Puisi: Igau (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Igau” karya Gunoto Saparie bercerita tentang seseorang yang mengamati seseorang (kau) yang mengigau di malam penuh kecemasan. Dalam igauan ...
Igau

entahlah ini igaumu keberapa
di malam penuh kecemasan
entahlah kau sebut nama tuhan atau siapa
namun begitu rumit jalan menuju masa depan

2019

Analisis Puisi:

Puisi “Igau” karya Gunoto Saparie merupakan sajak pendek yang memotret kegelisahan batin manusia di tengah ketidakpastian masa depan. Dengan bahasa sederhana namun sugestif, penyair menghadirkan suasana malam yang penuh kecemasan dan sosok yang mengigau—sebuah keadaan setengah sadar yang mencerminkan kekacauan batin.

Tema

Tema puisi ini adalah kecemasan eksistensial manusia terhadap masa depan. Puisi menyoroti kegelisahan batin yang bercampur dengan pencarian makna dan arah hidup.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengamati seseorang (kau) yang mengigau di malam penuh kecemasan. Dalam igauan itu, sosok tersebut mungkin menyebut nama Tuhan atau sesuatu yang lain, namun tetap tidak jelas. Penyair menyadari bahwa jalan menuju masa depan bagi sosok itu terasa rumit dan sulit.

Dengan demikian, puisi menggambarkan kondisi batin seseorang yang gelisah dan terombang-ambing dalam ketidakpastian hidup.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa manusia sering menghadapi masa depan dengan kebingungan dan ketakutan, hingga bahkan doa atau seruan kepada Tuhan pun terasa tidak pasti. Igauan melambangkan kesadaran yang retak—antara harapan spiritual dan kegelisahan duniawi.

Puisi juga menyiratkan bahwa jalan hidup tidak selalu terang dan jelas; masa depan tampak seperti labirin yang sulit dipahami oleh manusia yang cemas.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi terasa gelap, resah, dan muram. Malam dan igauan menciptakan nuansa psikologis yang tidak stabil, seolah pikiran dipenuhi kecemasan yang tak terselesaikan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat ditangkap adalah bahwa manusia perlu menyadari dan menghadapi kecemasannya terhadap masa depan. Kebingungan dan ketakutan adalah bagian dari pengalaman hidup, namun kesadaran akan kondisi itu dapat menjadi langkah awal untuk mencari arah dan ketenangan.

Puisi “Igau” adalah puisi pendek yang padat tentang kecemasan manusia menghadapi masa depan. Melalui citraan malam dan igauan, Gunoto Saparie menghadirkan potret batin yang gelisah dan tidak pasti, bahkan dalam relasinya dengan Tuhan. Puisi ini menegaskan bahwa perjalanan menuju masa depan sering kali terasa rumit dan membingungkan—sebuah pengalaman universal manusia yang terus mencari arah di tengah kecemasan.

Gunoto Saparie
Puisi: Igau
Karya: Gunoto Saparie


Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya.

Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.