Puisi: Dengan Apa Kusebut Namamu, Toraja (Karya Husni Djamaluddin)

Puisi "Dengan Apa Kusebut Namamu, Toraja" menghadapkan pembaca pada kegamangan batin ketika bahasa dan materi terasa tidak pernah cukup untuk ...

Dengan Apa Kusebut Namamu

: Toraja


dengan apa mudik ke Hulu dengan perahu memuat amal
dengan apa balik ke Asal dengan patung selamat tinggal
dengan apa pulang ke Alam dengan makam di bukit terjal
dengan apa kusebut namamudengan pesta berminggu-minggu
dengan apa kubalas budimu dengan seribu babi
        dengan seratus kerbau —
        dengan sesungai tuak —
        dengan sehutan bambu
dengan apa kulepas dikau  dengan selembah luka
        dengan segunung murung
        dengan selaut duka
dengan selangit hormat pada kerabat
        yang berangkat lebih dulu

Sumber: Horison (Oktober, 1985)

Analisis Puisi:

Puisi "Dengan Apa Kusebut Namamu, Toraja" merupakan ungkapan kontemplatif yang berangkat dari kebudayaan, ritus kematian, dan hubungan manusia dengan leluhur. Husni Djamaluddin merangkai larik-larik tanya yang berulang, seolah menghadapkan pembaca pada kegamangan batin ketika bahasa dan materi terasa tidak pernah cukup untuk membalas jasa, menghormati kematian, dan menyebut nama tanah asal dengan layak.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penghormatan kepada leluhur, duka kehilangan, dan refleksi atas nilai budaya Toraja, khususnya tradisi kematian dan pemaknaan hidup–mati. Tema ini juga bersinggungan dengan rasa utang budi, hormat, dan ketidakmampuan manusia membalas sepenuhnya jasa mereka yang telah pergi.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang bertanya pada dirinya sendiri: dengan apa ia bisa “mudik ke Hulu”, “balik ke Asal”, dan “pulang ke Alam”. Pertanyaan-pertanyaan itu berkaitan dengan ritual, simbol, dan persembahan—patung, makam, pesta berminggu-minggu, babi, kerbau, tuak, bambu—yang dalam budaya Toraja menjadi bagian dari upacara kematian. Puisi ini tidak menarasikan peristiwa secara kronologis, melainkan menghadirkan rangkaian simbol budaya sebagai ungkapan duka dan penghormatan.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan kegelisahan eksistensial: bahwa sebesar apa pun persembahan material dan ritual budaya, semuanya terasa belum cukup untuk membalas budi dan menyebut nama orang yang telah tiada dengan sepadan. Pertanyaan “dengan apa” yang diulang menegaskan keterbatasan manusia di hadapan kematian, sekaligus memperlihatkan bahwa esensi penghormatan bukan semata pada kemegahan upacara, melainkan pada kesadaran akan duka, luka, dan hormat yang tulus.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa khidmat, murung, dan penuh perenungan. Duka hadir bukan dalam tangisan keras, tetapi dalam tanya yang berulang, dalam kesadaran akan “segunung murung” dan “selaut duka”, serta dalam sikap hormat kepada kerabat yang telah berangkat lebih dulu.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi dapat dimaknai sebagai ajakan untuk memaknai tradisi dan ritual secara lebih batiniah. Puisi ini mengingatkan bahwa penghormatan kepada leluhur tidak hanya diukur dari besarnya pesta atau banyaknya persembahan, tetapi dari keikhlasan, ingatan, dan rasa hormat yang hidup di dalam diri.

Puisi "Dengan Apa Kusebut Namamu, Toraja" adalah puisi yang memadukan budaya, duka, dan refleksi filosofis. Husni Djamaluddin menghadirkan puisi yang tidak hanya merekam tradisi, tetapi juga mempertanyakan makna terdalam dari penghormatan, kematian, dan hubungan manusia dengan asal-usulnya.

Husni Djamaluddin
Puisi: Dengan Apa Kusebut Namamu, Toraja
Karya: Husni Djamaluddin

Biodata Husni Djamaluddin:
  • Husni Djamaluddin lahir pada tanggal 10 November 1934 di Tinambung, Mandar, Sulawesi Selatan.
  • Husni Djamaluddin meninggal dunia pada tanggal 24 Oktober 2004.
© Sepenuhnya. All rights reserved.