Jabat Tangan
Derita berwajah tua
Harapan di dada, anak ditimang dan bengkalai kerja
Bila jubah imam menepis tipis di mimbar
Hari berangin daun-daun pintu terkepar
Mimpi makin jadi ekor tikus lurus
Aku kenal dia nama dan riwayat
Dari mana dia datang dialisnya tercatat
Orang jujur yang kurus
Karena setialah dia hadir di sini
Membawa buku catatan mata tak dipicingkan
Kemerdekaan yang semula di sangkanya manis
"Belum selesai!" katanya. Tengah hari gerimis
1963
Sumber: Horison (Oktober, 1969)
Analisis Puisi:
Puisi “Jabat Tangan” karya Rusli Marzuki Saria menampilkan potret manusia kecil yang hidup dalam tekanan sosial, ekonomi, dan sejarah. Dengan bahasa yang padat dan simbolik, penyair menghadirkan gambaran tentang kejujuran, kesetiaan, serta perjuangan yang berlangsung dalam sunyi, jauh dari sorotan kemenangan besar. Puisi ini berbicara tentang kemerdekaan yang belum sepenuhnya dirasakan oleh mereka yang setia dan jujur.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keteguhan dan kejujuran manusia kecil di tengah derita dan janji kemerdekaan yang belum tuntas. Tema ini juga mencakup ketimpangan antara cita-cita luhur dan realitas hidup yang keras, khususnya bagi mereka yang bekerja dengan setia namun tetap hidup dalam kekurangan.
Puisi ini bercerita tentang sosok lelaki sederhana yang hidup dalam kesulitan. Ia digambarkan sebagai orang jujur, kurus, dan setia, hadir membawa buku catatan—simbol tanggung jawab dan kerja yang tekun. Sosok ini bukan tokoh besar, melainkan manusia biasa yang tetap menjalani kewajibannya di tengah impitan hidup: anak yang harus ditimang, pekerjaan yang terbengkalai, dan harapan yang terus dipelihara.
Puisi juga menyinggung suasana sosial dan politik melalui simbol “mimbar”, “jubah imam”, dan “kemerdekaan”, yang memberi kesan bahwa janji-janji besar sering kali tak sepenuhnya menjangkau kehidupan orang kecil.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap realitas kemerdekaan yang belum selesai bagi sebagian rakyat. Meski kemerdekaan digadang-gadang sebagai sesuatu yang manis, bagi tokoh dalam puisi ini, kemerdekaan masih berupa janji yang tertunda.
Ungkapan “Belum selesai!” menjadi penegasan bahwa perjuangan belum berakhir, dan bahwa keadilan sosial belum sepenuhnya terwujud. Kejujuran dan kesetiaan tidak serta-merta membawa kesejahteraan.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini terasa sendu, muram, dan reflektif. Kehadiran kata-kata seperti derita, gerimis, dan gambaran kerja yang terbengkalai membangun suasana kelelahan batin dan ketidakpastian, namun tetap disertai keteguhan hati.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Puisi ini menyampaikan amanat bahwa kejujuran dan kesetiaan adalah nilai luhur yang kerap luput dari penghargaan, namun tetap harus dijaga. Selain itu, puisi ini mengingatkan bahwa kemerdekaan dan keadilan sosial bukanlah keadaan yang selesai sekali jadi, melainkan proses panjang yang menuntut keberanian, ketekunan, dan kepedulian terhadap nasib manusia kecil.
Imaji
Puisi ini menghadirkan sejumlah imaji visual dan suasana, antara lain:
- “derita berwajah tua” yang memvisualkan penderitaan sebagai sesuatu yang menahun,
- “anak ditimang” yang menghadirkan imaji tanggung jawab keluarga,
- “hari berangin daun-daun pintu terkepar” yang menciptakan kesan rapuh dan terbuka,
- “tengah hari gerimis” sebagai imaji kesedihan dan ketidakpastian.
Imaji-imaji tersebut memperkuat kesan realisme dan keprihatinan sosial dalam puisi.
Majas
Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi, pada ungkapan “derita berwajah tua”.
- Metafora, seperti “mimpi makin jadi ekor tikus lurus” yang melukiskan harapan yang mengecil dan terpinggirkan.
Puisi “Jabat Tangan” karya Rusli Marzuki Saria adalah puisi yang sunyi namun menggugah. Ia mengabadikan wajah kejujuran dan kesetiaan yang sering terabaikan dalam narasi besar kemerdekaan. Melalui bahasa simbolik dan nada reflektif, puisi ini mengajak pembaca untuk kembali menimbang: bagi siapa sebenarnya kemerdekaan telah benar-benar selesai?
Puisi: Jabat Tangan
Karya: Rusli Marzuki Saria
Biodata Rusli Marzuki Saria:
- Rusli Marzuki Saria lahir pada tanggal 26 Februari 1936 di Kamang, Bukittinggi.