Catatan 68
Sehabis rencana
Selebihnya tiada
Kan lalu
Kan lalu
Kuasakan tanganmu
Meraih dalam waktu
Di hari kerjamu
Menunggu remangnya hari
Menunggu. Dan
Menunggu
Detik telah lewat
Dan tinggal menyentuh ragu
Kemarin yang tulis
Dalam mangu
Sebuah nyanyi
Sebuah nyanyi
Dengan mula syairnya
Semua yang kulihat
Semua kelabu.
Sumber: Horison (Agustus, 1970)
Analisis Puisi:
Puisi “Catatan 68” karya Slamet Sukirnanto menghadirkan refleksi tentang waktu, penantian, dan keraguan manusia dalam menjalani hidup. Struktur larik yang pendek dan repetitif menciptakan kesan fragmentaris, seolah catatan harian yang menangkap kegelisahan batin. Puisi ini bergerak dari rencana dan harapan menuju rasa kelabu yang menyelimuti pengalaman.
Tema
Tema puisi ini adalah penantian dan keraguan dalam perjalanan hidup, serta kesadaran akan waktu yang terus berlalu.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang setelah membuat rencana menyadari bahwa waktu terus berjalan (“kan lalu”). Ia didorong untuk meraih sesuatu dalam hidup, bekerja dan menunggu hingga hari meremang. Namun penantian itu panjang dan berulang. Ketika waktu telah lewat, yang tersisa justru keraguan dan kenangan kemarin yang samar. Pada akhirnya, pengalaman hidup itu menjadi “sebuah nyanyi” dengan nada kelabu.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa rencana dan harapan manusia sering berujung pada penantian panjang dan ketidakpastian. Waktu berjalan tanpa menunggu kesiapan manusia, sehingga yang tersisa adalah keraguan dan kenangan yang pudar.
Pengulangan “menunggu” dan “sebuah nyanyi” menyiratkan siklus hidup yang monoton: harapan, penantian, lalu kesadaran kelabu. Puisi ini mencerminkan pengalaman eksistensial manusia modern yang merasa hidupnya berlalu tanpa kepastian makna.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi terasa murung, hening, dan reflektif. Kata “remangnya hari”, “ragu”, dan “kelabu” membangun nuansa senja batin yang suram.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Puisi ini menyiratkan pesan bahwa manusia perlu menyadari keterbatasan waktu dan tidak larut dalam penantian tanpa tindakan bermakna. Hidup yang hanya menunggu dapat berakhir pada penyesalan dan keraguan.
Puisi “Catatan 68” merupakan puisi reflektif tentang waktu yang berlalu dan manusia yang menunggu dalam keraguan. Slamet Sukirnanto menampilkan kehidupan sebagai rangkaian rencana dan penantian yang berakhir dalam kesadaran kelabu. Puisi ini mengajak pembaca merenungkan makna tindakan dan waktu—bahwa hidup yang terus ditunda hanya akan menjadi nyanyian samar dari kenangan yang suram.
Karya: Slamet Sukirnanto
Biodata Slamet Sukirnanto:
- Slamet Sukirnanto lahir pada tanggal 3 Maret 1941 di Solo.
- Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
- Slamet Sukirnanto adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.