Puisi: Euthanasia (Karya Arif Bagus Prasetyo)

Puisi “Euthanasia” karya Arif Bagus Prasetyo bercerita tentang pengalaman menghadapi kematian yang tak terhindarkan, digambarkan melalui citraan ...
Euthanasia

bagai detak jarum jam tua
yang menjerit
pada dinding kamar gas

Seperti ini:
sejarah selalu lahir di atas altar
di sebuah kastil tua
yang terkepung
gunung-gunung
cahaya.

Dan begitulah
kuhikmati dingin lehermu:
ketegaran pada harum ajal, ketakjuban
kepada arus darah
yang menggenang.
Sewaktu sakramen itu dilengkapkan
dan deram lonceng
kian deras menggemuruhkan bayang-bayang
tuhan
di kejauhan.

Lihat.
Separo ilusi dan kegelapan:
di antara reruntuh kubah yang tersambar
pisau matahari
pikiran buruk melukis seluruh ruang:
orang-orang berkerudung hitam
dengan muka merah-padam
tegang
tengadah
mendelik mengutuk langit!

Lalu, barangkali kausaksikan sisa nafasku
perlahan bangkit
makin hijau
dan menua
dalam debu.

"Namun hanya inikah kosakatamu tentang tuhan, roh
dan pembebasan itu? Bagaimana
tentang anak kita kelak, yang kembali
dimuntahkan langit
di atas altar, di sebuah kastil tua
usai cuaca berguguran di sana?"

Ya, mata kanak-kanak, perasaan cinta, sebuah dunia
ataukah sekotak nasib
yang terlambat

ditenggelamkan waktu

ke tengah rawa?

(bila "Hidup," seperti akumu, "kian jadi frasa
yang menolak diselesaikan.")

1994

Sumber: Memento (2009)

Analisis Puisi:

Puisi “Euthanasia” karya Arif Bagus Prasetyo menampilkan refleksi mendalam tentang kehidupan, kematian, dan eksistensi manusia di tengah sejarah, ruang, dan waktu. Dengan bahasa simbolik dan imaji yang kompleks, penyair membangkitkan suasana mencekam sekaligus kontemplatif, menyentuh ketegangan antara kehidupan, kematian, dan nilai-nilai spiritual.

Tema

Tema puisi ini adalah kematian, eksistensi manusia, dan ketegangan spiritual. Puisi juga menyentuh tema hubungan manusia dengan sejarah, Tuhan, dan generasi yang akan datang.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman menghadapi kematian yang tak terhindarkan, digambarkan melalui citraan detak jam tua, altar, kastil tua, dan sakramen. Penyair menyoroti ketegaran menghadapi ajal, kekaguman terhadap hidup, serta refleksi tentang darah, tubuh, dan ketidakpastian yang mengelilingi eksistensi manusia.

Ada juga renungan terhadap generasi selanjutnya: “anak kita kelak” menjadi simbol penerus yang hidupnya mungkin akan ditenggelamkan oleh waktu atau nasib, menegaskan keterhubungan antara kematian, sejarah, dan harapan manusia.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang bisa diambil antara lain:
  • Kehidupan dan kematian adalah satu kesatuan yang menuntut refleksi.
  • Eksistensi manusia terkait dengan sejarah, nilai spiritual, dan generasi yang akan datang.
  • Kesadaran akan kefanaan harus disertai pemikiran tentang tanggung jawab terhadap anak dan dunia selanjutnya.
  • Hidup tidak bisa hanya menjadi frasa kosong; setiap tindakan dan waktu harus dipertimbangkan dengan kesadaran.
Puisi “Euthanasia” menampilkan refleksi kompleks tentang kehidupan, kematian, spiritualitas, dan tanggung jawab manusia terhadap generasi yang akan datang. Arif Bagus Prasetyo menggunakan simbol dan imaji yang dramatis untuk menghadirkan atmosfer mencekam sekaligus kontemplatif, mengajak pembaca merenungkan kefanaan, nilai-nilai moral, dan keberlanjutan hidup dalam sejarah dan waktu. Puisi ini menegaskan bahwa hidup bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah proses yang penuh ketegangan, tanggung jawab, dan kesadaran spiritual.

Arif Bagus Prasetyo
Puisi: Euthanasia
Karya: Arif Bagus Prasetyo
© Sepenuhnya. All rights reserved.