Puisi: Diri Akan Tumbang? (Karya Aspar Paturusi)

Puisi “Diri Akan Tumbang?” karya Aspar Paturusi bercerita tentang seseorang yang sedang berada di dalam bus yang melaju kencang. Dalam perjalanan ...
Diri Akan Tumbang?

bus melaju kencang
pikiranku jauh melayang
sempat teringat sandal jepit
jadi pesakitan di pengadilan

sepanjang jalan sawah menghilang
hijau kian kurang sejauh memandang
masihkah teduh di nuranimu ruang keadilan

bus terus melaju kencang
pikiranku lelah melayang
akankah kubiarkan diri tumbang?

Demak, 6 Januari 2012

Analisis Puisi:

Puisi “Diri Akan Tumbang?” karya Aspar Paturusi menampilkan refleksi singkat namun tajam tentang kegelisahan batin manusia modern. Dengan bahasa yang sederhana dan situasi sehari-hari—sebuah perjalanan bus—penyair menghadirkan kritik sosial sekaligus pertanyaan eksistensial mengenai keadilan, nurani, dan daya tahan diri menghadapi perubahan zaman.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kegelisahan moral dan krisis nurani di tengah perubahan sosial yang cepat. Puisi ini juga menyentuh tema ketidakadilan dan kelelahan batin individu yang hidup dalam sistem yang kian menjauh dari nilai kemanusiaan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang sedang berada di dalam bus yang melaju kencang. Dalam perjalanan itu, pikirannya melayang, mengingat peristiwa sosial yang ironis—“sandal jepit jadi pesakitan di pengadilan”—serta menyaksikan perubahan lanskap alam: sawah yang menghilang dan hijau yang semakin berkurang. Semua itu menjadi latar bagi pertanyaan mendasar tentang keadilan dan keteguhan diri.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini mengarah pada kritik terhadap realitas sosial yang timpang. Hilangnya sawah dan ruang hijau dapat dibaca sebagai simbol rusaknya keseimbangan alam dan kemanusiaan, sementara kasus “sandal jepit” menyiratkan ketidakadilan hukum yang sering menindas mereka yang lemah. Pertanyaan “akankah kubiarkan diri tumbang?” menjadi simbol perlawanan batin: apakah individu akan menyerah atau tetap bertahan menjaga nuraninya.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa gelisah, muram, dan reflektif. Ada rasa lelah, cemas, sekaligus ragu yang menyelimuti suara lirik, seiring laju bus yang terus bergerak tanpa henti, seperti waktu dan perubahan sosial itu sendiri.

Puisi “Diri Akan Tumbang?” merupakan renungan singkat namun kuat tentang posisi individu di tengah realitas sosial yang timpang dan perubahan yang menggerus nilai-nilai kemanusiaan. Aspar Paturusi mengajak pembaca untuk bertanya pada diri sendiri: di tengah ketidakadilan dan kelelahan zaman, apakah nurani masih akan tegak, atau justru tumbang?

Aspar Paturusi
Puisi: Diri Akan Tumbang?
Karya: Aspar Paturusi

Biodata Aspar Paturusi:
  • Nama asli Aspar Paturusi adalah Andi Sopyan Paturusi.
  • Aspar Paturusi lahir pada tanggal 10 April 1943 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.