Puisi: Honocoroku Rahayu buat Ibu (Karya Diah Hadaning)

Puisi “Honocoroku Rahayu buat Ibu” karya Diah Hadaning bercerita tentang ikatan batin antara anak dan ibu, yang dipadukan dengan pengalaman ...
Honocoroku Rahayu buat Ibu

Agung, Agung, Yang Maha Agung
Harum, Harum, Yang Maha Harum
Maha Agung dan Harum hanyalah ENGKAU.

Ibu dan aku adalah coroko
coroko tanpa sowoto
karena kami saksi jaman
perubahan ke perubahan
alam yang beda makin kekalkan cinta
irama langkah masih senada
iramanya alam semesta
kini gejolak menghentak
rindu janji di siang retak
sambil anyam bayangmu ibu
doa-doa kulantunkan
bunga gurit dan kidung kuulang-ulang
ritus ke ritus dan ritualan
selalu kubatin namamu
yang menyahut gema kidungmu
merayapi tahun dan windu:
Sebutlah Allah Gustimu.

Cimanggis, Desember 2004

Analisis Puisi:

Puisi “Honocoroku Rahayu buat Ibu” karya Diah Hadaning adalah karya yang sarat dengan penghormatan, rasa syukur, dan doa untuk sosok ibu. Dengan bahasa puitis yang melintasi dimensi spiritual dan alam semesta, penyair menyampaikan hubungan batin yang kuat antara anak dan ibu, serta menghubungkannya dengan pengalaman spiritual yang lebih luas.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penghormatan dan doa untuk ibu, serta hubungan antara manusia dengan Tuhan dan alam semesta. Selain itu, puisi ini menyinggung tema kesetiaan, ingatan, dan kontinuitas kasih dalam menghadapi perubahan zaman.

Puisi ini bercerita tentang ikatan batin antara anak dan ibu, yang dipadukan dengan pengalaman spiritual dan refleksi terhadap alam semesta. Penyair memulai dengan memuliakan Tuhan melalui kata-kata “Agung, Agung, Yang Maha Agung / Harum, Harum, Yang Maha Harum,” kemudian menyatakan bahwa ibu adalah bagian dari keharmonisan tersebut.

Puisi ini juga bercerita tentang perjalanan waktu dan perubahan, di mana anak dan ibu tetap menjadi saksi sejarah dan perubahan zaman. Hubungan mereka digambarkan sebagai “coroko tanpa sowoto,” simbol keterikatan yang murni, bebas dari halangan, dan selaras dengan irama alam. Anak-lirik terus merayapi waktu dengan doa, kidung, dan ritual yang menegaskan penghormatan serta cinta yang tidak pernah pudar kepada ibu.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kepentingan mengenang dan menghormati sosok ibu sebagai figur yang sakral, sekaligus menyadari keterhubungan manusia dengan alam dan Tuhan. Anak-lirik menegaskan bahwa cinta, doa, dan penghormatan kepada ibu merupakan bagian dari perjalanan spiritual yang abadi. Puisi ini juga menyiratkan bahwa kasih ibu dan hubungan batin dengan keluarga memiliki nilai transenden yang tetap relevan meski zaman berubah.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini sakral, hangat, dan penuh rasa syukur. Nada puisi memadukan penghormatan spiritual dengan keintiman keluarga. Imaji tentang doa, kidung, bunga gurit, dan ritus menimbulkan atmosfer meditatif dan penuh penghormatan, sekaligus menyiratkan ketenangan batin dan kedalaman cinta seorang anak kepada ibu.

Puisi “Honocoroku Rahayu buat Ibu” karya Diah Hadaning adalah puisi spiritual dan reflektif yang menekankan penghormatan, doa, dan cinta kepada sosok ibu. Dengan bahasa simbolik, imaji yang kaya, dan pengulangan yang menegaskan kehormatan, puisi ini mengajak pembaca merenungkan peran sakral ibu, kesinambungan kasih, dan hubungan manusia dengan Tuhan serta alam semesta.

"Puisi: Honocoroku Rahayu Buat Ibu (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Honocoroku Rahayu buat Ibu
Karya: Diah Hadaning
© Sepenuhnya. All rights reserved.