Puisi: Exodus (Karya Abdul Hadi WM)

Puisi “Exodus” karya Abdul Hadi WM mengajak pembaca merenungkan nasib komunitas yang tercerabut dari akar kehidupannya, hingga hanya tersisa gema ...
Exodus

Menyandang beban sunyi ini di sini
Menyandang beban salib ini di sini
Menyandang kehilangan
Yang seakan
Genderang mainan dipukul ombak

Di antara teluk dan pasir pantai
Serta senja yang menutup dinding laut ini
Kau mencari
Jejak nelayan
Nyiur tidak mendesir dan pelabuhan
Sudah jarang dikunjungi kapal-kapal

Menyandang sepi ini di sini
Menyandang kesal pikiran dan kekacauan ini
Menyandang mainan
Yang diberai ombak, senja, teluk dan pasir hitam
Seakan pecahan batu karang pada pantai yang legam

Kau mencari
Jejak nelayan
Nyiur tidak mendesir dan pelabuhan
Sudah jarang dikunjungi pelaut

Burung-burung pantai pergi, senja pergi
Tinggal genderang mainan ini
Berbunyi dan berbunyi juga
Dan betapa dekatnya sekarang
Hari haus dan lapar kita
Betapa dekatnya.

1970

Sumber: Anak Laut Anak Angin (1984)

Analisis Puisi:

Puisi “Exodus” karya Abdul Hadi WM menghadirkan lanskap pantai yang sunyi dan ditinggalkan, sekaligus menggambarkan pengalaman batin manusia yang memikul beban kehilangan dan keterasingan. Kata “Exodus” (yang berarti perpindahan atau keluarnya suatu kaum dari tempat asal) memberi petunjuk bahwa puisi ini berkaitan dengan perpisahan, migrasi, atau ditinggalkannya ruang hidup yang dulu ramai oleh aktivitas manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keterasingan dan kehilangan akibat perpindahan atau ditinggalkannya kehidupan lama. Puisi juga memuat tema penderitaan eksistensial dan kehampaan sosial di ruang yang pernah hidup.

Puisi ini bercerita tentang sosok “kau” yang berada di sebuah pantai sunyi, memikul beban kehilangan dan sepi sambil mencari jejak kehidupan lama—khususnya para nelayan dan aktivitas pelabuhan. Namun, yang ditemui hanyalah tanda-tanda ketiadaan: pelabuhan sepi, burung pantai pergi, kapal tak lagi singgah. Di tengah kehampaan itu, hanya “genderang mainan” yang terus berbunyi, seolah sisa masa lalu yang tak bermakna. Pada akhirnya muncul kesadaran akan datangnya hari “haus dan lapar”, simbol penderitaan yang semakin dekat.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini dapat dipahami sebagai berikut:
  • Migrasi atau eksodus sosial: masyarakat pesisir meninggalkan tempat hidupnya, mungkin karena kemiskinan atau perubahan ekonomi.
  • Kehancuran komunitas tradisional: hilangnya nelayan dan pelaut melambangkan runtuhnya tatanan lama.
  • Beban spiritual: “beban salib” menunjukkan penderitaan eksistensial yang dipikul manusia.
  • Kesunyian peradaban: ruang yang dulu hidup kini tinggal lanskap kosong.
  • Ancaman kemiskinan: “hari haus dan lapar” menandakan masa depan suram.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi sangat muram, sepi, dan melankolis. Lanskap pantai senja yang kosong memperkuat rasa kehilangan dan keterasingan yang mendalam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini memberi kesan pesan bahwa:
  • Kehidupan manusia dan komunitas dapat runtuh dan ditinggalkan oleh perubahan zaman.
  • Kehilangan ruang hidup berarti kehilangan identitas dan makna.
  • Penderitaan kolektif sering datang setelah kehancuran sosial atau ekonomi.
Puisi “Exodus” menggambarkan tragedi sunyi ketika sebuah ruang hidup ditinggalkan manusia dan hanya menyisakan kenangan serta penderitaan. Abdul Hadi WM memadukan lanskap pantai dengan simbol spiritual untuk menunjukkan bahwa eksodus bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan kehilangan identitas dan masa depan. Puisi ini mengajak pembaca merenungkan nasib komunitas yang tercerabut dari akar kehidupannya, hingga hanya tersisa gema masa lalu dan bayangan hari lapar yang kian dekat.

Puisi: Exodus
Puisi: Exodus
Karya: Abdul Hadi WM

Biodata Abdul Hadi WM:
  • Abdul Hadi WM (Abdul Hadi Widji Muthari) lahir di kota Sumenep, Madura, pada tanggal 24 Juni 1946.
  • Abdul Hadi WM adalah salah satu tokoh Sastrawan Angkatan '66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.