Puisi: Jalan Setapak (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Jalan Setapak” karya Gunoto Saparie bercerita tentang seseorang yang menyusuri jalan setapak. Di sepanjang jalan itu, ia menyaksikan ...
Jalan Setapak

pada jalan setapak itu
kusaksikan jejak-jejak kelabu
mengabur karena hujan pagi
ada sapu tangan jatuh di sini

pada jalan pulang itu
terpindai rindu tanah kelahiran
ada pecahan kaca di tepian
ada melintang sepotong kayu

pada jalan setapak itu
kusaksikan jejak-jejak rahasia
entah menuju ke mana
kulihat hati dan jantungku

pada jalan kecil itu
aku tersaruk-saruk sepi
terantuk sandungan batu
tapi, apakah aku harus kembali?

2021

Analisis Puisi:

Puisi “Jalan Setapak” karya Gunoto Saparie menghadirkan perjalanan yang tidak sekadar fisik, melainkan juga batiniah. Melalui gambaran jalan kecil, jejak-jejak, dan benda-benda sederhana di sepanjang lintasan, penyair menuntun pembaca memasuki ruang perenungan tentang asal-usul, rindu, dan pilihan hidup. Puisi ini bergerak perlahan, mengikuti langkah yang tertatih namun sarat makna.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup dan pencarian jati diri. Jalan setapak menjadi simbol jalan sunyi yang ditempuh seseorang, jauh dari hiruk-pikuk, namun penuh dengan kenangan, luka, dan pertanyaan. Tema lain yang mengiringi adalah kerinduan pada asal-usul serta kebimbangan dalam menentukan arah hidup.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menyusuri jalan setapak. Di sepanjang jalan itu, ia menyaksikan berbagai jejak dan benda: jejak kelabu yang mengabur oleh hujan pagi, sapu tangan yang jatuh, pecahan kaca, dan sepotong kayu yang melintang. Semua itu membentuk lanskap perjalanan yang tidak mulus.

Pada tahap berikutnya, perjalanan itu berubah menjadi lebih personal. Penyair mulai menyadari bahwa jalan tersebut menyimpan jejak-jejak rahasia dan membawanya berhadapan dengan hati dan jantungnya sendiri, hingga akhirnya muncul pertanyaan besar: apakah ia harus kembali atau terus melangkah.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini terletak pada proses refleksi diri dalam perjalanan hidup. Jejak-jejak yang kelabu dan mengabur melambangkan masa lalu yang perlahan memudar, sementara rintangan-rintangan kecil mencerminkan cobaan hidup yang tampak sepele tetapi terasa menyakitkan.

Pertanyaan di akhir puisi menyiratkan dilema eksistensial: antara kembali ke zona aman atau melanjutkan perjalanan meski penuh risiko dan kesepian.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung hening, muram, dan reflektif. Nuansa sepi dan kehati-hatian terasa kuat, terutama melalui kata-kata seperti “tersaruk-saruk”, “sepi”, dan “terantuk sandungan batu”.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat ditangkap adalah keberanian untuk menghadapi perjalanan hidup dengan kesadaran penuh. Penyair seolah menyampaikan bahwa jalan hidup tidak selalu rata dan jelas, namun setiap langkah tetap penting untuk mengenali diri dan asal-usul.

Puisi ini juga memberi pesan bahwa keraguan adalah bagian wajar dari perjalanan, tetapi pertanyaan tentang kembali atau melanjutkan harus dijawab dengan kejujuran pada diri sendiri.

Puisi “Jalan Setapak” karya Gunoto Saparie adalah puisi perenungan yang sederhana namun mendalam. Dengan bahasa yang tenang dan citraan alam yang dekat dengan pengalaman sehari-hari, penyair menggambarkan perjalanan hidup sebagai lintasan sunyi yang penuh jejak masa lalu dan pilihan masa depan. Puisi ini mengajak pembaca untuk berhenti sejenak, menoleh ke dalam diri, dan merenungkan arah langkah yang sedang ditempuh.

Gunoto Saparie
Puisi: Jalan Setapak
Karya: Gunoto Saparie

BIODATA GUNOTO SAPARIE

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya.

Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Selain di bidang pers, ia pernah bekerja di bidang pendidikan, yaitu guru di SMP Yasbumi Cepiring, SMP PGRI Patebon, SMP Muhammadiyah Kendal, dan SMA Al-Farabi Pegandon. Ia pernah pula bekerja di CV Sido Luhur Kendal dan PT Aryacipta Adibrata Semarang.

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.

Gunoto Saparie juga sering diundang sebagai pembicara dalam kongres, simposium, dan seminar kesastraan. Ia pun sering membaca puisi di berbagai tempat dan juri lomba literasi yang diadakan lembaga pemerintah maupun swasta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.