Puisi: Jika Aku Menikahi Bulan (Karya A. Munandar)

Puisi “Jika Aku Menikahi Bulan” karya A. Munandar mengajak pembaca merenungkan bagaimana menjaga keharmonisan dalam memilih sesuatu yang bernilai ...
Jika Aku Menikahi Bulan

Jika aku menikahi bulan
aku tak mau mengundang senja
karena ia takkan datang
Seperti membuang undangan
ia takkan datang.

Jika aku menikahi bulan
aku tak mau mengundang matahari
karena meski saling menghargai
ia punya perselisihan dengan malam.

Jika aku menikahi bulan
jangan beritahukan fajar!
Aku takut ia akan mengobrak-abrik pesta
Sungguh
ia akan mengobrak-abrik pesta.

November, 2018

Analisis Puisi:

Puisi “Jika Aku Menikahi Bulan” karya A. Munandar adalah puisi yang penuh imajinasi dan simbolisme, menghadirkan narasi yang bersifat metaforis dan fantasi. Dengan bahasa yang sederhana namun kreatif, penyair mengeksplorasi hubungan antara manusia, alam, dan perasaan melalui simbol-simbol langit seperti bulan, matahari, senja, dan fajar.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta, pilihan, dan pertimbangan dalam hubungan yang unik atau idealistis. Puisi ini juga menyinggung tema konflik dan keseimbangan antara elemen-elemen yang berbeda, yang diwakili oleh malam, siang, bulan, matahari, dan fajar.

Puisi ini bercerita tentang keinginan penyair untuk “menikahi bulan”, sebagai metafora dari memilih sesuatu atau seseorang yang unik, indah, dan berbeda. Dalam proses itu, penyair menegaskan bahwa beberapa elemen lain—senja, matahari, dan fajar—tidak diundang karena mereka akan “mengganggu” atau merusak keharmonisan pilihan.

Secara simbolis, setiap elemen langit memiliki karakter yang berbeda:
  • Senja, yang tidak akan datang dan seolah membuang undangan.
  • Matahari, yang meski dihargai, memiliki perselisihan dengan malam.
  • Fajar, yang berpotensi mengobrak-abrik pesta jika hadir.
Dengan demikian, puisi ini juga bercerita tentang keputusan, batasan, dan prioritas dalam menjalani hubungan atau pilihan hidup.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kepedulian terhadap keharmonisan dalam pilihan, serta kesadaran akan konsekuensi dari hadirnya “gangguan” luar. Menikahi bulan bisa dimaknai sebagai memilih sesuatu yang spesial atau berbeda, tetapi hal itu membutuhkan ketegasan dalam menjaga keseimbangan dan melindungi momen tersebut dari hal-hal yang bisa merusaknya.

Selain itu, puisi ini menyiratkan bahwa keindahan dan keselarasan dalam suatu hubungan atau pilihan hidup membutuhkan pemisahan dan perhatian khusus terhadap faktor-faktor yang bisa mengganggu.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini misterius, magis, dan sedikit humoris. Imaji langit malam, bulan, dan elemen-elemen lain menciptakan atmosfer fantasi dan imajinatif, seolah pembaca diajak ke pesta metaforis yang sakral namun ringan. Nada puisi ringan namun penuh ketegasan, menciptakan nuansa kontemplatif dan bermain-main dengan imajinasi alam semesta.

Puisi “Jika Aku Menikahi Bulan” karya A. Munandar adalah puisi fantasi dan metaforis yang mengeksplorasi pilihan, keseimbangan, dan keindahan dalam hubungan atau keputusan hidup. Dengan bahasa yang sederhana namun imajinatif, simbol langit yang hidup, dan nada reflektif sekaligus humoris, puisi ini mengajak pembaca merenungkan bagaimana menjaga keharmonisan dalam memilih sesuatu yang bernilai dan unik.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Jika Aku Menikahi Bulan
Karya: A. Munandar
© Sepenuhnya. All rights reserved.