Dalam Pesawat
(Banjarmasin/Kotabaru)
Kami pandang lembah
merayap
di bawah sana
bumi pun membuhulkan uap pagi hari
awan tipis di lereng-lereng meratus
yang tidak membentengi
bayang-bayang
bertanggalan
Dan butir-butir
nadi-nadi hijau itu
merayap juga
begitu pasti
menuju laut lepas
Lepas
1980
Sumber: Malam Hujan (2012)
Analisis Puisi:
Puisi “Dalam Pesawat” karya Hijaz Yamani menghadirkan pengalaman melihat bentang alam dari ketinggian, namun tidak berhenti pada gambaran visual semata. Melalui pilihan kata yang ekonomis dan citraan yang tenang, penyair menghadirkan refleksi tentang jarak, perjalanan, dan keterlepasan manusia dari ruang asalnya.
Tema
Tema puisi ini adalah perjalanan dan keterlepasan. Puisi menggambarkan perpindahan dari daratan menuju ruang luas (laut lepas) yang dapat dimaknai sebagai perjalanan hidup, perpindahan batin, atau proses meninggalkan sesuatu yang lama menuju yang baru.
Puisi ini bercerita tentang pengalaman seseorang yang berada di dalam pesawat, memandang ke bawah ke arah lembah, lereng Meratus, dan aliran-aliran hijau yang menuju laut. Dari sudut pandang ketinggian itu, bumi tampak bergerak pelan—“merayap”—seolah alam memiliki arah pasti menuju keluasan. Pengalaman visual tersebut kemudian mengarah pada kesadaran tentang jarak dan keterpisahan.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini berkaitan dengan kesadaran akan proses menuju keterlepasan. Kata “merayap” yang berulang menggambarkan gerak lambat tetapi pasti—baik gerak alam maupun perjalanan hidup manusia. Sementara frasa “menuju laut lepas / Lepas” mengisyaratkan tujuan akhir: kebebasan, keluasan, atau bahkan pelepasan dari ikatan lama.
Dari perspektif di pesawat, manusia tampak kecil terhadap lanskap bumi, sehingga puisi juga menyiratkan kesadaran eksistensial: manusia hanyalah bagian dari arus besar kehidupan yang terus mengalir menuju ruang yang lebih luas.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi cenderung tenang, kontemplatif, dan sedikit melankolis. Pengamatan dari ketinggian menghadirkan jarak emosional, sehingga lanskap terlihat sunyi dan bergerak pelan. Kesunyian ini mendukung nuansa perenungan tentang perjalanan dan keterlepasan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat ditangkap adalah bahwa setiap perjalanan—baik fisik maupun batin—mengarah pada proses melepaskan. Seperti aliran alam yang pasti menuju laut, kehidupan manusia pun bergerak menuju tujuan yang lebih luas. Puisi mengajak pembaca menerima proses tersebut dengan kesadaran dan ketenangan.
Puisi “Dalam Pesawat” menghadirkan pengalaman sederhana melihat alam dari ketinggian, tetapi diolah menjadi refleksi tentang perjalanan dan keterlepasan. Melalui citraan lanskap dan gerak “merayap” menuju laut lepas, Hijaz Yamani menegaskan bahwa kehidupan bergerak pelan namun pasti menuju keluasan—sebuah proses yang tak terelakkan dan perlu diterima dengan kesadaran.
