Puisi: Gula-Gula (Karya Joss Sarhadi)

Puisi “Gula-Gula” karya Joss Sarhadi menuntut pembaca untuk tidak sekadar menikmati “manisnya” kata, tetapi juga merasakan pahit yang tersembunyi ...
Gula-Gula

"Gula-gula itu memang manis"
Bunyi sebuah merek promosi
Diam-diam bisnis gula-gula memenuhi kebutuhan devisa
Di saku kakek tua ada gula-gula bundar
Di kosen jendela
Di bangku oplet dan bioskop
Pada bibir boneka
Ada gula-gula yang lengket celana
Bapak-bapak
Saya mohon tidak kau salahkan adiku Early
    - yang masih duduk di bangku SMP.


Menteri kesehatan negara Bersih
    - suatu kali terpaksa bikin statement keras:
Gula-gula merusak gigi!
Tapi mahasiswa golongan moderat justru membagikan sari gula
Akibatnya si Sarimin dikurung mbah Suro
Padahal diabetes berdarah.

"Bakal teko mangsane jaman edan.
Begjo berjane wong kang eling lan waspodo
Sopo sing tan ngedan nora bakal keduman"
    - gumam mbah Suro dalam trans sempurna
Di pinggir jalan.

Sejak itu asap putih bergelung-geung dari bubungan steambath
seperti gas belerang di dataran Dieng
Dan seluruh negeri Bersih itu dilanda Vietname-rose
Karena gula-gula terakhir formula morphin.

"Hidup Jesus Kristus"
Teriak orang banyak di pasar Senen
"Jesus mulai jalan-jalan", bisik mereka
"Suatu hari muncul di pabrik permen Kastasura"
"Ia bersabda: ini darahKu, ini dagingKu"
Mereka masing-masing bersaksi ingin seperti rasul Petrus
Sambil tangannya menggenggam serenceng peniti.

Jakarta, September 1972

Sumber: Horison (Mei, 1974)

Analisis Puisi:

Puisi “Gula-Gula” karya Joss Sarhadi merupakan teks yang kaya lapisan makna dan penuh ironi sosial. Melalui diksi yang tampak sederhana—bahkan kekanak-kanakan—penyair justru menyusun kritik yang kompleks terhadap moral publik, kekuasaan, agama, kesehatan, dan masyarakat yang hidup dalam paradoks. Gula-gula, yang secara literal identik dengan rasa manis dan kepolosan, dalam puisi ini berubah menjadi simbol yang sarat problem sosial dan politik.

Tema

Tema utama dalam puisi “Gula-Gula” adalah ironi sosial dan kemunafikan kolektif. Penyair menyoroti bagaimana sesuatu yang tampak manis, menghibur, dan sepele justru menyimpan dampak destruktif, baik secara fisik maupun moral. Gula-gula dihadirkan bukan hanya sebagai benda konsumsi, tetapi sebagai metafora sistem—ekonomi, kekuasaan, bahkan agama—yang dibungkus manis namun merusak dari dalam.

Di samping itu, puisi ini juga memuat tema kritik terhadap otoritas (negara, agama, dan tradisi) serta kegilaan zaman, yang ditandai dengan kebingungan moral dan hilangnya kepekaan nurani.

Secara naratif, puisi ini bercerita tentang gula-gula yang hadir di berbagai ruang kehidupan: dari saku kakek tua, bangku oplet, bioskop, hingga bibir boneka. Kehadiran gula-gula yang begitu merata menggambarkan betapa “manisnya” sesuatu telah meresap ke seluruh lapisan masyarakat.

Cerita kemudian bergerak ke ranah yang lebih luas: pernyataan menteri kesehatan, aksi mahasiswa, hukuman terhadap Sarimin, gumaman mistik mbah Suro, hingga absurditas religius di pasar Senen. Alur ini tidak linier, melainkan fragmentaris, mencerminkan realitas sosial yang kacau dan tidak utuh.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini terletak pada kritik terhadap masyarakat yang mudah tergoda oleh kemanisan semu. Gula-gula dapat dimaknai sebagai simbol ideologi, propaganda, candu kekuasaan, atau bahkan narkotika (diperkuat oleh frasa “formula morphin”). Sesuatu yang awalnya terlihat memberi kenikmatan justru berujung pada kerusakan: gigi rusak, diabetes berdarah, kegilaan sosial, hingga kekacauan spiritual.

Penyair juga menyiratkan bahwa kebenaran sering dikorbankan demi kenyamanan, dan mereka yang mencoba waspada justru terpinggirkan atau dianggap tidak waras.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung gelap, ironis, dan absurd. Ada kesan kegelisahan yang terus mengendap, diselingi humor pahit dan sindiran tajam. Pembaca diajak memasuki dunia yang terasa normal di permukaan, tetapi ganjil dan menakutkan jika dicermati lebih dalam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ajakan untuk bersikap eling lan waspodo—sadar dan waspada—di tengah zaman yang penuh tipu daya. Penyair seolah mengingatkan bahwa tidak semua yang manis itu baik, dan tidak semua yang populer atau disucikan layak diterima tanpa kritik.

Puisi ini juga menyampaikan pesan agar masyarakat tidak pasif dalam menghadapi manipulasi, baik yang datang dari negara, pasar, maupun simbol-simbol agama.

Puisi “Gula-Gula” karya Joss Sarhadi bukan sekadar puisi tentang benda manis, melainkan potret getir sebuah zaman. Dengan bahasa yang lincah, simbolik, dan berani, penyair mengajak pembaca untuk menelisik ulang apa yang selama ini diterima sebagai hal wajar. Puisi ini menuntut pembaca untuk tidak sekadar menikmati “manisnya” kata, tetapi juga merasakan pahit yang tersembunyi di baliknya.

Joss Sarhadi
Puisi: Gula-Gula
Karya: Joss Sarhadi

Biodata Joss Sarhadi:

Nama lengkapnya adalah Joseph Suminto Sarhadi.
© Sepenuhnya. All rights reserved.