Puisi: Doa Seorang Tuna (Karya Syu’bah Asa)

Puisi "Doa Seorang Tuna" bercerita tentang seseorang yang memohon restu dari Tuhan atas dosa yang ia miliki, agar dosa itu justru “tumbuh menjadi ...

Doa Seorang Tuna


Dari balik namamu
kumohon restu
Kauurap hendaknya
dosa yang ini
agar tumbuh menjadi benih
Ialah anakku, perempuan alau lelaki

Kelak, ketika habis dunia yang ini
dan aku menggigil pada malam
lapar, sakit-sakitan
Ialah anakku
yang akan memukul kembali celoteh oraag
ke wajah ini
dan memberi kafan yang baik
pada tubuh yang ini

Malam demi malam kujahit gurita
Sadar bahwa akhirnya akan kembali
Di perut ia menggelinjang juga
Perempuankah engkau, atau lelaki?

Dari balik namamu kumohon restu
Tumbuhkan kiranya benih yang ini
Tumbuhkan kiranya dosa yang ini

Dosa yang ini

Amin

1972

Sumber: Horison (Maret, 1973)

Analisis Puisi:

Puisi "Doa Seorang Tuna" menghadirkan suara lirih dari pinggir kehidupan. Dengan bahasa yang sederhana namun sarat muatan batin, Syu’bah Asa menempatkan doa sebagai ruang pengakuan, ketakutan, dan harapan seorang manusia yang merasa serba kekurangan. Puisi ini menyentuh persoalan tubuh, dosa, dan keberlangsungan hidup melalui kehadiran seorang anak yang belum lahir.

Tema

Tema utama puisi ini adalah doa, keterbatasan manusia, dan harapan akan keberlanjutan hidup melalui anak. Puisi ini juga memuat tema tentang dosa, tanggung jawab orang tua, serta ketakutan menghadapi masa depan dan kematian dalam kondisi serba kekurangan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang memohon restu dari Tuhan atas dosa yang ia miliki, agar dosa itu justru “tumbuh menjadi benih”, yakni seorang anak yang sedang dikandung. Penyair membayangkan masa depan ketika dunia telah habis baginya: lapar, sakit, menggigil di malam hari. Dalam bayangan itu, anaknya kelak menjadi sosok yang merawatnya di akhir hayat—memberi kafan yang baik dan menghadapi dunia atas namanya.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan paradoks antara dosa dan anugerah. Anak digambarkan sebagai hasil dari dosa, tetapi sekaligus sebagai rahmat dan penopang hidup di masa depan. Puisi ini menyiratkan kenyataan sosial tentang orang-orang yang hidup dalam kekurangan, yang menggantungkan harapan pada generasi berikutnya, meski dibayang-bayangi rasa bersalah dan ketidakpastian.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa muram, lirih, dan penuh kepasrahan. Ada ketakutan akan kemiskinan, sakit, dan kematian, tetapi juga ada keheningan doa yang tulus dan intim, seolah diucapkan dalam gelap dan sepi.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat atau pesan yang disampaikan puisi dapat dimaknai sebagai pengingat tentang rapuhnya manusia dan besarnya tanggung jawab dalam menghadirkan kehidupan baru. Puisi ini juga menyiratkan bahwa doa bukan hanya permohonan kesucian, tetapi juga pengakuan jujur atas dosa dan keterbatasan diri.

Puisi "Doa Seorang Tuna" adalah puisi doa yang getir dan jujur. Syu’bah Asa memperlihatkan bagaimana iman, dosa, dan harapan berkelindan dalam kehidupan manusia kecil yang hidup di batas, menjadikan puisi ini bukan hanya spiritual, tetapi juga sosial dan sangat manusiawi.

Syu’bah Asa
Puisi: Doa Seorang Tuna
Karya: Syu’bah Asa

Biodata Syu’bah Asa:
  • Syu’bah Asa lahir pada tanggal 21 Desember 1941 di Pekalongan, Jawa Tengah.
  • Syu’bah Asa meninggal dunia pada tanggal 24 Juli 2010 (pada usia 69 tahun) di Pekalongan, Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.