Doa
Sebuah kartu pos bergambar Yesus
dengan luka pada lambung-Nya
saya kirimkan
"Yang,
tak ada yang lebih menyakitkan
daripada kata-kata permohonan
tak pernah kesampaian!"
Jangan aminkan!
Sumber: Horison (September, 1983)
Analisis Puisi:
Puisi “Doa” karya Adri Darmadji Woko merupakan puisi pendek yang tajam dan provokatif. Dengan larik yang sangat hemat kata, puisi ini menghadirkan ketegangan antara iman, luka, dan kekecewaan manusia. Judul yang sakral berhadapan langsung dengan isi yang menggugat, sehingga puisi ini terasa sebagai pergulatan batin yang intens, bukan doa dalam pengertian konvensional.
Tema
Tema utama puisi ini adalah krisis iman dan kegagalan doa. Puisi ini menyentuh pengalaman spiritual ketika permohonan yang dipanjatkan tidak menemukan jawaban, sehingga doa berubah menjadi ungkapan luka dan protes batin.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengirimkan kartu pos bergambar Yesus dengan luka di lambung-Nya. Bersamaan dengan itu, ia menyertakan pesan singkat yang menyatakan bahwa tidak ada yang lebih menyakitkan daripada kata-kata permohonan yang tak pernah sampai. Penutup “Jangan aminkan!” menjadi penegasan sikap penolakan terhadap pengesahan doa tersebut.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini mengarah pada kekecewaan mendalam terhadap relasi manusia dengan Tuhan. Luka Yesus yang menjadi simbol penderitaan ilahi dipertautkan dengan luka batin manusia yang merasa doanya tak diindahkan. Larik “Jangan aminkan!” menyiratkan penolakan terhadap ritual keagamaan yang terasa hampa ketika tidak disertai kehadiran atau jawaban yang nyata.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa getir, getir, dan konfrontatif. Ada kesan sunyi sekaligus tegang, seolah penyair berbicara langsung kepada Yang Ilahi dengan nada luka, bukan kepasrahan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini dapat dipahami sebagai pengakuan jujur atas rasa sakit dalam pengalaman beriman. Puisi ini mengingatkan bahwa doa tidak selalu lahir dari ketenangan dan kepasrahan, tetapi juga bisa muncul dari kegelisahan, kekecewaan, dan keberanian untuk bersikap jujur di hadapan Tuhan.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
- Ironi, terlihat dari judul “Doa” yang justru diakhiri dengan larik “Jangan aminkan!”.
- Metafora, ketika “kata-kata permohonan tak pernah kesampaian” dipahami sebagai gambaran doa yang terputus atau tidak terjawab.
Puisi “Doa” karya Adri Darmadji Woko menunjukkan bahwa puisi religius tidak selalu hadir dalam bentuk kepasrahan yang lembut. Melalui bahasa yang singkat dan tajam, puisi ini menghadirkan doa sebagai ruang pergulatan batin yang jujur dan menyakitkan. Karya ini mengajak pembaca merenungkan ulang makna doa, iman, dan keberanian untuk mengakui luka spiritual tanpa kepura-puraan.
Karya: Adri Darmadji Woko
Biodata Adri Darmadji Woko:
- Adri Darmadji Woko lahir pada tanggal 28 Juni 1951 di Yogyakarta.
