Puisi: Gersang (Karya Remy Sylado)

Puisi "Gersang" karya Remy Sylado bercerita tentang seseorang yang merasa kehilangan kemampuan untuk merasakan emosi—terutama tangisan—karena ...
Gersang

Tahun lalu mataku masih bisa basah
menangis seperti lugu seorang bocah
mengalir di pipi air mata bukan sedih

Kini kurindukan isak mewakili sukmaku
mogok kendati dengan kepandaian akting

Kutahu terlalu lama hatiku menjadi janda
gersang, hilang daya menyaksikan ini roda
kenapa riwayat kebajikan para khadim negeri
telah pupus, berkomplot dengan para pencuri

Nifiri perak ditiup mengimbau pulang
jika aku pulang, pulang aku sebagai atma.

Sumber: Kerygma & Martyria (Gramedia Pustaka Utama, 2004)

Analisis Puisi:

Puisi "Gersang" menghadirkan refleksi emosional sekaligus kritik sosial yang tajam. Melalui bahasa yang lugas namun simbolik, Remy Sylado menggambarkan kekeringan batin seorang individu yang kehilangan kepekaan di tengah realitas sosial-politik yang korup dan mengecewakan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kekeringan batin akibat kekecewaan moral dan sosial. Penyair menyoroti hilangnya empati dan kepekaan hati ketika menyaksikan kebajikan runtuh dan digantikan oleh perilaku korup dalam kehidupan bernegara.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merasa kehilangan kemampuan untuk merasakan emosi—terutama tangisan—karena hatinya telah lama menjadi “gersang”. Kekeringan ini tidak muncul tanpa sebab, melainkan akibat menyaksikan rusaknya moral para “khadim negeri” (pelayan negara) yang bersekongkol dengan pencuri.

Penyair merindukan masa lalu ketika ia masih mampu menangis tulus seperti anak kecil. Kini, bahkan dengan kemampuan berakting, ia tak lagi mampu mengeluarkan isak yang mewakili jiwanya.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap kerusakan moral dalam kehidupan publik yang berdampak pada kehancuran batin individu. Ketika kebaikan para pemimpin lenyap dan digantikan korupsi, masyarakat kehilangan harapan, dan pada tingkat personal muncul mati rasa emosional.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa kehilangan kepekaan adalah bentuk kematian batin, yang lebih menyakitkan daripada penderitaan biasa—karena bahkan tangisan pun tak lagi mungkin.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi cenderung muram, getir, dan reflektif, dengan nuansa kelelahan batin dan keputusasaan moral. Pada bagian akhir muncul kesan pasrah dan kontemplatif, terutama ketika penyair menyebut kemungkinan pulang “sebagai atma”.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini dapat dipahami sebagai peringatan bahwa kerusakan moral dalam masyarakat dapat menghancurkan kepekaan hati manusia, dan bahwa integritas para pemimpin sangat menentukan kesehatan batin kolektif masyarakat.

Selain itu, puisi ini mengajak pembaca untuk menjaga nurani dan empati, agar tidak ikut menjadi kering oleh realitas yang rusak.

Puisi "Gersang" karya Remy Sylado adalah potret mati rasa emosional akibat kekecewaan sosial-politik. Melalui metafora kekeringan hati dan hilangnya tangisan, penyair menunjukkan bahwa kerusakan moral publik dapat berimbas pada kehancuran batin individu. Puisi ini menyuarakan kritik sekaligus ratapan: ketika kebajikan pemimpin pupus, masyarakat pun berisiko kehilangan rasa—dan hidup dalam kegersangan jiwa.

"Puisi Remy Sylado"
Puisi: Gersang
Karya: Remy Sylado
© Sepenuhnya. All rights reserved.