Analisis Puisi:
Puisi “Enam Langkah Jalan Bidak” karya Ook Nugroho menampilkan suara perlawanan yang keras, lugas, dan penuh daya simbolik. Dengan memanfaatkan metafora permainan catur, penyair menghadirkan kritik tajam terhadap relasi kuasa, hierarki sosial, dan kecenderungan meremehkan kelompok yang dianggap kecil, lemah, atau tidak berarti.
Puisi ini tidak bergerak pada wilayah perasaan personal, melainkan pada kesadaran kolektif. “Kami” dalam puisi hadir sebagai subjek bersama yang sadar akan posisinya, keterbatasannya, sekaligus potensi laten yang selama ini diremehkan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perlawanan kaum kecil terhadap kekuasaan. Bidak—yang dalam permainan catur sering dianggap pion terlemah—menjadi simbol kelompok tertindas yang perlahan, sabar, tetapi memiliki potensi revolusioner. Tema lain yang menyertai adalah keteguhan, strategi, dan kesadaran akan kekuatan kolektif.
Puisi ini bercerita tentang suara “kami” yang menolak stigma sebagai bangsa atau kelompok “cebol”. Meskipun hanya mampu melangkah pelan dan terbatas, mereka menyadari bahwa enam langkah lurus ke depan sudah cukup untuk menjungkirbalikkan tatanan: menyudahi raja, merobohkan benteng, dan menumbangkan para panglima.
Narasi puisi bergerak dari pembelaan diri, menuju peringatan, lalu berubah menjadi ancaman simbolik terhadap kekuasaan yang arogan.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap kekuasaan yang merasa aman karena menganggap kaum kecil tidak berbahaya. Enam langkah bidak menyiratkan bahwa perubahan besar tidak selalu datang dari kekuatan besar, melainkan dari ketekunan, strategi, dan waktu.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa kesabaran kaum tertindas bukan tanda kelemahan, melainkan fase menuju pembalikan kekuasaan yang tak terelakkan.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa tegang, menantang, dan konfrontatif. Nada peringatan sangat kuat, terutama melalui larik-larik imperatif seperti “Jangan pernah menyebut” dan “Jangan pernah mengira”. Suasana ini membangun kesan bahwa ketenangan kaum kecil bukanlah kepasrahan, melainkan kesiapan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat atau pesan yang disampaikan puisi ini adalah agar kekuasaan tidak meremehkan kelompok yang tampak kecil dan lamban. Kesabaran, ketekunan, dan kesadaran kolektif dapat menjadi senjata paling berbahaya. Di sisi lain, puisi ini juga menyampaikan pesan pembangkit keberanian bagi mereka yang selama ini dianggap lemah agar tidak kehilangan kepercayaan pada potensi diri.
Puisi “Enam Langkah Jalan Bidak” karya Ook Nugroho merupakan puisi politis yang kuat dan tajam. Dengan bahasa yang keras dan simbol yang jelas, puisi ini menegaskan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari langkah-langkah kecil yang sabar, terencana, dan tak pernah berhenti bergerak.
Karya: Ook Nugroho
Biodata Ook Nugroho:
- Ook Nugroho lahir pada tanggal 7 April 1960 di Jakarta, Indonesia.
