Gelora Laut Malam Hari Itu
gelora laut malam hari itu
adalah gelora ombak-ombak beradu
gemuruh menderu
berkejar memburu
gelora laut malam hari itu, sayangku
adalah gelora dadaku
gejolak segenap rindu
memburu bertemu.
Sumber: Horison (September, 1969)
Analisis Puisi:
Puisi “Gelora Laut Malam Hari Itu” karya Faisal Ismail merupakan puisi liris yang singkat namun padat emosi. Dengan memanfaatkan gambaran alam laut pada malam hari, penyair menyatukan gejolak alam dengan gejolak batin manusia. Kesederhanaan larik-lariknya justru memperkuat daya ungkap puisi ini.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerinduan dan gejolak perasaan cinta. Laut dengan ombak-ombaknya yang beradu dijadikan cerminan dari perasaan batin yang bergejolak dan tak tertahan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menyaksikan gelora laut di malam hari. Pemandangan alam tersebut kemudian disepadankan dengan gelora perasaan di dalam dadanya. Ombak yang berkejar dan gemuruh laut menjadi simbol kerinduan yang memburu pertemuan dengan sosok yang disapa “sayangku”.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini menunjukkan bahwa perasaan rindu memiliki daya dorong yang kuat, bahkan bisa sekuat dan seganas gelora alam. Kerinduan tidak hanya hadir sebagai perasaan halus, tetapi juga sebagai gejolak yang mendesak untuk bertemu dan menyatu.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa intens, bergetar, dan penuh desakan emosional. Nuansa malam dan suara gemuruh laut mempertebal kesan kegelisahan sekaligus kerinduan yang menggelora.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Puisi ini menyampaikan pesan bahwa perasaan cinta dan rindu merupakan kekuatan alami dalam diri manusia. Seperti gelora laut, perasaan tersebut tidak dapat sepenuhnya dikendalikan dan pada akhirnya menuntut keberanian untuk dihadapi dan diungkapkan.
Puisi “Gelora Laut Malam Hari Itu” karya Faisal Ismail memperlihatkan bagaimana alam dapat menjadi cermin paling jujur bagi perasaan manusia. Dengan bahasa yang sederhana namun sugestif, puisi ini mengungkap kerinduan sebagai gelora yang tak bisa dibendung, sebagaimana laut yang berombak di malam hari.
