Jalak
kerbau nyenggut manggut-manggut di ladang berumput
jalak-uren jalak-penyu hinggap di punggung taktakut
paruh kuning cakar kuning bulu hitam begitu indah
berkicau di rembang petang pandang mengarah ke bencah
ah jalak-uren jalak-penyu
betapa orang takterharu
memandang rupamu mendengar kicaumu
kau bisa cumbu dan menirukan
cumbumu minta pengertian
menirumu dengan kedirian
Sumber: Horison (November, 1971)
Analisis Puisi:
Puisi “Jalak” karya Piek Ardijanto Soeprijadi menghadirkan pemandangan alam pedesaan yang penuh kehidupan dan interaksi antara manusia, hewan, dan alam sekitarnya. Dengan bahasa yang sederhana namun imajinatif, puisi ini menyoroti keindahan alam dan kesadaran manusia terhadap makhluk hidup lain.
Tema
Tema puisi ini adalah harmoni alam dan kehidupan pedesaan, serta refleksi terhadap hubungan manusia dengan makhluk lain di sekitarnya.
Puisi ini bercerita tentang pemandangan alam di pedesaan, di mana kerbau sedang merumput dan jalak-uren serta jalak-penyu hinggap di punggung mereka. Jalak-jalak ini digambarkan indah dan bersuara merdu, tetapi sayangnya orang-orang seringkali tak terkesan atau tak memperhatikan keindahan dan kicauan mereka.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menekankan pentingnya kesadaran manusia terhadap alam dan makhluk hidup lain. Jalak yang bisa menirukan suara dan mencari perhatian menjadi simbol keindahan yang sering diabaikan manusia, sehingga pembaca diingatkan untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi ini terasa tenang dan damai, namun juga mengandung sedikit rasa sedih karena keindahan jalak tidak diapresiasi oleh manusia. Ada kombinasi antara ketenangan alam pedesaan dan perasaan kecewa terhadap kurangnya perhatian manusia.
Imaji
Puisi ini sarat dengan imaji visual dan auditori:
- Visual: “kerbau nyenggut manggut-manggut di ladang berumput”, “paruh kuning cakar kuning bulu hitam begitu indah” memberikan gambaran konkret tentang makhluk hidup di pedesaan.
- Auditori: “berkicau di rembang petang” menekankan suara jalak yang merdu dan suasana petang yang tenang.
Majas
Beberapa majas yang digunakan antara lain:
- Personifikasi, seperti jalak yang “minta pengertian” dan “menirumu dengan kedirian”, memberi sifat manusia pada burung.
- Repetisi, seperti pengulangan kata “jalak-uren jalak-penyu”, menekankan kehadiran jalak dan pentingnya mereka dalam lanskap alam.
Puisi “Jalak” adalah puisi yang menghadirkan keindahan sederhana pedesaan dan kehidupan satwa dengan perspektif reflektif. Piek Ardijanto Soeprijadi mengajak pembaca untuk melihat, mendengar, dan menghargai makhluk hidup lain serta menyadari bahwa keindahan alam sering luput dari perhatian manusia.
Karya: Piek Ardijanto Soeprijadi
Biodata Piek Ardijanto Soeprijadi:
- Piek Ardijanto Soeprijadi (EyD Piek Ardiyanto Supriyadi) lahir pada tanggal 12 Agustus 1929 di Magetan, Jawa Timur.
- Piek Ardijanto Soeprijadi meninggal dunia pada tanggal 22 Mei 2001 (pada umur 71 tahun) di Tegal, Jawa Tengah.
- Piek Ardijanto Soeprijadi adalah salah satu sastrawan angkatan 1966.