Puisi: Ensoi (Karya Abdul Hadi WM)

Puisi “Ensoi” karya Abdul Hadi WM menunjukkan bahwa cahaya spiritual dapat meredup ketika manusia terlalu tenggelam dalam abstraksi dan melupakan ...

Ensoi

Suara malam, hanya dedaunan
Gugur diusir angin ke beranda
Dari jauh kemarau. Almanak lepas lagi
Melemparkan bumi yang mati

Dan di manakah kau sekarang? Berdiri
Setelah sibuk mengurus matahari
Setelah sibuk membuat abstraksi
(dari jauh Laut Merah yang pasang abadi)

Di Qur'an kini hanya aljabar
Beratus-ratus persamaan tersamar
Soal-soal ujian yang belum selesai
Kini terjamah lusuh helai-helai

Aku tak mengurusnya lagi
Jemu. Cahaya sebentar datang, lab hilang kembali.

Sumber: Madura, Luang Prabhang (2006)

Analisis Puisi:

Puisi “Ensoi” karya Abdul Hadi WM menghadirkan suasana malam yang sunyi sekaligus reflektif, di mana penyair bergulat dengan jarak spiritual, intelektual, dan eksistensial. Melalui citraan dedaunan gugur, almanak, Laut Merah, dan rujukan pada Qur’an serta aljabar, puisi ini menampilkan konflik antara pengalaman spiritual dan rasionalitas modern. Bahasa yang simbolik dan abstrak menciptakan kesan keterasingan batin yang mendalam.

Tema

Tema puisi ini adalah keterasingan spiritual dan kegelisahan intelektual manusia modern. Puisi menggambarkan hubungan manusia dengan pengetahuan, waktu, dan kehadiran Ilahi yang terasa jauh.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merasakan jarak dengan sosok yang dicari (bisa ditafsirkan sebagai Tuhan, makna hidup, atau kesadaran batin), di tengah dunia intelektual dan abstraksi yang melelahkan.

Penyair mempertanyakan keberadaan “kau”, menyebut kesibukan mengurus matahari dan abstraksi, serta melihat kitab suci menjadi sekadar persamaan dan soal ujian. Pada akhirnya ia merasa jemu dan cahaya spiritual hanya datang sesaat.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa rasionalitas dan intelektualisme yang berlebihan dapat menjauhkan manusia dari pengalaman spiritual yang hidup.

Beberapa simbol penting:
  • Dedaunan gugur → kefanaan dan waktu.
  • Almanak lepas → waktu yang kehilangan makna.
  • Laut Merah abadi → dimensi spiritual atau sejarah wahyu.
  • Qur’an menjadi aljabar → agama direduksi menjadi konsep rasional.
  • Cahaya sebentar → pencerahan yang singkat.
Puisi menyiratkan kerinduan terhadap makna spiritual yang autentik di tengah dunia intelektual.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi terasa sunyi, kontemplatif, dan jemu eksistensial. Nada malam, gugur, jauh, dan jemu menciptakan atmosfer kelelahan batin dan keterasingan spiritual.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat ditangkap adalah bahwa manusia perlu menjaga keseimbangan antara intelektualitas dan spiritualitas agar tidak kehilangan makna hidup. Puisi mengingatkan bahwa pengetahuan tanpa pengalaman batin dapat membuat manusia merasa kosong dan jauh dari cahaya.

Puisi “Ensoi” karya Abdul Hadi WM merupakan refleksi puitik tentang keterasingan spiritual manusia modern di tengah dunia intelektual. Melalui puisi ini, penyair menunjukkan bahwa cahaya spiritual dapat meredup ketika manusia terlalu tenggelam dalam abstraksi dan melupakan pengalaman batin yang hidup.

Puisi Abdul Hadi WM
Puisi: Ensoi
Karya: Abdul Hadi WM

Biodata Abdul Hadi WM:
  • Abdul Hadi WM (Abdul Hadi Widji Muthari) lahir di kota Sumenep, Madura, pada tanggal 24 Juni 1946.
  • Abdul Hadi WM adalah salah satu tokoh Sastrawan Angkatan '66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.