Puisi: Di Balik Matahari (Karya Surachman R.M.)

Puisi “Di Balik Matahari” karya Surachman R.M. bercerita tentang seorang suami yang berada jauh di negeri bersalju, mengenang istrinya dan ...
Di Balik Matahari

Dari balik matahari kukirimkan
salam ini
agar tiba di pangkuanmu.
Ketika pertama kali salju
turun menaburi bumi utara
kukirimkan salamku
dengan hangat dan dengan
kerinduan seorang suami.

Setelah dipisah oleh ruang dan
waktu baru aku tahu
apa arti hubungan kita
selama ini.
Begitu dekat dan dekat lagi
aku kini pada rumah pada kelahiran
dan terutama pada dirimu.

Telah kita habiskan tahun-tahun
tanpa gairah. Lewat gurun
hidup kita tanpa
bunga tanpa buah pernikahan
Kesunyian yang membatu
dipecahkan hanya sewaktu-waktu
atas hadirnya pihak ketiga
Selebihnya kita terdiam dalam gelisah
kita melayap dalam terjaga.

Dalam degup kota penuh cahaya
di sini hidupku gelita.
Dalam nafas bebas terbuka
diriku kuncup tertutup.
Di mana gerak tanpa batas, batinku
terpojok di sini dalam belenggu.
Kerna percaya akan patokan
akan ukuran yang lain
tiada lagi nilai-nilai murni dari
kemanusian. Yang kukenal
tinggal unsur-unsur yang lapas terberai
terasing dalam dunia yang ramai.

Demikianlah di hari ini
setelah gerimis salju reda
dari balik terali jendela
alam pun sagar dan serba memutih
Kumatikan bisingnya tivi dengan warna
yang menjemukan. Diriku kembali
Tapi yang kubuka adalah lembaran-lembaran lusuh
perjalanan kita. Kukenang kembali
hari-hari pertama pertemuan kita.
Dan dengan keheranan yang rusuh
aku bertanya tiba-tiba:
mengapa engkau menerima diriku
kala itu.
Tatkala kunikmati Chaikovsky
tampak bayangmu menjadi angsa
di telaga sunyi abadi.
Apakah aku akan kuasa
merubah jasadmu menjadi putri
yang asli. Apakah akan bisa
kita saling mengenal kembali nanti

Sumber: Horison (Juli, 1973)

Analisis Puisi:

Puisi panjang “Di Balik Matahari” karya Surachman R.M. menghadirkan monolog batin seorang suami yang terpisah jarak dari istrinya. Dalam ruang asing yang dingin dan modern, ia merenungkan kembali hubungan pernikahan yang pernah hambar, lalu menyadari makna kedekatan yang terlambat dipahami. Puisi ini memadukan lanskap luar (salju, kota, perpustakaan) dengan lanskap batin (rindu, penyesalan, pencarian makna cinta).

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerinduan dan refleksi atas hubungan pernikahan yang terpisah jarak serta pencarian kembali makna cinta dan kedekatan. Tema lain yang menyertai ialah keterasingan manusia modern dan kesadaran yang datang terlambat.

Puisi ini bercerita tentang seorang suami yang berada jauh di negeri bersalju, mengenang istrinya dan perjalanan pernikahan mereka. Ia mengirim salam dari kejauhan, merenungkan masa lalu pernikahan yang hambar, kesunyian yang pernah mereka jalani, dan pertanyaan tentang cinta yang dulu diterima tanpa benar-benar dipahami. Dalam keterasingannya di kota modern, ia justru merasa lebih dekat pada rumah dan istrinya.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini antara lain:
  • Jarak memunculkan kesadaran – perpisahan ruang dan waktu membuat penyair memahami arti hubungan yang dulu diabaikan.
  • Modernitas sebagai keterasingan – kota bercahaya justru membuat hidup batin gelap, menandakan krisis nilai kemanusiaan.
  • Pernikahan tanpa gairah – “gurun hidup tanpa bunga dan buah” menyiratkan hubungan yang kering, mungkin tanpa keintiman atau anak.
  • Ingatan sebagai rekonstruksi cinta – membuka “lembaran lusuh perjalanan kita” menandakan usaha menghidupkan kembali cinta yang pudar.
  • Cinta sebagai misteri – pertanyaan “mengapa engkau menerima diriku” menunjukkan keheranan atas penerimaan pasangan yang tak sepenuhnya dipahami.
Puisi menyiratkan bahwa cinta sering baru dimengerti setelah kehilangan kedekatan.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi dominan melankolis, reflektif, dan sunyi. Citra salju, perpustakaan, kota asing, dan kenangan lama menciptakan kesan kesendirian yang dalam, bercampur rindu dan penyesalan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan puisi ini adalah bahwa hubungan manusia, terutama pernikahan, perlu dipelihara dengan kesadaran dan kedekatan batin sebelum jarak dan waktu membuatnya terasa asing. Puisi juga mengingatkan bahwa modernitas tanpa nilai kemanusiaan dapat membuat manusia terasing dari cinta dan dirinya sendiri. Kesadaran akan cinta sering datang terlambat—namun tetap penting untuk diakui.

Puisi “Di Balik Matahari” merupakan elegi cinta yang terlambat disadari. Surachman R.M. menggambarkan bagaimana jarak geografis dan keterasingan modern justru membuka pemahaman baru tentang rumah, pasangan, dan kemanusiaan. Dalam kesunyian negeri bersalju, penyair menemukan kembali makna cinta yang dulu terabaikan—sebuah kesadaran pahit bahwa kedekatan sejati sering baru terasa setelah terpisah jauh.

Surachman R.M.
Puisi: Di Balik Matahari
Karya: Surachman R.M.

Biodata Surachman R.M.:
  • Surachman R.M. lahir pada tanggal 13 September 1936 di Garut, Jawa Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.