Puisi: Kalender (Karya Mahdi Idris)

Puisi “Kalender” karya Mahdi Idris bercerita tentang seseorang yang bertatapan dengan kalender tua di ruang tamu selama lebih dari tiga windu.
Kalender

Aku dan kalender tua yang tergantung
di dinding ruang tamu
bertatapan lebih tiga windu

Satu persatu tanggal itu pergi
meninggalkan kesamaran hidup
antara kenyataan dan mimpi,
adalah keresahan yang dalam.

Aku dan kalender tua itu
bertamasya lewat lubang ingatan
lebih separuh usia
membentangkannya dalam secangkir kopi pagi.

Keureutou, 2010

Analisis Puisi:

Puisi “Kalender” karya Mahdi Idris menghadirkan refleksi sederhana namun mendalam tentang waktu dan ingatan. Melalui simbol kalender tua yang tergantung di dinding, penyair menautkan perjalanan usia dengan perenungan batin. Kalender bukan lagi sekadar penanda tanggal, melainkan saksi bisu perjalanan hidup.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan waktu dan perenungan atas usia yang terus berjalan. Puisi mengangkat hubungan manusia dengan waktu yang tidak dapat dihentikan, hanya dapat dikenang dan direnungkan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang bertatapan dengan kalender tua di ruang tamu selama lebih dari tiga windu. Satu demi satu tanggal berlalu, meninggalkan kesamaran antara kenyataan dan mimpi. Penyair kemudian “bertamasya” bersama kalender itu melalui lubang ingatan, membentangkan lebih separuh usia dalam momen sederhana—secangkir kopi pagi.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini menunjukkan bahwa waktu tidak hanya bergerak secara fisik melalui tanggal-tanggal yang berganti, tetapi juga membentuk ingatan dan identitas manusia. Kalender tua menjadi simbol kesetiaan waktu sebagai saksi perjalanan hidup. Kesamaran antara kenyataan dan mimpi menyiratkan bahwa semakin panjang usia, semakin kabur pula batas antara yang telah terjadi dan yang hanya diangan-angankan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa hening, reflektif, dan sedikit melankolis. Ada ketenangan pagi yang bersahaja, namun juga rasa resah yang dalam saat menyadari usia yang telah terlewati.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan pesan agar manusia lebih menghargai waktu dan perjalanan hidupnya. Setiap tanggal yang berlalu membawa makna, dan setiap ingatan adalah bagian dari pembentukan diri. Kesadaran akan waktu seharusnya membuat manusia lebih bijaksana dalam menjalani hari-hari berikutnya.

Puisi “Kalender” karya Mahdi Idris adalah refleksi puitik tentang waktu, usia, dan ingatan. Dengan bahasa yang sederhana dan simbol yang kuat, puisi ini mengajak pembaca merenungkan perjalanan hidupnya sendiri—menyadari bahwa setiap lembar kalender yang terlepas adalah bagian dari kisah panjang yang tak mungkin terulang kembali.

Mahdi Idris
Puisi: Kalender
Karya: Mahdi Idris
© Sepenuhnya. All rights reserved.