Puisi: Gunung Sakarini (Karya F. Rahardi)

Puisi “Gunung Sakarini” karya F. Rahardi bercerita tentang sebuah desa kecil di lereng Gunung Sakarini yang tampak berbeda pada malam dan siang hari.
Gunung Sakarini

1. Malam Hari:

bagai cahaya pecah di jelaga
seperti pancaran obor di lapangan
sebuah desa kecil mengertap di gigirmu
gajah yang lelah, terbungkuk-bungkuk
melangkah
beban yang menghimpitmu lumayan beratnya
kandang sapi yang gelap
ladang-ladang kurus
sebuah gubuk penunggu jagung
alangkah sepinya
perapian itu – sepinya.

2. Siang Hari:

tak ada yang ganjil di tempat ini
batang-batang sengon mengejang di tanjakan
jalan setapak ke desa
laki-laki memikul tahi sapi
begitu setia dia pada keyakinannya
pada matahari, pada musim
pada impian-impian di tikar pandan
di kelokan, alang-alang liar berdansa
dengan angin
tak ada yang ganjil di sini
tak ada yang aneh di tempat ini
tak ada.

16 Mei 1974

Sumber: Silsilah Garong (1990)

Analisis Puisi:

Puisi “Gunung Sakarini” karya F. Rahardi menghadirkan lanskap pedesaan di lereng gunung melalui dua waktu berbeda: malam dan siang. Penyair menampilkan kehidupan desa yang sederhana, berat, tetapi wajar dan penuh keteguhan. Gunung menjadi latar sekaligus simbol kekuatan alam yang menaungi kehidupan manusia kecil di sekitarnya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehidupan desa di lereng gunung yang keras namun dijalani dengan keteguhan dan kesederhanaan. Puisi juga menyinggung relasi manusia dengan alam serta ketahanan hidup masyarakat agraris.

Puisi ini bercerita tentang sebuah desa kecil di lereng Gunung Sakarini yang tampak berbeda pada malam dan siang hari. Pada malam hari, desa terlihat sepi, berat, dan terhimpit kemiskinan; sedangkan pada siang hari, kehidupan tampak biasa dan dijalani dengan keyakinan serta kesetiaan pada alam, musim, dan kerja sehari-hari. Gunung digambarkan seperti makhluk besar yang memanggul beban kehidupan desa.

Makna Tersirat

Beberapa makna tersirat dalam puisi:
  • Gunung sebagai simbol beban kehidupan rakyat kecil – gunung yang “terbungkuk-bungkuk” seperti gajah lelah melambangkan beratnya hidup desa.
  • Kemiskinan yang dianggap biasa – siang hari menegaskan “tak ada yang ganjil”, menandakan penderitaan telah menjadi kewajaran sosial.
  • Kesetiaan pada alam dan tradisi – manusia desa hidup selaras dengan musim, matahari, dan kerja agraris.
  • Kontras persepsi waktu – malam memperlihatkan penderitaan, siang menormalkan kehidupan; menunjukkan bagaimana realitas berat bisa tersembunyi dalam keseharian.
Puisi menyiratkan kritik halus bahwa kehidupan keras desa sering dianggap biasa oleh masyarakat dan mungkin diabaikan oleh dunia luar.

Suasana dalam Puisi

  • Bagian malam: muram, sunyi, dan berat.
  • Bagian siang: tenang, wajar, dan pasrah.
Perbedaan suasana ini memperkuat kontras pengalaman batin terhadap ruang yang sama.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini adalah bahwa kehidupan sederhana masyarakat desa menyimpan beban berat yang sering tidak terlihat, tetapi dijalani dengan kesetiaan dan keteguhan. Puisi mengajak pembaca memahami dan menghargai kehidupan agraris yang keras namun bermartabat, serta menyadari bahwa penderitaan yang dianggap biasa tetaplah penderitaan.

Puisi “Gunung Sakarini” memperlihatkan kekuatan F. Rahardi dalam memotret kehidupan desa melalui simbol alam yang sederhana namun dalam. Kontras malam dan siang menunjukkan bahwa penderitaan bisa tersembunyi dalam keseharian yang tampak biasa. Gunung menjadi saksi sekaligus metafora beban hidup masyarakat agraris—berat, sunyi, tetapi tetap dijalani dengan setia. Puisi ini mengajak pembaca melihat kembali kehidupan desa dengan empati dan kesadaran baru.

F. Rahardi
Puisi: Gunung Sakarini
Karya: F. Rahardi

Biodata F. Rahardi:
  • F. Rahardi (Floribertus Rahardi) lahir pada tanggal 10 Juni 1950 di Ambarawa, Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.