Puisi: Jula-juli Pejalan Tidur (Karya Arif Bagus Prasetyo)

Puisi “Jula-juli Pejalan Tidur” karya Arif Bagus Prasetyo bercerita tentang perjalanan malam dua sosok di ruang kota yang dingin, sakit, dan nyaris ..
Jula-juli Pejalan Tidur
(- Surabaya, suatu masa)

Takkan kuputar sumbu tubuhmu
menyusuri jejak hangus kata-kata
yang tercecer sepanjang jam dan bulevar.

Aspal menggigil oleh influenza.
Plaza dan bank perlahan hilang.
Hilang, tenggelam dalam balsam.

Dingin mengasah lembing-lembingnya di udara.
Dingin berdenting. Udara merinding
Terkepung gaung dan bayang-bayang.

Kau terbaring di sisiku. Legam dan berkilauan.
Sungai telanjang pada ranjang keemasannya.
Di tepi sungai, sebuah ponten nyaris meluap.

Beberapa sejoli masyuk memarkir motor di kegelapan.
Serombongan laki-laki terhuyung masuk ke tenda rombeng.
Dengus mereka masih membekaskan panas di tengkukmu.

Menyentuhmu, terpesona ahli nujum kakilima
Gairahku membangun taman air mancur
dengan peri pelacurnya yang sehijau hujan pagi.

Di tepi taman, panglima perang dari perunggu
memandang dingin ke batalyon kupu-kupu
yang bertahan di selatan. Mereka terjebak

di sepetak taman lain yang lebih gaib. Lebih aib.
Tempat tugu bambu runcing, totem kejantanan itu
tegak memancung batang lehernya sendiri.

Kau tergetar. Getah tubuhmu mulai tercurah.
Angin purbani menggulung bayang-bayang taman.
Gaung berkubang dalam kilang-kilang darah.

Sekujur sungai terserang kejang.
Dam dan bangkai kapal selam berebut bangkit dari delta
Menghantui etalase yang dahulu sal-sal seram rumah sakit.

Dari lunglai belulangmu, dari ringsek rerusukku
Fajar kembali memecahkan cangkang-cangkangnya.
Nama-nama terjulai oleng. Simpang kehilangan lonceng.

Jam terbuat dari air dan tak bisa dipercaya.

2002

Sumber: Memento (2009)

Analisis Puisi:

Puisi “Jula-juli Pejalan Tidur” menghadirkan lanskap kota Surabaya yang muram, sensual, dan penuh kegelisahan sejarah. Dengan bahasa yang rapat, metaforis, dan sering kali gelap, penyair memadukan tubuh, kota, dan ingatan kolektif dalam satu tarikan napas panjang. Judul “jula-juli”—yang merujuk pada tradisi lisan Jawa Timur—bertemu dengan citra modern kota: bulevar, bank, plaza, taman, hingga monumen. Pertemuan ini melahirkan puisi yang bergerak seperti orang berjalan sambil tidur: sadar namun tak sepenuhnya terjaga.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keterasingan manusia urban dan kegelisahan sejarah yang membayang di tubuh kota. Puisi juga mengangkat tema hasrat, kekerasan simbolik, dan ingatan kolektif yang tak pernah benar-benar selesai.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan malam dua sosok (“aku” dan “kau”) di ruang kota yang dingin, sakit, dan nyaris runtuh. Kota digambarkan seperti tubuh yang menggigil, terinfeksi, dan kehilangan orientasi waktu. Di sepanjang sungai, taman, tugu, dan sudut-sudut gelap kota, muncul potret kehidupan pinggiran: sejoli di kegelapan, laki-laki terhuyung di tenda rombeng, ahli nujum kaki lima, hingga simbol-simbol sejarah yang berdiri ambigu.

Relasi antara “aku” dan “kau” berjalan sejajar dengan relasi manusia–kota: intim, berbahaya, penuh gairah, sekaligus rapuh.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menunjukkan kritik terhadap kota yang dibangun di atas tumpukan sejarah kekerasan, hasrat, dan pelupaan. Tubuh “kau” dan tubuh kota saling menyerap luka; sungai, taman, dan monumen tidak netral, melainkan menyimpan trauma dan aib.

Waktu digambarkan tak bisa dipercaya—“jam terbuat dari air”—menyiratkan sejarah yang cair, mudah dimanipulasi, dan terus menghantui masa kini. Puisi ini juga menyiratkan bahwa identitas dan ingatan kota sering kali dibentuk oleh hasrat dan kekerasan yang disangkal.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa dingin, suram, dan mencekam, dengan ketegangan erotik dan kekerasan yang berkelindan. Ada nuansa mimpi buruk urban: setengah sadar, penuh bayang-bayang, dan sarat kecemasan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat atau pesan yang dapat ditangkap adalah ajakan untuk menyadari bahwa kota bukan sekadar ruang fisik, melainkan tubuh hidup yang menyimpan sejarah, luka, dan tanggung jawab moral. Mengabaikan ingatan dan kemanusiaan di dalamnya hanya akan membuat manusia berjalan seperti “pejalan tidur”: bergerak, tetapi kehilangan kesadaran.

Puisi “Jula-juli Pejalan Tidur” karya Arif Bagus Prasetyo adalah puisi urban yang kompleks dan menggugah yang menelusuri Surabaya sebagai tubuh sejarah yang berdenyut dalam mimpi-mimpi gelap, hasrat, dan trauma. Puisi ini mengajak pembaca untuk terjaga—tidak sekadar berjalan—di tengah kota dan ingatan yang terus bergerak, cair, dan rawan dilupakan.

Arif Bagus Prasetyo
Puisi: Jula-juli Pejalan Tidur
Karya: Arif Bagus Prasetyo
© Sepenuhnya. All rights reserved.