Hotel Sanur
Sekarang, kitapun kembali di lobbi
Kau dan aku. Bercakap-cakap sesudah matahari
Angin yang ditiup bulan, Adalah ombak
Rombongan buih yang mulai bergerak
Silhuet kini padaku. Menanti
Engkau gemetar. Dimanakah sepi?
Unggun hari yang dingin, berangkat dari kata-katamu
'Marilah kita berdoa' dari jauh bayangan pulau-pulau
angin yang mau ke teluk itu
Apakah engkau tak mendengar?
Ruyun pasir, buih dan abstraksi yang mengalir
Apakah engkau tak mendengar?
Jejak musim, bayangan dan seseorang hadir?
Dan hanya dingin. Lenyap pohon-pohon dan hari
Dan hanya ingin. Pawai gelisah yang mencari
Mulutmu gemetar. Apakah engkau tak mendengar?
Sepi yang membiarkan ombak, terlempar ke kamar
Hanya kemarau
Hanya lampau
Silhuet kini mati. Dan kembali
Kehilangan itu jauh sekali
1967
Sumber: Horison (Mei, 1970)
Analisis Puisi:
Puisi “Hotel Sanur” karya Abdul Hadi WM menghadirkan lanskap pantai dan ruang hotel sebagai latar pertemuan dua tokoh yang diliputi kenangan, kesepian, dan perpisahan. Dengan bahasa simbolik dan citraan laut, penyair mengekspresikan pengalaman emosional tentang hubungan yang merenggang dan rasa kehilangan yang mendalam. Puisi ini memperlihatkan kekuatan khas Abdul Hadi WM dalam memadukan alam, ruang, dan batin manusia.
Tema
Tema puisi ini adalah kenangan, kehilangan, dan keterasingan dalam hubungan manusia. Pertemuan “kau dan aku” di lobi hotel bukan sekadar peristiwa fisik, tetapi ruang nostalgia atas masa lalu yang telah memudar. Tema ini juga berkaitan dengan waktu yang berlalu dan hubungan yang tak lagi utuh.
Puisi ini bercerita tentang dua tokoh (aku dan kau) yang kembali bertemu di sebuah hotel di kawasan pantai, namun pertemuan itu dipenuhi kegelisahan, jarak emosional, dan bayangan masa lalu.
Percakapan mereka berlangsung dalam suasana senja–malam, dengan latar ombak, angin, dan pulau-pulau jauh. Tokoh “aku” merasakan gemetar dan sepi pada “kau”, serta menyadari bahwa hubungan mereka telah berubah. Pada akhir puisi, yang tersisa hanyalah lampau dan kehilangan.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa hubungan manusia dapat berubah menjadi kenangan yang dingin dan tak terjangkau kembali.
Beberapa simbol penting:
- Hotel → ruang sementara, relasi yang tidak permanen.
- Ombak dan buih → ingatan yang datang dan pergi.
- Siluet → kehadiran yang samar, hampir hilang.
- Dingin/kemarau → kekosongan emosional.
- Lampau → masa lalu yang tak bisa diulang.
Puisi menyiratkan bahwa cinta atau kedekatan bisa menjadi kenangan jauh, bahkan ketika dua orang masih berada di tempat yang sama.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi terasa melankolis, sepi, dan kontemplatif. Nada pertanyaan berulang (“Apakah engkau tak mendengar?”) menambah kesan kegelisahan dan jarak batin. Lanskap pantai yang biasanya hidup justru terasa dingin dan sunyi.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat ditangkap adalah bahwa kenangan dan hubungan masa lalu tidak selalu dapat dihidupkan kembali. Puisi mengajak pembaca menerima kenyataan bahwa waktu mengubah perasaan, dan kehilangan adalah bagian dari pengalaman manusia. Ada kesadaran akan kefanaan hubungan dan pentingnya menghadapi perpisahan secara batin.
Puisi “Hotel Sanur” karya Abdul Hadi WM merupakan refleksi puitik tentang kenangan dan kehilangan dalam hubungan manusia. Melalui puisi ini, penyair menunjukkan bahwa tempat dan kenangan dapat bertahan, tetapi perasaan manusia bisa berubah menjadi siluet yang akhirnya hilang dalam waktu.
Karya: Abdul Hadi WM
Biodata Abdul Hadi WM:
- Abdul Hadi WM (Abdul Hadi Widji Muthari) lahir di kota Sumenep, Madura, pada tanggal 24 Juni 1946.
- Abdul Hadi WM adalah salah satu tokoh Sastrawan Angkatan '66.
