Puisi: Gerimis Tiba-Tiba (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Gerimis Tiba-Tiba” karya Gunoto Saparie bercerita tentang seseorang yang tiba-tiba kehujanan gerimis di ruang terbuka. Taman dan jalanan ...
Gerimis Tiba-Tiba

dan gerimis pun mendadak turun
membasahi taman dan jalanan
aku pun tergagap mencari perlindungan 
menggigil kedinginan di teras pertokoan

2021

Analisis Puisi:

Puisi “Gerimis Tiba-Tiba” karya Gunoto Saparie menampilkan peristiwa yang sangat sederhana: turunnya gerimis secara mendadak. Namun, dari peristiwa kecil dan sehari-hari itu, penyair menghadirkan pengalaman batin yang intim dan personal. Puisi ini mengajak pembaca menyelami suasana keterkejutan, kerentanan, dan keterasingan manusia di tengah ruang publik.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keterkejutan dan kerapuhan manusia ketika berhadapan dengan peristiwa tak terduga. Gerimis yang turun tiba-tiba menjadi simbol hadirnya situasi di luar kendali, yang memaksa manusia bereaksi secara spontan dan sering kali tanpa persiapan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang tiba-tiba kehujanan gerimis di ruang terbuka. Taman dan jalanan yang basah menjadi latar, sementara tokoh “aku” tergagap mencari perlindungan dan akhirnya berlindung di teras pertokoan, menggigil kedinginan. Cerita yang singkat ini menangkap momen kecil, tetapi sarat pengalaman fisik dan emosional.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini dapat dibaca sebagai gambaran kondisi manusia yang rapuh ketika menghadapi perubahan mendadak dalam hidup. Gerimis tidak hanya dimaknai sebagai hujan ringan, tetapi juga sebagai metafora atas masalah, kesedihan, atau keadaan tak terduga yang datang tanpa aba-aba. Reaksi “tergagap” dan “menggigil” menegaskan ketidaksiapan batin menghadapi situasi tersebut.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa sendu dan dingin. Ada nuansa keterkejutan, ketidaknyamanan, dan kesendirian, meskipun latarnya berada di tempat umum. Suasana ini menimbulkan kesan bahwa manusia bisa merasa sendirian bahkan di tengah lingkungan yang ramai.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah kesadaran bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Peristiwa kecil yang tak terduga dapat membuat manusia merasa lemah dan membutuhkan perlindungan. Puisi ini seakan mengingatkan pentingnya kesiapan batin serta penerimaan terhadap perubahan yang datang mendadak.

Puisi “Gerimis Tiba-Tiba” menunjukkan kekuatan Gunoto Saparie dalam mengolah peristiwa keseharian menjadi refleksi batin yang puitis. Kesederhanaan bahasa dan peristiwa justru menjadi daya tarik utama, karena dari sanalah muncul kejujuran emosi dan makna yang mudah dirasakan pembaca.

Gunoto Saparie
Puisi: Gerimis Tiba-Tiba
Karya: Gunoto Saparie

Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.

Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.