Puisi: Kampung Asal dan Ceritanya (Karya Sugiarta Sriwibawa)

Puisi “Kampung Asal dan Ceritanya” karya Sugiarta Sriwibawa menghadirkan nuansa nostalgia yang kuat, mengajak pembaca merenungkan hubungan antara ...
Kampung Asal dan Ceritanya

tamasya di jendela terbuka ini
menggema suaraku penuh diri
langit melengkung biru senja muda
dan cadar samar yang jauh tak membelai
pada pertemuan di ambang pintu
hati dan harapan yang sudah

inilah kehabisan
pelaksanaan isi dan cerita
kita punya yang mengembara di balik gunung
dalam panggilan yang akan datang tak berakhir umur

ingatkan daku pada ketabahan remaja
hati yang jatuh dalam butir-butir mutiara impian pagi
harapan yang kaualasi dengan sutera kanakmu
yang kau berikan daku di tahun mula
dan kita tandai sendiri keinginan:

kelak dikalungkan pada dada yang putih
suci penuh dan sudah dewasa

bukakan jendela
tamasya gunung itu yang membayang di suasana
juga kelambu yang kau renda putih
adakah pernah kaulepas tika daku
di samar sore meninjau wajahmu
bercerita sendiri tentang aku yang mengembara

ceritakan penuh sendiri untukku
pertemuan asal di ambang pintu dan harapan
yang akan datang yang sudah kini

Sumber: Majalah Siasat (31 Mei 1953)

Analisis Puisi:

Puisi “Kampung Asal dan Ceritanya” karya Sugiarta Sriwibawa menghadirkan nuansa nostalgia yang kuat, mengajak pembaca merenungkan hubungan antara masa lalu, memori kampung asal, dan harapan yang terus menyertai perjalanan hidup. Dengan bahasa yang puitis dan reflektif, penulis menekankan pentingnya kenangan, rasa rindu, dan pengalaman yang membentuk identitas seseorang.

Tema

Tema puisi ini adalah nostalgia, kenangan masa kecil, dan ikatan batin dengan kampung asal yang membentuk perjalanan hidup dan harapan masa depan.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman pribadi dan kenangan penulis di kampung asalnya. Cerita tersirat tentang masa muda, harapan, dan impian yang pernah ada, serta refleksi akan perjalanan hidup yang telah mengembara, meninggalkan bekas pada hati dan identitas diri. Penulis menghadirkan pengalaman masa lalu melalui simbol-simbol seperti jendela terbuka, langit biru, gunung, dan kelambu putih.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini menekankan pentingnya memelihara kenangan dan sejarah pribadi sebagai bagian dari pembentukan karakter dan identitas. Kampung asal bukan sekadar tempat fisik, melainkan simbol akar kehidupan, ketabahan, dan harapan yang terus menuntun meski waktu telah mengubah banyak hal.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi terasa hangat, penuh kerinduan dan introspektif. Ada perpaduan antara keheningan nostalgia dan rasa optimisme, di mana kenangan masa lalu berinteraksi dengan harapan masa depan. Pembaca dapat merasakan kedamaian sekaligus sedikit kesedihan saat mengenang masa muda dan kampung yang jauh.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji visual dan simbolis:
  • Visual: “langit melengkung biru senja muda”, “kelambu yang kau renda putih”, “tamasya gunung itu yang membayang” menghadirkan gambaran alam yang indah dan menenangkan.
  • Simbolik: “butir-butir mutiara impian pagi” melambangkan harapan, impian, dan nilai-nilai murni yang tersimpan dalam ingatan masa kecil.

Majas

Beberapa majas yang terlihat dalam puisi ini:
  • Metafora, misalnya “butir-butir mutiara impian pagi” untuk menggambarkan harapan dan cita-cita.
  • Personifikasi, seperti “cadar samar yang jauh tak membelai” yang memberi kehidupan pada elemen-elemen alam atau kenangan.
Puisi “Kampung Asal dan Ceritanya” menghadirkan refleksi mendalam tentang identitas dan perjalanan hidup. Sugiarta Sriwibawa menekankan bagaimana kenangan kampung asal dan pengalaman masa lalu membentuk harapan, ketabahan, dan pandangan hidup. Puisi ini berhasil memadukan nostalgia, imaji alam, dan simbolisme untuk menghadirkan pengalaman yang universal namun personal, membuat pembaca dapat merenungi akar dan perjalanan hidup mereka sendiri.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Kampung Asal dan Ceritanya
Karya: Sugiarta Sriwibawa

Biodata Sugiarta Sriwibawa:
  • Sugiarta Sriwibawa lahir di Surakarta, pada tanggal 31 Maret 1932.
© Sepenuhnya. All rights reserved.