Analisis Puisi:
Puisi “Jula-juli Pejalan Tidur” menghadirkan lanskap kota Surabaya yang muram, sensual, dan penuh kegelisahan sejarah. Dengan bahasa yang rapat, metaforis, dan sering kali gelap, penyair memadukan tubuh, kota, dan ingatan kolektif dalam satu tarikan napas panjang. Judul “jula-juli”—yang merujuk pada tradisi lisan Jawa Timur—bertemu dengan citra modern kota: bulevar, bank, plaza, taman, hingga monumen. Pertemuan ini melahirkan puisi yang bergerak seperti orang berjalan sambil tidur: sadar namun tak sepenuhnya terjaga.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keterasingan manusia urban dan kegelisahan sejarah yang membayang di tubuh kota. Puisi juga mengangkat tema hasrat, kekerasan simbolik, dan ingatan kolektif yang tak pernah benar-benar selesai.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan malam dua sosok (“aku” dan “kau”) di ruang kota yang dingin, sakit, dan nyaris runtuh. Kota digambarkan seperti tubuh yang menggigil, terinfeksi, dan kehilangan orientasi waktu. Di sepanjang sungai, taman, tugu, dan sudut-sudut gelap kota, muncul potret kehidupan pinggiran: sejoli di kegelapan, laki-laki terhuyung di tenda rombeng, ahli nujum kaki lima, hingga simbol-simbol sejarah yang berdiri ambigu.
Relasi antara “aku” dan “kau” berjalan sejajar dengan relasi manusia–kota: intim, berbahaya, penuh gairah, sekaligus rapuh.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini menunjukkan kritik terhadap kota yang dibangun di atas tumpukan sejarah kekerasan, hasrat, dan pelupaan. Tubuh “kau” dan tubuh kota saling menyerap luka; sungai, taman, dan monumen tidak netral, melainkan menyimpan trauma dan aib.
Waktu digambarkan tak bisa dipercaya—“jam terbuat dari air”—menyiratkan sejarah yang cair, mudah dimanipulasi, dan terus menghantui masa kini. Puisi ini juga menyiratkan bahwa identitas dan ingatan kota sering kali dibentuk oleh hasrat dan kekerasan yang disangkal.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi terasa dingin, suram, dan mencekam, dengan ketegangan erotik dan kekerasan yang berkelindan. Ada nuansa mimpi buruk urban: setengah sadar, penuh bayang-bayang, dan sarat kecemasan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat atau pesan yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk menyadari bahwa kota bukan sekadar ruang fisik, melainkan tubuh hidup yang menyimpan sejarah, luka, dan tanggung jawab moral. Mengabaikan ingatan dan kemanusiaan di dalamnya hanya akan membuat manusia berjalan seperti “pejalan tidur”: bergerak, tetapi kehilangan kesadaran.
Puisi “Jula-juli Pejalan Tidur” karya Arif Bagus Prasetyo adalah puisi urban yang kompleks dan menggugah yang menelusuri Surabaya sebagai tubuh sejarah yang berdenyut dalam mimpi-mimpi gelap, hasrat, dan trauma. Puisi ini mengajak pembaca untuk terjaga—tidak sekadar berjalan—di tengah kota dan ingatan yang terus bergerak, cair, dan rawan dilupakan.