Puisi: Ibunda (Karya Wiji Thukul)

Puisi "Ibunda" karya Wiji Thukul menggambarkan perasaan cinta, perhatian, dan keberanian seorang ibu dalam menghadapi ketidakadilan dan ...
Ibunda

Ibunda
akhirnya menjengukku juga
datang ke penjara
dari kampung ke ibukota
melihat anak tersayang
babak belur
dianiaya tentara

Ibunda akhirnya angkat bicara
menggugat tuan jaksa
yang menjebloskan anaknya
berbulan-bulan
ke penjara negara
tak jelas pasal kesalahannya

kejahatan apakah
yang direncanakan oleh anakku
hingga kalian pukuli dia
siang malam
seperti anjing liar saja

kejahatan macam apakah
yang dijalani oleh anakku
hingga kalian main strom seenaknya
sampai anakku demam
tinggi suhu panas badannya

durhaka apakah
yang diperbuat oleh anakku
hingga tubuhnya mati rasa kalian siksa
hak istimewa apakah yang kalian miliki
begitu sewenang-wenang kalian
main hakim menjalankan pengadilan
tanpa undang-undang

undang-undang apakah yang kalian praktikkan?
tuan jaksa jawab tuan jaksa
undang-undang mana bikinan siapa
yang mengizinkan pejabat negara
menganiaya rakyat
dan menginjak hak-haknya

tuan jaksa jawab tuan jaksa
undang-undang mana bikinan siapa
yang memberi hak pada pejabat negara
meremehkan nyawa

tuan jaksa jawab tuan jaksa
tanyakan pada para ibunda
di mana pun juga
siapa rela
bila anaknya
terancam keselamatan jiwanya

tuan jaksa jawab tuan jaksa
tanyakan kepada para ibunda
siapa saja
siapa rela
melihat si jantung hati darah dagingnya dicederai
biarpun yang melakukannya penguasa

maka sekalian aku menempuh bahaya
demi keadilan si buah hati
aku menuntut
tuan jaksa - bebaskan dia!

16 November 1996

Sumber: Aku Ingin Jadi Peluru (2000)

Analisis Puisi:

Puisi "Ibunda" karya Wiji Thukul adalah sebuah karya sastra yang menggambarkan perasaan seorang ibu yang mendatangi anaknya yang telah mengalami penyiksaan di penjara oleh aparat keamanan.

Kehadiran Ibunda: Puisi ini dibuka dengan penggambaran ibu penyair yang akhirnya datang menjenguk anaknya yang telah ditahan oleh pihak berwenang. Kehadiran ibunda ini menciptakan gambaran tentang rasa cinta dan perhatian seorang ibu terhadap anaknya, bahkan di tengah-tengah kesulitan dan penderitaan.

Gugatan Terhadap Kekejaman: Dalam puisi ini, ibu penyair menggugat tindakan kekejaman yang diterima oleh anaknya. Dia mencoba mengungkapkan kebingungannya tentang apa yang telah dilakukan oleh anaknya hingga dia dianiaya oleh tentara, dan mengapa anaknya ditahan tanpa alasan yang jelas.

Pertanyaan tentang Keadilan dan Hukum: Ibu penyair menanyakan pertanyaan yang kuat tentang keadilan dan hukum. Dia ingin tahu apa yang telah dilakukan oleh anaknya sehingga dia dianiaya tanpa alasan yang jelas. Ia juga mempertanyakan hak-hak yang seharusnya dimiliki oleh setiap warga negara, termasuk hak atas pengadilan yang adil.

Kritik Terhadap Penggunaan Kekuasaan: Puisi ini menciptakan gambaran tentang penggunaan kekuasaan yang sewenang-wenang oleh pejabat negara. Ibu penyair mengkritik perlakuan yang tidak manusiawi terhadap anaknya oleh aparat keamanan. Puisi ini menciptakan kesan tentang ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan yang terjadi dalam masyarakat.

Tuntutan Pembebasan: Puisi ini mencapai puncaknya dengan tuntutan ibu penyair kepada jaksa untuk membebaskan anaknya. Dia secara tegas dan berani menyuarakan hak anaknya atas keadilan. Ini menciptakan gambaran tentang kekuatan dan keteguhan hati seorang ibu yang siap menghadapi bahaya demi keadilan dan keselamatan anaknya.

Puisi "Ibunda" adalah karya sastra yang menggambarkan perasaan cinta, perhatian, dan keberanian seorang ibu dalam menghadapi ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan oleh aparat negara. Thukul menggunakan puisi ini untuk menyuarakan pesan tentang pentingnya keadilan, hak asasi manusia, dan perjuangan melawan ketidakadilan. Puisi ini juga menciptakan gambaran tentang kekuatan dan perjuangan seorang ibu yang tidak akan berhenti untuk membela anaknya.

Puisi: Ibunda
Puisi: Ibunda
Karya: Wiji Thukul

Biodata Wiji Thukul:
  • Wiji Thukul lahir di Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 26 Agustus 1963.
  • Nama asli Wiji Thukul adalah Wiji Widodo.
  • Wiji Thukul menghilang sejak tahun 1998 dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya (dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer).
© Sepenuhnya. All rights reserved.