya sering kali diperbesar oleh mitos dan prasangka.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi terasa mencekam, gelisah, dan muram. Senja menjadi latar waktu yang tepat untuk menghadirkan nuansa antara terang dan gelap. Malam yang terasa panjang memperkuat kesan cemas dan tak berdaya.
Bunyi repetitif “ngak ngak ngak” juga menciptakan suasana yang mengganggu dan menekan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat / pesan yang disampaikan puisi ini dapat ditafsirkan sebagai refleksi agar manusia tidak mudah dikuasai ketakutan oleh pertanda-pertanda yang belum tentu benar. Puisi ini juga mengingatkan bahwa sugesti dan mitos memiliki kekuatan besar dalam membentuk perasaan dan suasana hati.
Selain itu, puisi ini memperlihatkan bagaimana alam dan manusia saling terhubung dalam budaya, tetapi tafsir terhadap alam sering kali dipenuhi kecemasan.
Puisi “Cangak” karya Piek Ardijanto Soeprijadi adalah puisi yang memanfaatkan bunyi, suasana senja, dan kepercayaan tradisional untuk menghadirkan ketegangan batin. Dengan bahasa sederhana namun efektif, penyair menggambarkan bagaimana satu suara burung dapat mengubah suasana sebuah rumah menjadi penuh kegelisahan.
Puisi ini membuktikan bahwa ketakutan kadang tidak lahir dari kenyataan, melainkan dari makna yang kita sematkan pada tanda-tanda di sekitar kita.
Karya: Piek Ardijanto Soeprijadi
Biodata Piek Ardijanto Soeprijadi:
- Piek Ardijanto Soeprijadi (EyD Piek Ardiyanto Supriyadi) lahir pada tanggal 12 Agustus 1929 di Magetan, Jawa Timur.
- Piek Ardijanto Soeprijadi meninggal dunia pada tanggal 22 Mei 2001 (pada umur 71 tahun) di Tegal, Jawa Tengah.
- Piek Ardijanto Soeprijadi adalah salah satu sastrawan angkatan 1966.