Capungku
capungku, terbanglah ke mana kaumau!
kau yang menetas dari telur gelisahku
kibaskan sayap-sayapmu
dan pergilah!
milikmu kolam biru
di samping pusara kakekku
capungku, kepiting di rongga dadaku
telah pindah dari paru-paru ke empedu
namun aku masih menunggu
kata-kata lahir dari rumput dan kerdip lampu
tersusun dalam lagu dengan getar yang sungguh
1978
Sumber: Madura, Akulah Darahmu (1999)
Analisis Puisi:
Puisi “Capungku” karya D. Zawawi Imron memperlihatkan kepiawaian penyair dalam merangkai simbol-simbol alam menjadi ungkapan batin yang personal dan reflektif. Dengan bahasa yang lembut namun sarat emosi, puisi ini menghadirkan capung sebagai citra kebebasan, harapan, dan proses pelepasan diri dari kegelisahan. Alam, kenangan, dan tubuh batin berpadu membentuk ruang perenungan yang intim.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pelepasan, kebebasan, dan transformasi batin. Di balik itu, puisi ini juga menyentuh tema kegelisahan kreatif, kenangan keluarga, dan kelahiran makna melalui proses permenungan.
Puisi ini bercerita tentang “capung” yang dilepaskan oleh seseorang, capung yang lahir dari “telur gelisah” dan dibiarkan terbang menuju ruangnya sendiri. Capung diarahkan menuju kolam biru di dekat pusara kakek, sehingga kisah pelepasan ini bersentuhan dengan kenangan, asal-usul, dan ikatan emosional yang dalam. Pada bagian akhir, penyair masih menunggu lahirnya kata-kata—puisi—dari alam dan denyut batinnya sendiri.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah keikhlasan untuk melepaskan kegelisahan dan membiarkan kehidupan (serta kreativitas) menemukan jalannya sendiri. Capung dapat dibaca sebagai simbol gagasan, puisi, atau harapan yang lahir dari kegelisahan batin. Sementara perpindahan “kepiting di rongga dada” menggambarkan perubahan beban emosional: luka belum sepenuhnya hilang, tetapi telah berpindah dan dipahami dengan lebih sadar.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini terasa hening, lirih, dan kontemplatif. Ada nuansa duka yang lembut, bercampur dengan ketabahan dan harapan yang pelan-pelan tumbuh, terutama dalam penantian akan “kata-kata” yang lahir dengan getar yang sungguh.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah pentingnya memberi kebebasan pada diri sendiri—dan pada karya atau harapan yang lahir dari batin—untuk tumbuh dan pergi ke ruangnya sendiri. Puisi ini juga mengajarkan bahwa kegelisahan bukan sesuatu yang harus disangkal, melainkan sumber kelahiran makna jika direnungi dengan jujur.
Puisi “Capungku” karya D. Zawawi Imron adalah puisi pendek yang padat makna. Dengan simbol capung dan bahasa yang intim, penyair mengajak pembaca menyelami proses pelepasan, kegelisahan, dan pencarian kata-kata yang jujur. Puisi ini menegaskan bahwa dari kegelisahan yang diterima dengan sadar, dapat lahir lagu—puisi—yang memiliki getar paling sungguh.

Puisi: Capungku
Karya: D. Zawawi Imron
Biodata D. Zawawi Imron:
- D. Zawawi Imron (biasa disapa Cak Imron) adalah salah satu penyair ternama di Indonesia, ia lahir di desa Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ia sendiri tidak mengetahui dengan pasti tanggal kelahirannya.