Hujan Pagi
Kabut turun sepanjang pandang
dan hujan belum juga reda.
Di depan jalan menikung ke arah kiri;
pepohonan hijau daun tampak mengabur.
Petir menggelegar, menyambar-nyambar
dan kau berkali-kali menutup telingamu;
dengan kedua tanganmu. "Aku takut,"
katamu. Keheningan menyungkup
ruang dalam. Bila maut bicara dan ngajak
seseorang pergi ke alam yang lain, adakah
semua itu bisa dicegah? Tidak rupanya;
benturan keras terjadi di depan sana.
sebuah mobil menabrak pohonan, lalu
tangis bertilam tangis merobek hujan
2015
Sumber: Ranting patah (2018)
Analisis Puisi:
Puisi “Hujan Pagi” karya Soni Farid Maulana menampilkan pengalaman batin manusia ketika menghadapi bencana, ketakutan, dan kematian. Dengan penggambaran alam yang dramatis dan realistis, penyair berhasil memadukan perasaan takut, keheningan, dan ketidakberdayaan manusia dalam menghadapi nasib yang tak terduga.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ketakutan manusia terhadap kematian dan keterbatasan kendali atas kehidupan. Selain itu, puisi ini juga menyinggung tema alam sebagai saksi dan aktor dalam peristiwa tragis, di mana hujan, kabut, dan petir menjadi latar yang menambah intensitas emosi dan kesan dramatis.
Puisi ini bercerita tentang peristiwa tragis di pagi hari saat hujan deras dan kabut turun, di mana ketakutan dan kerentanan manusia terungkap. Pembaca diperkenalkan pada seorang tokoh yang merasa takut ketika petir menyambar-nyambar dan ia menutup telinganya dengan tangan. Ketakutan itu berujung pada peristiwa kecelakaan: sebuah mobil menabrak pohonan, memunculkan tangis yang merobek hujan. Dengan penggambaran ini, puisi menggambarkan pertemuan manusia dengan realitas maut yang tak bisa dihindari, sekaligus menyoroti ketidakberdayaan manusia di hadapan alam dan takdir.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah keterbatasan manusia dalam mengendalikan nasib dan kematian. Hujan, kabut, dan petir bukan sekadar fenomena alam, tetapi simbol ketidakpastian dan bahaya yang selalu mengintai. Reaksi tokoh yang takut menutup telinga menunjukkan keterasingan manusia saat berhadapan dengan kekuatan yang lebih besar dari dirinya, serta kesadaran bahwa maut adalah hal yang tidak dapat dicegah. Puisi ini juga mengajak pembaca merenungkan tentang kehidupan yang rapuh dan nilai kesadaran akan ketidakpastian hidup.
Majas
Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi, misalnya “keheningan menyungkup ruang dalam”, yang memberi kesan seolah keheningan memiliki kemampuan untuk menutupi atau menekan perasaan manusia.
- Hiperbola, terlihat pada frasa “tangis bertilam tangis merobek hujan”, untuk menekankan intensitas duka dan tragedi yang terjadi.
Puisi “Hujan Pagi” karya Soni Farid Maulana adalah karya yang kuat secara emosional dan dramatis, menyoroti ketakutan manusia terhadap kematian dan ketidakberdayaan saat menghadapi bencana. Dengan penggambaran alam yang intens dan simbolik, puisi ini tidak hanya menjadi narasi tragis, tetapi juga refleksi mendalam tentang kehidupan, kematian, dan kesadaran manusia akan keterbatasannya.
Puisi: Hujan Pagi
Karya: Soni Farid Maulana
Biodata Soni Farid Maulana:
- Soni Farid Maulana lahir pada tanggal 19 Februari 1962 di Tasikmalaya, Jawa Barat.
- Soni Farid Maulana meninggal dunia pada tanggal 27 November 2022 (pada usia 60 tahun) di Ciamis, Jawa Barat.
