Jalan Setapak
Jalan setapak ke puncak bukit
telah tersibak kembali Telanjang
dalam alam dalam hari
gang tambah cerah dan panjang.
Demikianlah warna-warna bunga
bersatu kata. Mekar serempak
tiba-tiba tatkala diriku termangu
(Hilang bayangan pemilik jejak).
Entahlah kini ia di mana.
tanpa meninggalkan pesan dan alamat
berangkat ia ke satu tempat.
Nanar menggelepar terjaring marijuana.
Kerap aku menatap, menembus
kristal matanya. "Bagus,"
bisiknya. "Betapa bagus nyala bianglala!"
Aku bungkam. Aku menggeleng kepala.
Ia yang pernah penuh istirah
selama bulir-bulir salju melimpah
siuman kembali. Kecuali dirinya
bergelimang lumpur di rawa-rawa surga.
Jalan setapak tajam dan lurus
mengiris batinku dengan sendu.
Syracuse, musim semi, 1970
Sumber: Horison (Juli, 1973)
Analisis Puisi:
Puisi “Jalan Setapak” karya Surachman R.M. menampilkan lanskap perjalanan batin yang kompleks, penuh simbol, dan bergerak antara keindahan, kehilangan, kesadaran, hingga ketersesatan. Dengan bahasa yang padat dan imajinatif, puisi ini tidak hanya menghadirkan gambaran alam, tetapi juga memuat pergulatan psikologis dan eksistensial seseorang yang menelusuri jejak seseorang—atau mungkin dirinya sendiri—di sebuah jalan setapak yang tajam dan menyayat batin.
Tema
Tema utama puisi ini dapat dipahami sebagai perjalanan batin manusia yang diwarnai pencarian, kehilangan, dan keterasingan. Jalan setapak menjadi simbol perjalanan hidup atau kesadaran yang tidak selalu aman dan nyaman. Di dalamnya terdapat keindahan, tetapi juga luka, kebingungan, dan rasa sendu yang mendalam.
Tema lain yang turut hadir adalah kontras antara harapan dan kenyataan, antara gambaran surga dan lumpur, antara kejernihan dan keterjeratan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menelusuri kembali sebuah jalan setapak ke puncak bukit, sebuah jalan yang menyimpan jejak seseorang yang kini telah menghilang. Sosok “ia” dalam puisi ini menjadi figur penting yang pernah hadir, memberi kesan, bahkan bisikan kekaguman, tetapi kemudian pergi tanpa pesan dan arah yang jelas.
Cerita berkembang dari kekaguman pada keindahan alam dan pertemuan batin, menuju kehilangan, kebingungan, dan kesadaran pahit akan kondisi sosok tersebut yang terjerat dan jatuh dalam keadaan yang jauh dari ideal.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini dapat dimaknai sebagai refleksi tentang rapuhnya manusia dalam perjalanan hidup dan pencarian makna. Sosok “ia” yang pergi tanpa alamat, terjaring, dan akhirnya digambarkan “bergelimang lumpur di rawa-rawa surga” menyiratkan ironi: sesuatu yang tampak indah dan menjanjikan justru berujung pada keterpurukan.
Puisi ini juga menyiratkan kekecewaan dan kesedihan seseorang yang menyadari bahwa tidak semua perjalanan menuju “puncak” berakhir pada keselamatan atau pencerahan.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi cenderung melankolis, getir, dan reflektif. Meskipun terdapat gambaran cerah, bunga mekar, dan bianglala yang menyala, suasana tersebut segera bergeser menjadi nanar, sendu, dan menyayat batin. Perubahan suasana ini mencerminkan dinamika emosi seseorang dalam menghadapi kenyataan yang pahit.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat atau pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah peringatan bahwa jalan hidup tidak selalu lurus menuju kebaikan, dan keindahan yang tampak di awal bisa menyimpan jebakan. Puisi ini juga mengajak pembaca untuk lebih waspada, jujur pada diri sendiri, dan menyadari bahwa pilihan hidup memiliki konsekuensi batin yang dalam.
Selain itu, terdapat pesan tentang empati dan kesedihan terhadap sesama manusia yang tersesat dalam perjalanan hidupnya.
Puisi “Jalan Setapak” karya Surachman R.M. merupakan puisi yang sarat simbol dan pergulatan batin. Melalui gambaran perjalanan, kehilangan, dan ironi, puisi ini mengajak pembaca merenungkan rapuhnya manusia dalam menempuh jalan hidupnya. Jalan setapak yang tajam di akhir puisi bukan sekadar ruang fisik, melainkan representasi luka batin yang lahir dari kesadaran, kenangan, dan kekecewaan yang mendalam.
Puisi: Jalan Setapak
Karya: Surachman R.M.
Biodata Surachman R.M.:
- Surachman R.M. lahir pada tanggal 13 September 1936 di Garut, Jawa Barat.