Dalam Sebuah Musim
di kota
yang bising
aku merasa
terasing
di desa
yang kecil
aku merasa
terpencil
begitulah
kalau rindu dendam
terbenam dalam
dalam sekali di lubuk hati
dan pintu tertutup rapi
untuk sebuah cium pada musim
sedang musim yang memeluk bumi
tak sekali pun mengulum senyum
kepadaku
terasing
di kota yang bising
berhari-hari dalam siang tak bermatahari
terpencil
di desa yang kecil
bermalam dalam malam tak berbulan
aku pun makin mencari
matahari
dan bulan yang lain
yang mungkin membikin musim
mengulum senyum
kepadaku
yang mungkin membikin aku
mengulum senyum
kepada
musim
karena matahari cuma satu
dan bulan pun cuma satu
yang tersedia untuk bumi
yang di sini
aku pun makin dalam terbenam
dalam rindu dendam
dalam rasa terasing
di kota yang bising
dalam rasa terpencil
di desa yang kecil
Makassar, Februari 1974
Sumber: Horison (April, 1975)
Analisis Puisi:
Puisi “Dalam Sebuah Musim” karya Husni Djamaluddin menghadirkan perenungan eksistensial tentang manusia yang merasa terasing di tengah keramaian dan terpencil dalam kesederhanaan. Dengan bahasa yang lugas, repetitif, dan penuh tekanan batin, puisi ini memotret pergulatan perasaan rindu yang terpendam serta kegelisahan hidup yang tak kunjung menemukan pelabuhan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keterasingan dan kerinduan batin manusia. Puisi ini juga menyentuh tema pencarian makna hidup serta kegagalan menemukan kebahagiaan, baik di ruang kota maupun desa.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merasa tidak menemukan tempat berpijak secara emosional. Di kota yang bising, ia merasa terasing; di desa yang kecil, ia merasa terpencil. Ke mana pun ia berada, rasa sepi tetap mengikuti. Rindu dan dendam batin terpendam semakin dalam, sementara musim—yang seharusnya memberi kehidupan—tak kunjung menghadirkan senyum atau harapan.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap kondisi batin manusia modern yang kehilangan pusat ketenangan. Perubahan ruang fisik tidak serta-merta menyelesaikan kegelisahan jiwa. Kota dan desa hanya latar; persoalan sejati berada di dalam diri, pada rindu yang tak terungkap dan harapan yang tertutup rapat.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi didominasi nuansa murung, sepi, dan tertekan. Repetisi kata “terasing” dan “terpencil” menegaskan perasaan hampa yang berlarut-larut, sementara gambaran siang tanpa matahari dan malam tanpa bulan memperkuat kesan kehilangan cahaya hidup.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyampaikan amanat bahwa manusia perlu berdamai dengan batinnya sendiri. Kebahagiaan tidak selalu bergantung pada tempat atau keadaan luar, melainkan pada kemampuan mengolah rindu, luka, dan harapan agar tidak menjelma menjadi dendam yang menenggelamkan diri.
Puisi “Dalam Sebuah Musim” karya Husni Djamaluddin merupakan refleksi lirih tentang manusia yang terjebak dalam kesunyian batin. Puisi ini mengajak pembaca menyelami sisi terdalam perasaan rindu dan keterasingan, sekaligus merenungkan kembali makna pulang—bukan pada tempat, melainkan pada kedamaian diri sendiri.
Karya: Husni Djamaluddin
Biodata Husni Djamaluddin:
- Husni Djamaluddin lahir pada tanggal 10 November 1934 di Tinambung, Mandar, Sulawesi Selatan.
- Husni Djamaluddin meninggal dunia pada tanggal 24 Oktober 2004.
