Info Terbaru: Pidie Jaya kembali dilanda banjir. Aceh belum benar-benar pulih

Puisi: Dongeng Itu Kalah (Karya Pulo Lasman Simanjuntak)

Puisi “Dongeng Itu Kalah” karya Pulo Lasman Simanjuntak bercerita tentang situasi sosial yang kacau dan tidak masuk akal, di mana kekerasan, ...
Dongeng Itu Kalah

kalian hanya butuh sebuah pistol kerdil
ketika otak rubayan mulai ditumbuhi saham dua puluh persen
dilepas sauh dari bukit-bukit yang purba

kupilih melarikan diri
gempa bumi di negeri sendiri
ialah ketololan mengapa tak kunjung ke pesta perkawinan
om kusen membangun rumah sakit diabetes melitus
dan tante rina menggores kelamin mabuk

"sudah ada pertemuan terakhir, menunggu persekot," jawab telepon nyaring

beberapa kuli disket bolak-balik
ke markas guna persiapan perang primitif
kendati masih kabar burung-burung unta yang diperas dari dalam perut laut

jemu kukabarkan lewat suara pesawat angin
lebih beruntung bersekutu dengan perompak?
airmata terus mengalir
suara ketukan bambu
sudah mundur konglomerasi itu

Jakarta, September 2022

Analisis Puisi:

Puisi “Dongeng Itu Kalah” karya Pulo Lasman Simanjuntak menghadirkan lanskap bahasa yang liar, terfragmentasi, dan penuh benturan makna. Melalui baris-baris yang terkesan acak, absurd, bahkan brutal, penyair seolah menantang pembaca untuk masuk ke dunia realitas yang kacau—sebuah dunia di mana nalar, moral, dan harapan seperti kehilangan pijakan. Judulnya sendiri sudah memberi sinyal bahwa sesuatu yang dahulu dianggap indah, polos, dan menenteramkan (dongeng) telah tumbang oleh kenyataan yang keras.

Tema

Tema utama puisi ini dapat dibaca sebagai kekalahan idealisme, kepolosan, dan narasi-narasi lama oleh realitas sosial-politik yang absurd dan brutal. Puisi ini juga menyentuh tema kekerasan struktural, kebingungan identitas sosial, serta kehancuran logika kemanusiaan di tengah dunia yang dikuasai kepentingan dan kekuasaan.

Puisi ini bercerita tentang situasi sosial yang kacau dan tidak masuk akal, di mana kekerasan, keserakahan, dan absurditas menjadi hal yang lumrah. Gambaran seperti “pistol kerdil”, “otak rubayan ditumbuhi saham dua puluh persen”, hingga “persiapan perang primitif” menyiratkan dunia yang bergerak tanpa arah moral yang jelas. Subjek lirik tampak memilih “melarikan diri”, seolah tidak lagi sanggup bertahan dalam realitas yang dipenuhi kontradiksi dan kegilaan kolektif.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini kuat mengarah pada kritik terhadap modernitas yang kehilangan nurani. Istilah ekonomi, kekerasan, penyakit, dan perang bercampur tanpa urutan logis, mencerminkan masyarakat yang nilai-nilainya telah terdistorsi. “Dongeng” sebagai simbol harapan, kejujuran, atau kebijaksanaan lama, dinyatakan “kalah” karena tak lagi mampu menghadapi kenyataan yang dipenuhi manipulasi, kapital, dan kekerasan simbolik maupun nyata.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang terasa dominan dalam puisi ini adalah suram, kacau, dan gelisah. Baris-barisnya menimbulkan rasa tidak nyaman, seolah pembaca diajak menyusuri reruntuhan logika dan empati. Tidak ada ketenangan, yang ada hanya kebisingan batin, kelelahan, dan kejenuhan menghadapi realitas.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini dapat dimaknai menyampaikan pesan agar pembaca menyadari betapa berbahayanya dunia ketika akal sehat, empati, dan nilai kemanusiaan dikalahkan oleh kepentingan dan kekuasaan. Kekalahan “dongeng” bisa menjadi peringatan bahwa jika manusia sepenuhnya meninggalkan nilai-nilai dasar, maka yang tersisa hanyalah kekacauan dan kehancuran.

Puisi “Dongeng Itu Kalah” bukanlah puisi yang menawarkan keindahan dalam arti konvensional. Ia justru menghadirkan kekacauan sebagai cermin zaman. Melalui bahasa yang liar dan simbol-simbol yang keras, Pulo Lasman Simanjuntak seperti ingin mengatakan bahwa dunia hari ini telah terlalu jauh dari cerita-cerita indah yang pernah dipercaya—dan kekalahan dongeng itu adalah tragedi yang patut direnungkan.

Pulo Lasman Simanjuntak
Puisi: Dongeng Itu Kalah
Karya: Pulo Lasman Simanjuntak

Biodata Pulo Lasman Simanjuntak:
    Pulo Lasman Simanjuntak lahir di Surabaya, 20 Juni 1961. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Publisistik (STP/IISIP-Jakarta). Lasman Simanjuntak belajar sastra secara otodidak. Hasil karya sajaknya pertama kali dipublikasikan sewaktu masih duduk di bangku SMP, yakni dimuat di ruang sanjak anak-anak Harian Umum Kompas tahun 1977.

    Kemudian pada tahun 1980 sampai tahun 2022 sajak-sajaknya mulai disiarkan di Majalah Keluarga, Dewi, Nova, Monalisa, Majalah Mahkota, Harian Umum Merdeka, Suara Karya, Jayakarta, Berita Yudha, Media Indonesia, Harian Sore Terbit, Harian Umum Seputar Indonesia (Sindo), Koran Media Cakra Bangsa (Jakarta), Majalah Habatak Online, dan banyak lagi lainya.

    Selain di Media Online dan Media Offline, sajaknya juga termuat dalam 17 Buku Antologi Puisi Bersama Penyair di seluruh Indonesia.

    Buku kumpulan sajak tunggalnya yang sudah terbit Traumatik (1997), Kalah atau Menang (1997), Taman Getsemani (2016), Bercumbu dengan Hujan (2021), Tidur di Ranjang Petir (2021), Mata Elang Menabrak Karang (2021), Rumah Terbelah Dua (2021).

    Pada saat ini Pulo Lasman Simanjuntak sedang mempersiapkan penerbitan buku Antologi Puisi Tunggal ke-8 berjudul Bila Sunyiku Ikut Terluka (2022).

    Beberapa karya puisinya juga telah diterjemahkan (dialihaksarakan) kepada penulisan aksara Arab Melayu.

    Pada Minggu 18 September 2022 puisinya berjudul Pohon Itu Kesunyian atau The Tree Was Silent mendapat sertifikat keunggulan dari Global Poetry Forum karena dinilai puisi tersebut luar biasa.

    Namanya juga telah masuk dalam buku Pintar Sastra Indonesia (2001) yang disunting oleh Pamusuk Eneste, serta buku Apa & Siapa Penyair Indonesia (2017) yang disunting oleh Maman S. Mahayana bersama Sutardji Calzoum Bahchri, Abdul Hadi W.M, Rida K.Liamsi, Ahmadun Y. Herfanda, dan Hasan Aspahani.

    Pada tahun 2021 ia mendapat piagam dan medali penghargaan Setya Sastra Nagari (30 tahun Kesetiaan Sastra Indonesia) oleh Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia.

    Pada bulan Juni dan Juli 2022 berturut-turut karya puisinya memperoleh juara III dan juara II Puisi Pilihan Terbaik oleh Komunitas Sastra SNW ( Sastra Nusa Widhita).

    Saat ini Lasman Simanjuntak aktif sebagai anggota Dapur Sastra Jakarta (DSJ), Komunitas dari Negeri PociSastera Sahabat Kita (berpusat di Sabah Malaysia) serta Ketua Komunitas Sastra Pamulang (KSP).
    © Sepenuhnya. All rights reserved.